Mahasiswa Soroti Lambannya Penanganan Banjir Hidrometeorologi di Aceh Jelang Ramadhan

BANDA ACEH – Pemulihan pascabencana banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dinilai masih berjalan lambat. Kritik tersebut disampaikan Presiden Mahasiswa Universitas Al Washliyah Darussalam (UNADA) Banda Aceh dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Washliyah Banda Aceh, Ali Hasyimi, yang mempertanyakan langkah strategis Pemerintah Aceh dalam menangani dampak bencana yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Menurutnya, hingga memasuki hari ke-81 sejak bencana melanda, kondisi di lapangan masih jauh dari kata pulih. Ia menilai belum terlihat perubahan signifikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak.
“Bencana hidrometeorologi ini sudah hampir tiga bulan melanda Aceh, namun realita di lapangan belum menunjukkan perubahan yang berarti. Masyarakat masih hidup dalam kekhawatiran, terutama ketika hujan kembali turun,” ujarnya, Senin (16/2).
Mahasiswa Turut Terlibat dalam Pemulihan
Ali Hasyimi menjelaskan bahwa dirinya bersama mahasiswa UNADA dan STAI Banda Aceh turut terlibat langsung dalam kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Recovery yang berlangsung pada 28 Januari hingga 14 Februari 2026 di Kabupaten Pidie Jaya.
Sebanyak 115 mahasiswa diterjunkan ke sejumlah desa di Kecamatan Meurah Dua, yakni Gampong Meunasah Mancang, Gampong Dayah Husen, dan Gampong Blang. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa membantu masyarakat melalui berbagai aktivitas sosial dan pemulihan pascabencana.
“Kami hadir bukan hanya untuk mengkritik, tetapi juga ikut membantu masyarakat sesuai kapasitas kami sebagai mahasiswa. Ini bentuk kepedulian dan pengabdian agar Aceh segera pulih,” katanya.
Soroti Minimnya Langkah Strategis Pemerintah
Ia menilai pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah belum menyampaikan langkah strategis yang jelas kepada publik terkait penanganan bencana. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat masyarakat masih diliputi trauma dan ketidakpastian.
Ali Hasyimi menilai pemerintah seharusnya lebih terbuka dalam menyampaikan rencana penanganan serta solusi jangka panjang, terutama menjelang bulan suci Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.
“Masyarakat membutuhkan kepastian dan rasa aman. Pemerintah harus hadir memberikan harapan, bukan justru terkesan abai terhadap kondisi yang terjadi,” ujarnya.
Infrastruktur Drainase Jadi Keluhan Warga
Kondisi di lapangan, lanjutnya, menunjukkan masih adanya persoalan mendasar seperti buruknya sistem drainase. Di Kecamatan Meurah Dua, khususnya Gampong Meunasah Mancang dan Gampong Dayah Husen, genangan air kerap terjadi saat hujan deras karena tidak tersedianya saluran pembuangan air yang memadai.
Akibatnya, akses jalan warga terganggu. Bahkan, genangan di kawasan Jalan Pante Beureune disebut dapat mencapai setinggi lutut orang dewasa ketika hujan lebat turun.
Pada Sabtu malam (14/2), banjir kembali terjadi di dua gampong tersebut, yang menurut warga semakin menambah trauma masyarakat terdampak.
Desak Pemerintah Lebih Proaktif
Ali Hasyimi juga mendorong Pemerintah Aceh agar lebih proaktif dalam mempercepat pemulihan serta memastikan tata kelola penanganan bencana berjalan transparan dan akuntabel.
Ia meminta pemerintah mengambil langkah tegas apabila ditemukan penyalahgunaan dana bantuan bencana oleh oknum tertentu.
“Kami berharap pemerintah segera mengambil kebijakan konkret dan memastikan penanganan bencana berjalan serius, transparan, serta benar-benar berpihak kepada masyarakat,” tutupnya.