Daftar Tsunami Akibat Gempa NTT: Ketinggian 14 Cm hingga Nyaris 1 Meter

BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gelombang tsunami tiba di 10 titik pesisir setelah gempa bermagnitudo (M) 7,7 mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).Berdasarkan siaran pers BMKG, gelombang tsunami pertama tercatat di Sikka dengan ketinggian 0,20 meter atau sama dengan 20 cm pada pukul WIB.
Gelombang kemudian tercatat di Pelabuhan Kewapante, Sikka, dengan ketinggian 0,38 meter atau 38 cm pada pukul WIB.
“Flores Timur, ketinggian 0,25 meter (pukul WIB); Labuan Bajo, ketinggian 0,36 meter (pukul WIB),” bunyi keterangan BMKG dikutip Sabtu.
Gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, dengan ketinggian 0,94 meter atau nyaris 1 meter pada pukul WIB.
Setelah itu, tsunami tercatat di Dompu dengan ketinggian 0,17 meter pada pukul WIB dan Bakalang, Alor, setinggi 0,14 meter atau 14 cm pada pukul WIB.
Gelombang juga tercatat di Baubau dengan ketinggian 0,30 meter pada pukul WIB, Bulukumba setinggi 0,54 meter pada pukul WIB, serta Kolaka setinggi 0,23 meter pada pukul WIB.
Dipicu sesar lempeng bumi yang naik
BMKG melaporkan, gempa tersebut dipicu aktivitas sesar lempeng bumi yang naik atau thrust fault yang menyebabkan guncangan kuat dan memicu tsunami.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan, gempa dangkal dengan kedalaman 15 kilometer itu bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Hasil pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, atau sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, hingga pukul WIB, BMKG mencatat 37 gempa bumi susulan dengan magnitudo 3,6 hingga 6,2.
Dari jumlah tersebut, satu gempa dirasakan oleh masyarakat.
“Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M 7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” pungkas Wijayanto.