Sempat Dibantah Donald Trump, Kini Pejabat AS Akui Kondisi Kritis di USS Abraham Lincoln

BANDA ACEH — Delapan personel Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang tergabung dalam gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan mencoba bunuh diri selama pengerahan panjang yang membawa mereka ke operasi tempur di Timur Tengah.
Pengungkapan itu membuka kembali pertanyaan mengenai tekanan psikologis yang dialami ribuan personel setelah berbulan-bulan berada di laut dalam salah satu pengerahan kapal induk terpanjang AS sejak Perang Vietnam.
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengungkapkan angka tersebut melalui surat kepada Senator Demokrat Kirsten Gillibrand tertanggal Selasa (22/9/2026).
Cao mengatakan delapan kasus itu mencakup personel USS Abraham Lincoln, sayap udara kapal induk, staf gugus tempur dan skuadron kapal perusak, kapal-kapal perusak pengawal, hingga skuadron penerbangan yang ikut dalam pengerahan.
Tidak ada personel yang meninggal akibat percobaan tersebut. Namun, sedikitnya dua kasus memperlihatkan betapa seriusnya tekanan yang muncul selama pengerahan panjang itu.
Cao mengonfirmasi seorang personel dari sayap udara jatuh atau melompat ke laut pada awal Agustus.
Personel tersebut segera diselamatkan, mendapatkan penanganan medis di USS Abraham Lincoln, kemudian dipindahkan dari kapal untuk memperoleh perawatan lanjutan.
Kasus lainnya terjadi pada Maret. Seorang pelaut berusaha melompat ke laut, tetapi rekan-rekannya berhasil mencegah tindakan tersebut sebelum kemudian ia mendapatkan pertolongan medis dan dipulangkan ke pangkalan.
Pengungkapan delapan kasus tersebut menjadi signifikan karena muncul setelah berbulan-bulan laporan mengenai tekanan mental, persoalan logistik, dan rendahnya moral sebagian awak kapal.
USS Abraham Lincoln meninggalkan San Diego pada 21 November 2025 sebelum akhirnya dikerahkan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi tempur AS terkait perang dengan Iran.
Kapal induk kelas Nimitz tersebut bahkan melewati lebih dari 260 hari tanpa kunjungan pelabuhan terjadwal.
Ketika tiba di Guam pada 19 September, pengerahan USS Abraham Lincoln telah memasuki bulan ke-10 dan mencapai sekitar 304 hari, semakin mendekati rekor pengerahan kapal induk AS pasca-Perang Vietnam yang dicatat USS Gerald R. Ford selama 326 hari.
Bukan hanya lamanya waktu di laut yang menjadi persoalan. Intensitas operasi tempur membuat awak menghadapi kondisi yang berbeda dibandingkan pengerahan reguler, ketika kapal biasanya dapat singgah di pelabuhan sekutu untuk mengisi perbekalan sekaligus memberikan kesempatan istirahat kepada personel.
Seorang pejabat militer AS yang dikutip CNN menggambarkan delapan percobaan bunuh diri sebagai angka yang sangat tinggi.
Menurut pejabat tersebut, gugus tempur kapal induk dalam pengerahan terakhir biasanya mencatat satu atau dua kasus dalam setahun, sementara operasi tempur membawa tekanan lebih besar karena minimnya kunjungan pelabuhan dan kondisi siaga yang berlangsung terus-menerus.
Meski demikian, Angkatan Laut AS memberikan konteks berbeda. Seorang pejabat Angkatan Laut mengatakan kepada ABC News bahwa setiap percobaan bunuh diri diperlakukan secara serius, tetapi jumlah kasus tersebut dinilai tidak berada di luar pola yang dapat muncul dalam pengerahan panjang.
Data Pentagon juga memberikan gambaran yang lebih luas. Angkatan Laut AS mencatat 356 percobaan bunuh diri pada 2024 dari kekuatan aktif lebih dari 327 ribu personel, meskipun perbandingan langsung dengan gugus tempur Abraham Lincoln memiliki keterbatasan karena periode dan populasi yang dihitung berbeda.
