China Pasang Badan Lindungi Pemimpin Baru Iran, AS–Israel Disemprot Keras

Pemimpin tertinggi Iran baru, Mojtaba Khamenei (kiri), Presiden China, Xi Jin Ping (kanan). FOTO/Kolase. Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BEIJING — Pemerintah China secara terbuka membela pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, sekaligus melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat dan Israel yang disebut terus meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Beijing di tengah memanasnya konflik setelah serangan militer AS–Israel yang menewaskan pemimpin Iran sebelumnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran merupakan urusan internal negara tersebut dan tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan intervensi ataupun serangan.

Beijing juga menentang segala upaya yang menargetkan pemimpin baru Iran tersebut.

China menilai tindakan militer terhadap Iran, termasuk ancaman terhadap pemimpin baru negara itu, hanya akan memperburuk situasi kawasan dan memperbesar risiko konflik yang lebih luas.

Pemerintah China menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara sesuai prinsip hukum internasional.

Pernyataan tegas Beijing muncul setelah Israel memperingatkan bahwa pihaknya akan mengejar siapa pun yang menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran.

Ancaman itu disampaikan setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Pasca kematian Ali Khamenei, Iran kemudian memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut pada (8/3/2026).

Keputusan itu diambil melalui mekanisme internal negara dan mendapat dukungan dari elite politik serta militer Iran.

Di tengah perkembangan tersebut, konflik antara Iran dengan koalisi AS–Israel masih terus berlangsung.

Serangan balasan Iran berupa rudal dan drone dilaporkan menyasar berbagai target yang terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.

China pun kembali menyerukan agar seluruh pihak menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna meredakan konflik.

Beijing menilai eskalasi militer tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memicu dampak global yang lebih luas, termasuk terhadap keamanan dan ekonomi internasional.

Situasi geopolitik di Timur Tengah kini menjadi sorotan dunia setelah konflik terbaru antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran akan pecahnya perang yang lebih besar di kawasan tersebut.(*)