FYV Resilience Summit Sumut Hasilkan 12 Inovasi, Dorong 60 Pemuda Jaga Hutan

MEDAN – Sebanyak 60 generasi muda menghasilkan gagasan inovasi dan rencana aksi untuk memperkuat ketahanan hutan, keanekaragaman hayati, serta mitigasi bencana dalam rangkaian Forest Youthverse Resilience Summit (FYV Resilience Summit) Wilayah Sumatera Utara yang digelar Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Badan P2SDM), bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, pada 2–3 Oktober 2026.
Mengusung tema “Youth for Biodiversity Resilience: Generasi Muda Bergerak, Kekayaan Alam Terjaga”, kegiatan tersebut menghasilkan 12 tim inovasi yang mempresentasikan gagasan melalui Forest Innovation Pitching, setelah peserta menjalani pembelajaran langsung di TWA Sibolangit, mengenal upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan bersama Manggala Agni, mengikuti simulasi pemadaman, serta mengembangkan gagasan berdasarkan kerangka State–Pressure–Response (SPR).
Rangkaian pembelajaran tersebut kemudian diperkuat melalui Forest Innovation Workshop, Forest Ideas Cafe, Voices from Youthverse, dan Forest Youth Commitment, yang mendorong peserta tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menerjemahkannya menjadi gagasan, jejaring, dan komitmen untuk mengambil peran dalam pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 2 Oktober 2026 melalui Action Day di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit.
Peserta mendapatkan pembekalan mengenai flora dan fauna yang terdapat di kawasan konservasi tersebut. Materi disampaikan oleh Kepala Resort CA/TWA Sibolangit, Jazmi Anditya Wicaksono, bersama tim.
Melalui edukasi lapangan, peserta diajak mengenal langsung keanekaragaman hayati TWA Sibolangit, memahami karakteristik kawasan konservasi, serta melihat pentingnya menjaga ekosistem hutan.
Setelah kegiatan di TWA Sibolangit, peserta melanjutkan kunjungan ke Manggala Agni Daops I Sibolangit untuk mendapatkan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Materi disampaikan oleh Kepala Manggala Agni Daops Sumatera I/Sibolangit, Sentosa Gurusinga, bersama tim. Peserta diperkenalkan pada peran Manggala Agni dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, mulai dari upaya pencegahan hingga penanganan di lapangan.
Tidak hanya menerima materi, peserta juga mengikuti simulasi pemadaman kebakaran hutan dengan didampingi petugas Manggala Agni.
Simulasi tersebut memberikan pengalaman praktik mengenai tahapan pemadaman sekaligus menekankan pentingnya kesiapsiagaan, kerja sama tim, koordinasi, dan tindakan cepat dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Rangkaian hari pertama kemudian dilanjutkan dengan Forest Connection & Reflection Circle serta Forest Innovation Workshop. Peserta merefleksikan pengalaman lapangan sekaligus mulai mengembangkan gagasan inovasi berdasarkan permasalahan kehutanan dan lingkungan yang mereka temukan.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di Lantai 2 Ruang Flamboyan, Kampus 2 Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU).
Kegiatan diawali dengan tarian Tor-Tor pembuka yang dibawakan peserta, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Dr. Arida Susilowati, ., .
Arida menyampaikan bahwa Sumatera Utara memiliki kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang besar sehingga membutuhkan peran aktif generasi muda.
“Hutan Sumatera Utara memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Harapannya, generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan dan kekayaan alam yang kita miliki,” ujar Arida.
Ia mengajak peserta memanfaatkan FYV Resilience Summit sebagai ruang belajar, berdiskusi, membangun jejaring, serta merumuskan program yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan.
“Peserta bisa memanfaatkan kegiatan ini dengan baik. Bisa berdiskusi, membangun jejaring, kemudian merumuskan program yang komprehensif untuk lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Kepala BBKSDA Sumatera Utara yang diwakili Kepala Bidang Teknik BBKSDA Sumatera Utara, Dr. Ichwan Muslih, ., ., menyampaikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Menurut Ichwan, FYV Resilience Summit dapat menjadi ruang awal bagi generasi muda untuk mengambil peran sebagai agent of change dalam pelestarian lingkungan dan hutan.
