Hangatnya Silaturahmi dan Khidmatnya Shalat Idul Fitri di Singapura

SINGAPURA — Pepatah Aceh “jeoh ta jak, lee peu takalon” seakan menemukan maknanya yang paling dalam. Jarak yang jauh justru mempertemukan banyak pengalaman berharga. Itulah yang dirasakan Syamsul Bahri Ys, MA, dosen senior FKIP USK (purna tugas), saat mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H bertepatan Sabtu 21 Maret 2026 di Singapura bersama keluarga Melayu setempat.
Pengalaman sangat berkesan tersebut dia bagikan untuk pembaca budiman Harian Aceh Indonesia (HAI).
Syamsul Bahri menuturkan, “ikatan persaudaraan ini bukanlah hal baru.” Hubungan tersebut telah terjalin sejak tahun 1987, ketika Syamsul Bahri mengikuti program pertukaran pemuda antarbangsa yang mengunjungi negara-negara ASEAN hingga Jepang menggunakan kapal pesiar. Dalam program itu, setiap peserta mendapatkan keluarga angkat di negara tujuan, termasuk di Singapura. Hubungan yang terjalin puluhan tahun silam itu tetap terjaga hingga kini.
Menutup Ramadan tahun ini, ia kembali mengunjungi keluarga angkatnya dan merayakan Idul Fitri bersama mereka. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat menunaikan Shalat Idul Fitri di Masjid Sultan, salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Singapura.
Sebelum khutbah dimulai, panitia menyampaikan sejarah singkat masjid tersebut. Masjid Sultan berdiri sejak tahun 1819 dan terus berkembang hingga kini. Pada tahun 1937, masjid ini menjadi yang pertama di Singapura menggunakan pengeras suara, sehingga azan dapat terdengar hingga ke lingkungan sekitar.
Masjid Bersejarah
Masjid bersejarah yang dibangun oleh Sultan Hussein Shah, sultan pertama di Singapura, kini menjadi simbol kesemarakan keimanan Muslim, dan menjadi bagian penting bagi komunitas Melayu di Singapura.
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri diatur dalam dua sesi, yakni pukul menggunakan bahasa Melayu dan pukul menggunakan bahasa Inggris. Syamsul Bahri mengikuti sesi pertama. Meski tiba sekitar pukul dan mendapati jamaah sudah memadati masjid, ia tetap berusaha masuk. Panitia kemudian mengarahkan jamaah untuk berdiri dan mengisi ruang kosong sehingga seluruh saf terisi rapi.
Menariknya, dua saf terdepan sempat dikosongkan untuk tamu VIP, seperti pengurus masjid dan pejabat. Namun, lima menit sebelum shalat dimulai, panitia kembali mengumumkan agar jamaah mengisi saf tersebut, sehingga saat takbir berkumandang, seluruh barisan sudah penuh dan tertata.
Shalat Idul Fitri dimulai tepat waktu dengan imam dari kalangan Melayu. Khutbah disampaikan oleh Nazaruddin bin Mohd. Nasir dengan tema “Kehidupan Dunia sebagai Ujian bagi Manusia.” Dalam khutbahnya, ia menekankan indahnya kehidupan beragama di Singapura serta pentingnya menjaga silaturahmi antarumat beragama.
Bahasa Melayu yang digunakan dalam khutbah terasa akrab dan mudah dipahami oleh jamaah asal Indonesia. Bagi jamaah yang kurang memahami, panitia menyediakan layar monitor berisi terjemahan bahasa Inggris di beberapa sudut masjid. Pada khutbah kedua, khatib juga menggunakan bahasa Inggris. Di sela khutbah, petugas tampak berkeliling membawa tas sedekah kepada jamaah.
Usai doa penutup, jamaah sesi pertama mulai keluar, sementara jamaah sesi kedua sudah menunggu di luar. Kondisi ini sempat menimbulkan kepadatan di pintu masjid. Menariknya, mayoritas jamaah yang hadir bukan hanya dari kalangan Melayu, tetapi juga didominasi oleh warga asal India dan Bangladesh. Sementara itu, masyarakat Melayu Singapura umumnya melaksanakan shalat di masjid atau aula serbaguna di sekitar tempat tinggal mereka.
“Suasana Lebaran di Singapura ternyata tak jauh berbeda dengan di Aceh. Tradisi kuliner tetap menjadi bagian penting. Rumah-rumah warga Melayu menyajikan lontong dan rendang sebagai hidangan utama. Aneka kue khas Lebaran pun tersaji, beberapa di antaranya sangat mirip dengan kue tradisional Aceh seperti bhoi, keukarah, dan kue seupet,” ujarnya.
Bagi Syamsul Bahri, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan, melainkan pertemuan kembali dengan nilai-nilai persaudaraan lintas negara yang telah terjalin lama. Sebuah bukti bahwa silaturahmi mampu melampaui batas geografis dan waktu.[]