Di tengah tekanan tersebut, kapal sebenarnya membawa sejumlah sumber daya kesehatan mental. Berdasarkan surat Cao, tersedia seorang psikolog, seorang pekerja sosial klinis, tiga teknisi kesehatan perilaku, seorang konselor pencegahan terintegrasi, lima pendeta militer, serta seekor anjing pendamping fasilitas ekspedisi.
Namun, keberadaan fasilitas itu tidak serta-merta menghilangkan persoalan akses. Navy Times sebelumnya melaporkan seorang pelaut yang bertugas di Abraham Lincoln mengatakan waktu tunggu untuk menemui tenaga kesehatan mental berlisensi dapat mencapai beberapa pekan.
Persoalan di atas kapal juga tidak hanya menyangkut kesehatan mental. Cao mengakui pernah terjadi masalah pada sistem perpipaan dan pilihan makanan sempat dikurangi dari dua menjadi satu ketika tempo operasi meningkat, meski ia menyatakan kedua persoalan tersebut kemudian telah diselesaikan.
Laporan mengenai kondisi awak sebelumnya memicu perdebatan di Washington. Presiden AS Donald Trump pada Agustus menepis kekhawatiran bahwa USS Abraham Lincoln telah terlalu lama dikerahkan, sedangkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan gambaran mengenai kondisi di kapal telah disalahrepresentasikan.
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper ketika itu juga mengatakan Abraham Lincoln termasuk kapal induk dengan jumlah kasus terkait kesehatan mental paling rendah di antara 11 kapal induk aktif Angkatan Laut AS.
Namun, Cooper sekaligus mengakui bahwa pengerahan panjang di laut merupakan kondisi yang berat dan setiap personel dapat memberikan respons berbeda terhadap tekanan.
Pengungkapan Cao kini membuat persoalan tersebut memasuki babak baru. Angkatan Laut AS tidak lagi hanya berhadapan dengan laporan anonim mengenai rendahnya moral awak, tetapi dengan angka resmi mengenai delapan percobaan bunuh diri sepanjang pengerahan.
Gillibrand, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat AS yang meminta penjelasan mengenai kondisi personel Abraham Lincoln, mengkritik keras respons pemerintahan Trump. Ia mengatakan kondisi yang sebelumnya diremehkan ternyata menyangkut persoalan serius yang dihadapi anggota militer AS.
“Bahwa pemerintahan ini dapat menemukan dana pembayar pajak yang seolah tidak terbatas untuk bom, ballroom, dan para miliarder, tetapi tidak mampu merawat anggota militer kita, benar-benar tidak dapat diterima,” kata Gillibrand.
Angkatan Laut AS sendiri mulai mengambil pelajaran dari pengerahan panjang tersebut. Menjelang pengerahan USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah, para pejabat tertinggi Angkatan Laut mengatakan mereka meningkatkan kapasitas penyimpanan makanan, produk kebersihan, dan perbekalan lain serta memberikan perhatian khusus terhadap persoalan kualitas hidup personel.
USS Abraham Lincoln telah meninggalkan kawasan Timur Tengah pada akhir Agustus dan posisinya digantikan USS George Washington.
Setelah singgah di Thailand dan kemudian Guam, gugus tempur Abraham Lincoln bergerak semakin dekat menuju pangkalannya di California, membawa pulang bukan hanya catatan operasi tempur panjang, tetapi juga persoalan mengenai batas ketahanan manusia di balik kekuatan sebuah kapal induk.
Angka Resmi Bicara
Sebelum angka delapan percobaan bunuh diri terungkap, laporan mengenai memburuknya kondisi psikologis awak USS Abraham Lincoln telah lebih dahulu memicu perdebatan di Washington.
Pada Agustus 2026, keluarga personel, anggota parlemen, dan media militer mulai mempertanyakan dampak pengerahan yang terus diperpanjang, termasuk persoalan kesehatan mental, pasokan kebutuhan dasar, air, sistem perpipaan, keselamatan dek, hingga keterlambatan surat dan paket bagi awak kapal.
Kekhawatiran itu menguat setelah muncul laporan mengenai personel yang mencoba melompat dari kapal. Senator Richard Blumenthal, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, kemudian meminta Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao menjelaskan kondisi di Abraham Lincoln serta alasan pengerahan kapal tersebut terus diperpanjang.