“BBKSDA Sumatera Utara mendukung kegiatan seperti ini. Kegiatan ini merupakan awal bagi peserta untuk menjadi agent of change dalam pelestarian lingkungan dan hutan,” ujar Ichwan.
Ia berharap kegiatan tidak berhenti pada proses pembelajaran, tetapi menghasilkan dampak dan gagasan yang dapat diterapkan.
“Mudah-mudahan dari kegiatan ini ada impact, ada dampak, dan ada sesuatu yang berharga buat kita semua. Kami menunggu semangat, dedikasi, ide, dan inovasi dari para peserta,” katanya.
Project Manager LEVERAGE (Law Enforcement for Sustainable Viable Ecosystems and Biodiversity Resilience through Multi-Sectors Engagement), Ir. Achmad Pribadi, ., menjelaskan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam menjawab tantangan konservasi.
LEVERAGE merupakan program yang didukung United Nations Development Programme (UNDP) melalui Global Environment Facility (GEF)-8 dan dikelola Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan.
Menurut Achmad, salah satu bagian penting dari program tersebut adalah mendorong kolaborasi dan pemberdayaan generasi muda untuk mengembangkan ide kreatif yang dapat berkontribusi dalam mengurangi berbagai aktivitas yang melanggar hukum terkait tumbuhan dan satwa liar.
Ia menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai perlindungan tumbuhan dan satwa liar melalui pendekatan komunikasi dan kreativitas yang sesuai dengan karakter generasinya.
“Dengan mengikuti kegiatan ini, tentu ada manfaatnya bagi diri sendiri dan juga bagi lingkungan sekitar. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, membangun jejaring, dan melahirkan ide-ide yang bisa memberikan dampak,” pungkasnya.
FYV Resilience Summit kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) Kementerian Kehutanan, Luckmi Purwandari, S.T., .
Luckmi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut terdiri atas dua tahapan utama, yaitu Action Day dan Summit Day, yang merupakan satu kesatuan proses pembelajaran dan pengembangan kapasitas generasi muda.
Pada Action Day, peserta tidak hanya mempelajari konservasi melalui teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di lapangan. Peserta diajak mengumpulkan informasi, memahami kondisi lingkungan, mengidentifikasi tekanan atau penyebab permasalahan, serta merumuskan respons yang dapat dilakukan.
Proses tersebut menggunakan kerangka State–Pressure–Response (SPR), yaitu memahami kondisi lingkungan (state), mengidentifikasi tekanan (pressure), dan menentukan langkah penyelesaian (response).
“Siklus ini terus dilakukan secara berkelanjutan supaya kita bisa berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam melakukan pelestarian hutan. Kita akan menjadi generasi pelestari hutan, dan sekali menjadi generasi pelestari hutan, kita harus menjadi generasi pelestari hutan sepanjang hayat,” ujar Luckmi.
Luckmi menegaskan bahwa kontribusi terhadap pelestarian hutan tidak terbatas pada mereka yang berlatar belakang pendidikan kehutanan. Generasi muda dari berbagai disiplin ilmu dapat berkontribusi berdasarkan keahlian masing-masing.
“Tidak harus yang memberikan respons atau melakukan aksi untuk pelestarian hutan berasal dari jurusan kehutanan. Semuanya bisa berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Kita harus bersama-sama berkolaborasi melestarikan hutan untuk masa depan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Hasil pembelajaran Action Day kemudian dituangkan dalam Innovation Board berupa gagasan inovasi dan rencana aksi.
Memasuki Summit Day, sebanyak 12 tim mendapatkan kesempatan mengikuti Forest Innovation Pitching. Peserta mempresentasikan gagasan yang telah dikembangkan dan memperoleh masukan dari unsur pemerintah, akademisi, pengelola kawasan konservasi, serta praktisi.
Luckmi mengingatkan agar peserta tidak berhenti setelah kegiatan summit selesai.
“Jangan berhenti hanya di kegiatan summit ini. Summit ini bukan akhir, tetapi merupakan awal bagaimana adik-adik dapat mewujudkan rencana aksi dari inovasi yang sudah dibuat,” pesannya.
Ia juga mengajak peserta terus membangun jejaring dan kolaborasi untuk menjaga keberlanjutan gerakan pelestarian hutan.
