PT NasDem Indonesia Raya Tbk: Senjakala Partai Personal di Panggung Demokrasi Korporat

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

JAUH sebelum fenomena “partai tokoh” merebak pasca-Reformasi di Indonesia, ilmuwan politik terkemuka asal Italia, Norberto Bobbio((Bobbio, N. (1987). Which Socialism? Marxism, Socialism and Democracy.)), sudah memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten partai politik yang menggantungkan seluruh napas hidupnya pada sosok individu.

Dalam berbagai tesisnya, Bobbio mengkritik pergeseran sistem partai tradisional—yang dulunya didorong oleh ideologi yang mengakar kuat pada basis massa—menjadi faksionalisme yang berpusat pada kepentingan pribadi atau korporasi.

Bagi Bobbio, kemunculan “partai personal” adalah lonceng kematian bagi etos demokrasi.

Di sana, entitas politik tidak lagi bergerak berdasarkan platform kolektif, apalagi basis sosial yang organik.

Tidak ada meritokrasi dalam kaderisasi; yang ada hanyalah loyalitas buta kepada figur tunggal.

Bobbio merujuk pada Forza Italia, partai yang didirikan oleh miliarder Silvio Berlusconi.

Partai ini dijalankan persis seperti sebuah perusahaan: bergantung pada sumber daya finansial pribadi dan popularitas sang taipan.

Sebagai pemilik raksasa media dan klub sepak bola AC Milan, Berlusconi menggunakan Forza sebagai mesin politik pribadi, memanfaatkan jejaring bisnisnya untuk mendaki puncak kekuasaan Italia pada 1994.

Kini, pola serupa nampaknya sedang mengalami ujian berat di tanah air, khususnya pada entitas politik yang kerap diasosiasikan dengan gaya kepemimpinan serupa: Partai NasDem.

Fenomena Partai Personal: Antara Ideologi dan Investasi

Di Indonesia, panggung politik pasca-Reformasi memang menjadi ladang subur bagi tumbuhnya partai-partai berbasis figur.

Sejarah mencatat bagaimana Partai Demokrat pernah merajai elektoral semata-mata karena daya tarik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Begitu pula dengan Partai Gerindra yang secara organik adalah perpanjangan tangan dari karisma dan ambisi Prabowo Subianto.

Namun, Partai NasDem di bawah kendali Surya Paloh menawarkan anomali yang menarik.

Berbeda dengan Perindo milik Hary Tanoesoedibjo yang secara eksplisit sering dikritik sebagai “partai televisi”, NasDem sejak awal mencoba membungkus dirinya dengan narasi “Gerakan Perubahan”.

Masalahnya, narasi tersebut tetap tidak mampu menutupi fakta bahwa struktur partai tersebut sangat bersifat sentralistik.

Dalam kacamata ekonomi-politik, banyak pengamat media mainstream seperti Kompas((Analisis Politik Kompas: “Masa Depan Partai Berbasis Figur di Indonesia”.)) dan Majalah Tempo((Liputan Khusus Majalah Tempo: “Guncangan di Markas Perubahan”.)) seringkali menggambarkan NasDem sebagai entitas yang dikelola dengan manajemen ala korporasi.

Surya Paloh, dengan latar belakang raja media (Media Group), membawa kultur top-down yang sangat kuat.

Keputusan-keputusan strategis partai—termasuk penentuan calon presiden—seringkali lahir dari “titah” sang ketua umum ketimbang mekanisme bottom-up yang demokratis.

NasDem dan Strategi “High Risk, High Return

Sejak didirikan, NasDem dikenal dengan strategi politik yang agresif. Mereka adalah partai pertama yang mendeklarasikan dukungan pada tokoh-tokoh populer jauh sebelum masa kampanye dimulai.

Ini adalah logika bisnis: First mover advantage. Pada 2014 dan 2019, investasi politik ini membuahkan hasil manis ketika mereka bergabung dalam gerbong pemenang Joko Widodo.

Namun, sebagaimana layaknya sebuah perusahaan, ketika pasar (elemen pemilih) berubah dan aset utama (figur pemimpin) mulai mengalami penurunan nilai kepercayaan, perusahaan tersebut akan goyah.

