Geger Pengakuan Gus Lilur Ungkap Skandal Muktamar NU, Ada Uang Rp480 M dari Nusron dan Gus Ipul

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

BANDA ACEH – Sebuah skandal mencuat di tengah gempita Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Aroma tak sedap mulai tercium setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Bogor terkait dugaan korupsi dalam kasus pertanahan Hak Guna Bangunan (HGB).

Kini, sorotan tajam mengarah pada sejumlah nama besar, dengan dugaan aliran dana dari kasus tersebut ikut menyuburkan arena Muktamar.

​Kiai Kampung NU yang juga pegiat antikorupsi, HRM Khalilurrahman Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa Gus Lilur, buka suara dengan sangat lantang.

Melalui perbincangan mendalam di podcast Madilog, Selasa (22/9/2026), Gus Lilur membeberkan cerita kelam di balik meriahnya perhelatan akbar NU itu.

​”Ada dua mobil Land Cruiser yang berangkat dari selatan Jakarta membawa uang kira-kira Rp480 miliar ke Jombang,” ujar Gus Lilur dengan tenang namun penuh keyakinan.

Ia menyebut bahwa informasi ini didapatkannya saat bertukar informasi dengan penyidik internal KPK dalam sebuah pertemuan di kawasan Kuningan, Jakarta.

​’Copet’ Politik dan Dana Rp480 Miliar

​Dari manakah uang sebanyak itu berasal?

Menurut Gus Lilur, sumber pendanaan yang mengejutkan itu datang dari berbagai institusi, termasuk dugaan suntikan dana Rp180 miliar yang merupakan “kreasi” dari Nusron Wahid (NW), seorang figur politik terkemuka yang menjabat Menteri ATR/BPN sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.

​Lebih lanjut, Gus Lilur menyebut keterlibatan Gus Ipul (Saifullah Yusuf), yang bertindak sebagai ketua Organizing Committee (OC) di Muktamar, serta Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro.

Ketiganya diduga memanfaatkan NU sebagai kendaraan politik untuk melanggengkan kekuasaan mereka, sehingga mengkreasikan beredarnya uang Rp480 miliar di muktamar.

​”NU dijadikan tunggangan oleh Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf untuk kembali punya jabatan di NU guna melestarikan jabatan dia di kabinet,” jelas Gus Lilur.

Ia tak segan menyebut operasi ini sebagai “Operasi Duit” (OD), di mana tas-tas hitam berisi uang dolar dan miliaran rupiah diduga kuat beredar luas di arena Muktamar, ditawarkan sebagai alat untuk membeli suara dari pengurus PCNU dan PWNU.

​Ketegasan Kiai dan Tuntutan Pembersihan

​Namun, di tengah dugaan badai suap yang menerjang, masih ada secercah harapan dari kiai-kiai sepuh NU yang memegang teguh integritas.

Gus Lilur menceritakan bahwa Kiai Afifuddin Muhajir, seorang ahli ushul fikih terpandang dari Situbondo, mengembalikan uang sebesar US$ dan Rp1 miliar yang diterimanya, hanya seminggu setelah Muktamar usai—bahkan sebelum KPK menggelar OTT.

“Kiai Afifuddin Muhajir ini lugu, alim, tapi polos. Jadi dipolitiking beliau enggak akan tahu,” bela Gus Lilur.

​Gus Lilur, dengan suara yang bergetar menahan emosi serta berita air mata menuntut adanya pembersihan besar-besaran di tubuh NU.

“NU kita sakti, malati (membawa tulah). NU kita membawa kualat pada mereka yang bermain mengotori NU,” tegasnya.

Gus Lilur mengaku berduka karena hal ini.

“Karena guru-guru kita yang mengajarkan kita berakhlak, yang mengajarkan kita beradab, yang mengajarkan kita beretika, lalu dikotori oleh praktik-praktik suap yang bahkan suap yang digunakan untuk membeli suara itu bukan hasil kerja, tapi hasil ngerampok. dari pihak-pihak lain” papar Gus Lilur dengan mata berkaca-kaca.

Namun kesaktian NU katanua terbukti karena setelah 14 hari muktamar, mereka yang mengotori muktamar terciduk KPK dalam OTT.

“Mari kita berdoa. Bromocorah-bromocorah politik yang mengotori NU itu segera dipenjara. Itu pesanku yang pertama, Kang. Saya mohon maaf agak terbawa emosi,” ujar Gus Lilur ke pembawa acara.

Gus Lilur juga berpesan dengan keterangan yang diperlukan KPK.

“Saya berharap rekan-rekan penyidik ​​KPK berkenan untuk melakukan tabayun ke Kiai Afifuddin Muhajir yang diberikan uang US dar Rp1 miliar. Namun karena kekuasaan beliau 1 minggu kemudian sebelum terjadinya OTT, seminggu sebelum terjadinya OTT oleh KPK, Kiai Afifuddin Muhajir mengembalikan uang itu ke Sekjen PBNU Saifulah Yusuf,” katanya.

Sehingga Gus Lilur mempersilakan KPK memvalidasi info tersebut serta melakukan tabayyun.

“Saya percaya cucu dari mediator NU, Kiai Syamsul Arifin punya cucu Azaim Ibrahimi. Orangnya cerdas, adil, dan berintegritas. Saya yakin Azaim Ibrahimi akan memerintahkan Kiai Afifuddin Muhajir untuk berkata jujur,” paparnya.

Gus Lilur juga menyerukan kepada para kiai yang telah menerima uang haram tersebut untuk segera mengembalikannya kepada KPK, dan mendesak KPK untuk tidak gentar mengusut tuntas skandal ini, termasuk menetapkan Nusron Wahid sebagai tersangka.

Menurut Gus Lilur dari informasi dua rekannya, setelah OTT KPK kasus mafia tanah dan 4 orang kepercayaan Nusron Wahid ditangkap, Nusron mendatangi dua pimpinan institusi untuk meminta perlindungan.

“Nusron datang ke dua pimpinan institusi itu dan menangis mohon perlindungan. Saya enggak yakin dia diberikan jaminan,” paparnya.

Karena Gus Lilur yakin KPK tidak takut dengan Nusron Wahid.

“Dan saya yakin Presiden akan memposisikan hukum sebagai panglima. Saya mendukung KPK untuk menegakkan hukum seadil-adilnya,” ujarnya.

Gus Lilur juga menyinggung soal sila ke lima Pancasila.

“Saya yakin mereka yang pernah membaca itu atau hafal sila kelima Pancasila pasti yakin Nusron akan menjadi tersangka dan Nusron akan dipenjara,” kata Gus Lilur.