Respons dari lingkar pemerintahan Donald Trump ketika itu justru berusaha meredam gambaran mengenai krisis di kapal.
Donald Trump mengatakan pengerahan Abraham Lincoln “belum cukup lama”, sementara Hegseth menyatakan kondisi di atas kapal telah digambarkan secara keliru.
Cao bahkan sempat menyebut pemberitaan mengenai memburuknya kesehatan mental, kekurangan makanan, gangguan pengiriman surat, dan persoalan lain sebagai tidak jujur.
Menurut Cao ketika itu, pemberitaan tersebut mengalihkan perhatian dari fokus militer terhadap musuh dan ancaman yang dihadapi Amerika Serikat.
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper juga mencoba memberikan perspektif berbeda.
Setelah mengunjungi Abraham Lincoln pada Agustus, Cooper mengatakan kapal tersebut termasuk yang memiliki jumlah kasus terkait kesehatan mental paling rendah di antara 11 kapal induk aktif Angkatan Laut AS, meskipun ia mengakui kondisi pengerahan panjang tidak berarti semuanya berjalan sempurna.
Namun, sebulan kemudian, angka resmi memberikan gambaran yang lebih kompleks. Dalam surat kepada Senator Kirsten Gillibrand tertanggal 22 September 2026, Cao mengakui delapan personel yang tergabung dalam gugus tempur Abraham Lincoln telah melakukan percobaan bunuh diri selama pengerahan tersebut. Tidak ada personel yang meninggal akibat tindakan itu.
Dua di antaranya berkaitan dengan upaya terjun dari kapal. Seorang personel berhasil dicegah rekan-rekannya ketika mencoba melompat pada Maret, sedangkan seorang lainnya yang jatuh atau melompat ke laut pada awal Agustus berhasil diselamatkan.
Angka delapan kemudian menjadi pusat perdebatan baru. Seorang pejabat militer AS yang dikutip CNN menyebut jumlah tersebut sangat tinggi dan mengatakan pengerahan gugus tempur kapal induk belakangan biasanya mencatat satu atau dua percobaan dalam setahun, meskipun seorang pejabat Angkatan Laut kepada ABC News mengatakan delapan kasus itu tidak berada di luar pola yang dapat muncul dalam pengerahan panjang.
Perbandingan dengan angka Angkatan Laut secara keseluruhan juga perlu dibaca secara hati-hati. Data terbaru Pentagon menunjukkan 356 percobaan bunuh diri tercatat pada 2024 di antara lebih dari 327 ribu personel aktif Angkatan Laut, tetapi periode pengamatan dan populasi tersebut berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan delapan kasus di gugus tempur Abraham Lincoln.
Pengungkapan itu membuat perdebatan bergeser dari apakah tekanan psikologis benar-benar terjadi menjadi seberapa memadai dukungan yang tersedia bagi awak.
Cao menyebut Abraham Lincoln membawa psikolog, pekerja sosial klinis, tiga teknisi kesehatan perilaku, konselor pencegahan, lima pendeta militer, serta fasilitas pendukung lainnya.
Persoalannya, ketersediaan tenaga tidak selalu berarti akses dapat diperoleh dengan cepat. Seorang awak Abraham Lincoln mengatakan kepada Military Times bahwa waktu tunggu untuk menemui profesional kesehatan mental dapat mencapai beberapa pekan bagi sekitar personel di kapal apabila mereka tidak menunjukkan indikasi keinginan bunuh diri.
Gillibrand kemudian menjadikan surat Cao sebagai dasar untuk mempertanyakan respons pemerintah sebelumnya.
Ia mengatakan persoalan yang sempat diremehkan ternyata berkaitan dengan kondisi serius yang dialami anggota militer selama pengerahan.
Pada akhirnya, surat dari pimpinan sipil Angkatan Laut itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pengerahan panjang menjadi penyebab setiap percobaan bunuh diri.
Namun, angka resmi tersebut memastikan satu hal yang sebelumnya menjadi perdebatan: di balik operasi tempur Abraham Lincoln yang berlangsung berbulan-bulan, terdapat delapan personel yang mencapai titik krisis hingga mencoba mengakhiri hidup mereka.