NasDem menghadapi tantangan ini ketika mereka mencoba melakukan “diversifikasi” dukungan politik yang dianggap berisiko tinggi oleh sebagian kalangan.

Media daring seperti Detikcom dan CNN Indonesia kerap menyoroti bagaimana NasDem mulai terseok ketika figur Surya Paloh tidak lagi dianggap sebagai “king maker” yang selaras dengan kekuasaan pusat.

Tekanan politik, kasus hukum yang menjerat sejumlah menteri dari kader mereka, hingga pergeseran persepsi publik membuat “saham” politik NasDem mengalami fluktuasi yang mengkhawatirkan.

Bahaya Laten Ketiadaan Meritokrasi

Salah satu poin krusial yang diangkat Mauro Calise dalam The Personal Party: The Two Bodies of the Leader((Calise, M. (2000). The Personal Party: The Two Bodies of the Leader.)) adalah bagaimana partai personal gagal membangun institusi yang berkelanjutan.

Karena berpusat pada satu individu, mekanisme kaderisasi berbasis meritokrasi menjadi mandek.

Di NasDem, meskipun mereka mengklaim memiliki sekolah partai dan sistem kaderisasi, publik tetap melihat bahwa posisi-posisi kunci ditentukan oleh kedekatan dengan lingkaran elit pusat.

Ini berbeda dengan partai ideologis masa lalu yang memiliki struktur akar rumput yang mampu melahirkan pemimpin secara alami.

Ketergantungan pada sosok Surya Paloh membuat NasDem menjadi sangat rapuh. Ketika sang tokoh menghadapi tantangan kesehatan atau tekanan politik, partai kehilangan orientasi.

Hal ini terbukti dalam beberapa kontestasi pilkada serentak, di mana keterpilihan kader NasDem sangat bergantung pada sejauh mana sang ketua umum mampu melakukan lobi-lobi tingkat tinggi, bukan pada kekuatan struktur di tingkat basis.

NasDem di Persimpangan Jalan

Mengutip liputan mendalam dari Republika dan Media Indonesia (yang ironisnya adalah bagian dari ekosistem Media Group), terlihat ada upaya untuk terus memoles citra NasDem sebagai partai yang inklusif.

Namun, kenyataan di lapangan seringkali berkata lain. Konflik internal yang kerap berujung pada pengunduran diri sejumlah tokoh potensial menunjukkan bahwa “manajemen perusahaan” politik ini tidak selalu cocok bagi semua orang.

Partai personal seperti NasDem juga seringkali terjebak dalam “biaya operasional politik” yang sangat mahal. Tanpa basis massa ideologis yang rela berkorban secara sukarela, partai harus mengandalkan logistik yang besar untuk menggerakkan mesinnya.

Dalam jangka panjang, model ini tidak berkelanjutan (unsustainable), terutama jika aliran sumber daya terhambat oleh hambatan-hambatan politik maupun hukum.

Menuju Demokrasi yang Lebih Institusional

Apa yang diperingatkan Bobbio kini menjadi kenyataan pahit di Indonesia.

Partai politik seharusnya adalah pilar demokrasi yang memperjuangkan kepentingan publik, bukan sekadar kendaraan bagi pemilik modal atau tokoh populer untuk mengamankan kepentingannya.

Istilah “PT NasDem Indonesia Raya Tbk” mungkin terdengar satir, namun ia menangkap esensi dari kegelisahan publik: bahwa partai politik kita telah bertransformasi menjadi korporasi politik yang mengejar keuntungan elektoral jangka pendek.

Jika NasDem ingin bertahan melampaui era Surya Paloh, mereka harus berani melakukan de-personalisasi. Mereka harus bertransformasi dari sebuah “perusahaan pribadi” menjadi institusi publik yang transparan, demokratis, dan berbasis pada ideologi yang jelas.

Jika tidak, sebagaimana Forza Italia yang meredup pasca kejayaan Berlusconi, NasDem berisiko menjadi catatan kaki dalam sejarah demokrasi Indonesia—sebuah eksperimen politik yang gagal karena terlalu bergantung pada satu nyawa, satu suara, dan satu dompet individu.

Demokrasi yang sehat membutuhkan partai yang hidup dalam rakyat, bukan partai yang hanya hidup di dalam pikiran dan kekayaan seorang pemimpin tunggal.[]