Siapa sangka dari Kapolsek Pasar Minggu jadi orang nomor satu di Polri

BANDA ACEH — Perjalanan karier Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, ., S.H., ., di kepolisian berlangsung panjang.
Dari memimpin kepolisian di tingkat sektor sebagai Kapolsek Metro Pasar Minggu, ia kemudian menapaki berbagai jabatan strategis, mulai dari kapolres, pejabat di Bareskrim, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).
Kini, perjalanan tersebut membawanya ke tahap baru.
Suyudi diajukan sebagai calon Kapolri untuk menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Pada Rabu (1/10/2026), Suyudi menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test sebagai calon Kapolri di Komisi III DPR RI.
Dalam proses tersebut, ia memaparkan visi dan arah pembenahan Polri, termasuk gagasan “Polisi Bersama Masyarakat” sebagai tema kepemimpinannya hingga 2029.
Jika melihat ke belakang, posisi yang kini dihadapinya tentu berbeda jauh dengan awal perjalanan kepemimpinannya.
Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994. Ia lahir di Jakarta pada 14 Juli 1973 dan dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang reserse.
Kariernya dimulai dari lingkungan reserse Polda Metro Jaya.
Ia pernah bertugas sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya sebelum kemudian dipercaya memimpin sejumlah kepolisian sektor di wilayah Jakarta.
Salah satu jabatan penting pada fase awal kariernya adalah Kapolsek Metro Pasar Minggu.
Setelah itu, Suyudi dipercaya menjadi Kapolsek Metro Tanah Abang dan Kapolsek Metro Penjaringan. Dari level kepolisian sektor, kariernya kemudian terus bergerak ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia kemudian dipercaya mengemban sejumlah jabatan reserse, antara lain Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota, dan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.
Memasuki periode 2014 hingga 2017, Suyudi mendapat kepercayaan sebagai Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolresta Bogor Kota, hingga Kapolres Metro Jakarta Pusat.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan penegakan hukum di tingkat kewilayahan.
Setelah cukup lama berkutat di lapangan, Suyudi kemudian masuk ke lingkungan Bareskrim Polri.
Di Bareskrim, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus serta Wakil Direktur Tindak Pidana Siber.
Pengalaman tersebut memperluas rekam jejaknya dari penanganan kejahatan konvensional hingga perkara ekonomi khusus dan kejahatan berbasis teknologi.
Kariernya terus meningkat. Pada 2023, Suyudi dipercaya menjadi Wakapolda Metro Jaya. Setahun kemudian, tepatnya pada Juni 2024, ia dilantik sebagai Kapolda Banten.
Namun, masa jabatannya sebagai Kapolda Banten tidak berlangsung lama. Pada Agustus 2025, Suyudi dimutasi sebagai perwira tinggi Bareskrim Polri dalam rangka penugasan di luar struktur.
Tidak lama kemudian, Presiden Prabowo Subianto memberikan kepercayaan baru kepadanya untuk memimpin BNN.
Presiden Prabowo melantik Suyudi sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 118/TPA Tahun 2025. Ia menggantikan Komjen Pol. Marthinus Hukom.
Pelantikan itu sekaligus membawa Suyudi ke lembaga yang memiliki tugas utama dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika.
Beberapa pekan setelah dilantik sebagai Kepala BNN, Suyudi resmi menyandang pangkat Komisaris Jenderal Polisi atau jenderal bintang tiga.
Kenaikan pangkat tersebut dilakukan melalui Korps Raport di Rupattama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (12/9/2025).
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Menariknya, ketika namanya mulai disebut sebagai salah satu sosok yang berpotensi menggantikan Kapolri, Suyudi pada September 2025 sempat membantah isu tersebut.
Saat itu ia mengatakan dirinya masih fokus menjalankan tugas sebagai Kepala BNN.
“Saya sedang fokus melaksanakan tugas di BNN RI. Tolong dukung saya. Jadi, sekali lagi, saya sampaikan bahwa itu tidak benar,” kata Suyudi, seperti diberitakan ANTARA pada 15 September 2025.
Namun, perkembangan Politik dan kelembagaan setahun kemudian membawa namanya ke posisi yang berbeda.
Pada 1 Oktober 2026, Suyudi menjalani fit and proper test sebagai calon Kapolri di Komisi III DPR RI. Dalam pemaparannya, ia membawa tema “Polisi Bersama Masyarakat” dan menyampaikan arah transformasi Polri apabila dipercaya memimpin institusi tersebut.
Gagasannya mencakup pembenahan internal kepolisian, pembacaan terhadap aspirasi masyarakat, hingga program kerja 100 hari pertama dan keberlanjutan agenda pembenahan Polri sampai 2029.
Perjalanan pendidikan Suyudi juga turut melengkapi kariernya.
Setelah lulus Akpol 1994, ia menempuh pendidikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003 dan kemudian Sespimti pada 2018.
Tidak hanya karier kepolisian, Suyudi juga memperoleh pengakuan dari lingkungan akademik.
Pada 31 Januari 2026, Universitas Tarumanagara menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum kepada Suyudi. Penghargaan tersebut diberikan dalam sidang terbuka Senat Universitas Tarumanagara di Jakarta Barat.
Universitas Tarumanagara menyebut penganugerahan tersebut sebagai bentuk pengakuan akademik atas kontribusi Suyudi dalam pengembangan dan penegakan hukum, termasuk dalam bidang kebijakan, penegakan hukum dan upaya pemberantasan narkotika.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Narkoba, Keamanan, dan Masa Depan Indonesia dalam Perspektif Ilmu Hukum”, Suyudi menyoroti keterkaitan persoalan narkotika dengan keamanan nasional.
“Semakin pesat perkembangan narkoba, semakin tidak aman negara tersebut,” ujar Suyudi dalam orasi ilmiahnya.
Rekam jejak Suyudi dengan demikian terbentang dari tugas kewilayahan hingga penanganan kejahatan khusus, dari Jakarta hingga Banten, serta dari kepolisian hingga lembaga negara yang menangani persoalan narkotika.
Kini, perjalanan itu memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun menapaki jenjang kepolisian, dari Kapolsek Metro Pasar Minggu hingga Kepala BNN berpangkat bintang tiga, Suyudi berada di hadapan Komisi III DPR sebagai calon Kapolri.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses resmi sebelum pengangkatan Kapolri. Karena itu, perjalanan Suyudi dari seorang Kapolsek di wilayah Jakarta Selatan hingga menjadi calon pimpinan tertinggi Polri menjadi salah satu bagian penting dari rekam jejak panjangnya di institusi kepolisian