Habib Rizieq: Jangan Mudah Mengkafirkan, Bela Iran Bukan Berarti Syiah

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Pimpinan Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), mengingatkan umat Islam agar tidak mudah mengkafirkan kelompok lain, termasuk terhadap Iran yang tengah dikeroyok AS-’Israel’.“Jangan mau sembarangan kita mengkafirkan orang. Kalau ada ajaran yang kita anggap keliru, silakan diluruskan. Tapi jangan mengkafirkan mereka,” kata Rizieq dalam sebuah ceramahnya dikutip kanal Qolbu Aswaja, Rabu (4/3/2026).

HRS juga menegaskan bahwa perbedaan mazhab tidak serta-merta menjadi dasar untuk mudah menjatuhkan seseorang dalam vonis kafir.

Ia menjelaskan, dalam khazanah pemikiran ulama Ahlussunah, kerja sama dengan kelompok berbeda mazhab dimungkinkan dalam konteks tertentu, termasuk dalam menghadapi musuh bersama.

HRS merujuk pandangan sejumlah ulama klasik, termasuk Ibnu Taimiyah, yang menurutnya justru membolehkan kolaborasi dengan pihak lain dalam peperangan melawan pihak yang dianggap memusuhi umat Islam.

“Kalau ada yang bilang membela Iran berarti jadi Syiah, itu keliru. Membela Iran (dalam kasus serangan AS dan ‘Israel’, red), bukan berarti kita Syiah,” ujarnya.

Lebih jauh HRS menyoroti dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina. Ia menyebut Iran memberikan bantuan senjata kepada para pejuang pembebasan Palestina, termasuk Hamas untuk kepentingan perjuangan melawan penjajah ‘Israel’, sesuatu yang bisa dimaklumi.

Meski dibantu Iran, tidak serta-merta Hamas berubah Syiah. Ia menegaskan bahwa Hamas tetap kelompok Sunni (Ahlus Sunnah). Karena itu, menurutnya, dukungan Iran terhadap Palestina tidak bisa serta-merta dipandang sebagai agenda sektarian.

HRS juga menanggapi tudingan yang menyebut Iran sebagai bangsa “Majusi” yang tidak layak didukung. Menurutnya, narasi-narasi seperti ini adalah cara berpikir yang keliru dan tidak kontekstual.

“Betul, nenek moyang Persia dulu penyembah api. Tapi nenek moyang Arab juga dulu penyembah berhala. Sekarang mereka sudah Islam. Tidak bisa sejarah masa lalu dijadikan alasan menolak mereka hari ini,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan sejarah Indonesia yang sebelum kedatangan Islam didominasi Hindu dan Buddha. Menurutnya, tidak tepat jika masa lalu tersebut dijadikan dasar untuk meragukan keislaman umat Islam Indonesia saat ini.

Lebih jauh HRS mengutip kisah sahabat Nabi, Salman Al-Farisi, yang berasal dari Persia. Ia mengingatkan bahwa latar belakang masa lalu seseorang tidak relevan setelah memeluk Islam. “Islam menghapus dosa masa lalu,” katanya.

Perlu diketahui, Salman adalah sahabat Nabi yang punya peran besar dalam Perang Khandaq dengan ide menggali parit untuk pertahanan Madinah. Ia juga disebut dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 62 sebagai simbol keimanan dari kalangan non-Arab.

Menutup ceramahnya, HRS menegaskan posisinya sebagai Muslim Sunni yang bermazhab Syafi’i dan berakidah Asy’ari. Ia menyatakan dirinya tidak akan mengkafirkan mazhab di luar Ahlussunah wal Jamaah selama tidak membawa ajaran yang secara jelas bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

“Kalau cuma perbedaan furu’ atau cabang akidah, mereka tetap saudara kita. Kalau kita anggap ada yang sesat, tunjukkan jalan yang benar, bukan langsung dikafirkan,” kata Rizieq.