Jadi Tameng Rezim, Rocky Gerung Disebut Sekarang Satu Kolam dengan Qodari dan Ngabalin

Jadi Tameng Rezim, Rocky Gerung Disebut Sekarang Satu Kolam dengan Qodari dan Ngabalin

BANDA ACEH – Sosok akademisi dan intelektual publik, Rocky Gerung, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengkritik keras kemapanan kekuasaan, kini tengah menjadi sorotan tajam. Sikap kritisnya belakangan dinilai mulai tumpul dan bergeser haluan, khususnya saat merespons isu pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga polemik Gibran Rakabuming sikap yang drastis ini memantik reaksi dari pengamat kebijakan dan sosial Politik, Nandang Sutisna. Ia secara terang-terangan menyamakan fenomena manuver Rocky Gerung saat ini dengan figur-figur yang dikenal selalu menjadi tameng kekuasaan, seperti M. Qodari dan Ali Mochtar Ngabalin.

“Tidak pernah kita duga kalau ternyata tiga orang ini sama. Sejak Rocky Gerung menghadiri pelantikan sahabatnya, Jumhur Hidayat, sejak saat itu dia mengikuti jejak Qodari dan Ngabalin, sekarang Rocky satu kolam” ungkap Nandang menyoroti titik balik perubahan sang akademisi.

Nandang mengakui bahwa perubahan pandangan dari seorang intelektual adalah hal yang wajar. Dalam tradisi akademik, sebuah pandangan dapat berubah apabila terjadi pergeseran fakta, konteks, maupun argumentasi.

Namun, ketika perubahan tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa landasan argumen yang jelas, publik memiliki hak untuk mengujinya secara kritis.

Pertanyaan mendasar yang muncul saat ini, menurut Nandang, bukanlah sekadar kepada siapa Rocky berpihak. Lebih dari itu, publik mempertanyakan apakah standar ‘akal sehat’ yang bertahun-tahun ia gunakan untuk menelanjangi kekuasaan masa lalu masih berlaku sama untuk penguasa hari ini.

Jika hal yang dahulu dipersoalkan kini dimaklumi, dan yang dahulu ditertawakan kini dibela, maka kritik tersebut dinilai telah kehilangan maknanya karena bergerak mengikuti arah angin kekuasaan.

“Konsistensi bukan berarti mempertahankan pendapat selamanya. Yang lebih penting adalah kemampuan menjelaskan mengapa sebuah posisi berubah, bukti apa yang berubah, dan standar penilaian apa yang digunakan,” jelasnya.

Nandang mengingatkan bahwa akal sehat seharusnya tidak memiliki tuan, melainkan berdiri tegak di atas argumen ilmiah.

Apabila seorang intelektual tidak mampu memberikan dasar argumentatif atas perubahan sikapnya, hal tersebut memunculkan persepsi bahwa akal sehat telah digadaikan sebagai bayaran atas sebuah kesetiaan politik.