Beut Panteu Keude Leukeun, Tradisi Ngaji di Warung Kopi

MEULABOH — Kegiatan Beut Panteu Keude di Aceh Barat kian populer, kali ini berlangsung di Warung UD. Aris, Gampong Leukeun, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Rabu malam, (12/08/26).
Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin sebulan sekali dan diinisiasi oleh pemuda Kecamatan Samatiga.
Kegiatan dihadiri, Dr. H. Tgk. Khairul Azhar, ., M.A. Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Barat; Dr. Ir. Fitriadi, ST., MT., IPM., Kepala Pusat KKN dan MBKM Universitas Teuku Umar yang hadir mewakili Rektor Universitas Teuku Umar; Ustadz H. Kamil Syafruddin, Lc., Kepala KUA Kecamatan Samatiga.
Iptu Ade Haidir, Kapolsek Samatiga; Tgk. Miswardi, ., .; Tgk. H. T. Burhanuddin selaku Tokoh Agama; Adwina Pakeh; H. Nasai Alhamidi; Tgk. Suandi, .; serta Keuchik dalam Kecamatan Samatiga.
Dalam sambutannya, Keuchik Gampong Leukeun, Kamaruzzaman, menyampaikan rasa bangga karena Beut Panteu Keude pada bulan Agustus ini dapat dilaksanakan di Gampong Leukeun.
Ia menyampaikan selamat datang kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Barat, perwakilan Universitas Teuku Umar, Kepala KUA Kecamatan Samatiga, Kapolsek Samatiga, para tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh tamu undangan yang hadir.
Kamaruzzaman juga memberikan apresiasi kepada pemuda dan mahasiswa KKN yang telah ikut bekerja membantu mempersiapkan kegiatan di sela-sela kesibukan masing-masing.
Menurutnya, keterlibatan mereka dalam mempersiapkan kegiatan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Beut Panteu Keude.
Sementara itu, Dr. H. Tgk. Khairul Azhar, ., M.A., selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Barat, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang diinisiasi oleh generasi muda tersebut.
Ia berharap Beut Panteu Keude dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam membangun generasi yang memiliki ketahanan di tengah arus digitalisasi.
“Beut Panteu Keude adalah sebuah usaha untuk membentuk generasi muda yang islami, yang peduli terhadap budaya dan agama,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan yang masih tergolong baru ini ke depan dapat berkembang menjadi sebuah wadah atau organisasi yang mampu menjalankan program secara rutin dan lebih terorganisir.
Dr. Ir. Fitriadi, ST., MT., IPM., Kepala Pusat KKN dan MBKM Universitas Teuku Umar, hadir mewakili Rektor Universitas Teuku Umar yang berhalangan hadir dikarenakan kesibukan kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru yang berjumlah sekitar orang.
Dalam sambutannya, Fitriadi menyampaikan salam hormat dari Rektor Universitas Teuku Umar terima kasih kepada Pemerintah Gampong Leukeun yang telah menyambut baik mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian di Kecamatan Samatiga, khususnya di Gampong Leukeun
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan Beut Panteu Keude yang dinilai menjadi salah satu kegiatan positif di tengah tantangan perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Menurut Fitriadi, perkembangan teknologi dan digitalisasi juga dapat berpengaruh terhadap degradasi moral. Karena itu, kegiatan yang menghadirkan ruang belajar dan penguatan nilai keagamaan seperti Beut Panteu Keude dinilai penting untuk terus didukung.
Memasuki sesi pengajian, Tgk. Miswardi, ., . selaku pemateri utama, menyampaikan tentang bab bersuci.
Pengajian berlangsung dengan metode ceramah yang dipadukan dengan diskusi secara langsung. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan membahas persoalan keagamaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah mengenai mandi hadas besar atau mandi janabah. Tgk. Miswardi menjelaskan sejumlah hal yang sering keliru dipahami dalam praktik bersuci, termasuk persoalan niat ketika mandi hadas besar.
Pembahasan tersebut turut diperjelas oleh Tgk. H. T. Burhanuddin, yang menyampaikan bahwa fardhu mandi janabah ada tiga, yaitu niat, meratakan air ke seluruh tubuh, dan menghilangkan najis. Penjelasan tersebut disampaikan dengan merujuk pada Kitab I’anatut Thalibin.
Dalam pembahasan bersuci juga dijelaskan bahwa berwudhu sebelum mandi janabah merupakan sunnah, serta pentingnya memastikan tidak ada sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit.
Konsep Beut Panteu Keude menjadikan warung kopi sebagai ruang pengajian yang lebih terbuka dan interaktif. Ceramah dan diskusi berlangsung dalam suasana nonformal, memanfaatkan ruang yang selama ini memang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Beut Panteu Keude diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin setiap bulan sebagai ruang belajar dan diskusi keagamaan yang dekat dengan masyarakat, sekaligus menghidupkan kembali fungsi warung kopi sebagai ruang bertukar pikiran secara positif.[]
Editor : Biro Meulaboh.