“Forest Health Resilience Hub” Hadirkan Perspektif Kesehatan Masyarakat
Salah satu gagasan inovatif peserta datang dari Afifah Afrah, mahasiswi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, melalui gagasan berjudul “Forest Health Resilience Hub.”
Gagasan tersebut mengintegrasikan ketahanan hutan, mitigasi bencana, kesehatan masyarakat, dan peran generasi muda dalam satu ekosistem kolaboratif.
Afifah melihat bahwa kerusakan hutan tidak hanya berdampak terhadap keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat meningkatkan risiko bencana, mempengaruhi kualitas lingkungan, dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat, saya melihat bahwa kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Karena itu, menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi ekosistem, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih aman, sehat, dan resilien,” ujar Afifah.
Konsep tersebut menggunakan pendekatan “Identify, Monitor, Educate, Act, Evaluate” melalui empat pilar, yakni Forest Risk Mapping, Forest Health Monitoring, Youth Forest Resilience Action, dan Forest Community Resilience Hub.
Melalui konsep tersebut, generasi muda didorong berperan dalam pemetaan risiko, pemantauan kondisi lingkungan, edukasi konservasi dan kebencanaan, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, pemuda, dunia usaha, dan media.
Menurut Afifah, pengalaman mengikuti FYV Resilience Summit memperluas pemahamannya mengenai keterkaitan konservasi, biodiversitas, mitigasi bencana, inovasi, dan peran generasi muda.
“Saya belajar bahwa inovasi bukan hanya tentang ide yang menarik, tetapi juga tentang masalah yang ingin diselesaikan, penerima manfaat, kelayakan, dan dampaknya,” ujarnya.
Setelah Forest Innovation Pitching, kegiatan dilanjutkan dengan Forest Ideas Cafe, yang menjadi ruang interaktif bagi peserta untuk berbagi kreativitas, pengalaman, dan perspektif.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan “Voices from Youthverse: Cerita Generasi Muda, Keanekaragaman Hayati, dan Ketangguhan Alam.”
Sesi tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mengenai pelestarian keanekaragaman hayati serta upaya membangun ketangguhan alam.
Salah satu fasilitator kegiatan, Nurhabli Ridwan, bertugas sebagai Fasilitator Bidang Acara. Nurhabli merupakan alumni Forest Youthverse Sumatera Tahun 2025 dan Founder Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS).
Menurut Nurhabli, keterlibatannya sebagai fasilitator menjadi pengalaman berarti karena sebelumnya ia mengikuti Forest Youthverse sebagai peserta.
“Tahun 2025 saya mengikuti Forest Youthverse sebagai peserta, dan tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk kembali terlibat dalam peran yang berbeda, khususnya di bidang acara. Ini menjadi proses belajar sekaligus kesempatan untuk berkontribusi dalam menghadirkan ruang pembelajaran bagi generasi muda,” ujar Nurhabli.
Ia menilai kekuatan FYV Resilience Summit terletak pada pembelajaran yang berlangsung secara langsung dan kolaboratif.
“Peserta tidak hanya mendapatkan materi di dalam ruangan, tetapi juga belajar langsung di kawasan konservasi, mengenal upaya pengendalian karhutla, melakukan simulasi, kemudian mengembangkan gagasan dan mempresentasikannya melalui Forest Innovation Pitching,” tambahnya.
Kegiatan juga dihadiri Kepala Bidang Pembinaan Perilaku Generasi Peduli Cinta Alam Pusgenri Kementerian Kehutanan, Ernawati Eko Hartono, ., .; Kepala Balai P2SDM Wilayah I Pematangsiantar, Soleh Sena Santika, S.E., ., .; jajaran BBKSDA Sumatera Utara; Manggala Agni Daops I Sibolangit; BPKH Wilayah I; civitas akademika Fakultas Kehutanan USU; tim LEVERAGE; serta sejumlah undangan lainnya.
Menjelang akhir kegiatan, peserta mengikuti Forest Youth Commitment sebagai bentuk komitmen bersama untuk mengambil peran dalam menjaga hutan, keanekaragaman hayati, dan lingkungan.
Selama dua hari, FYV Resilience Summit Wilayah Sumatera Utara menghadirkan proses pembelajaran yang memadukan edukasi konservasi, pengalaman lapangan, simulasi pemadaman kebakaran hutan, pengembangan inovasi, ruang kreativitas, dialog lintas sektor, dan penguatan komitmen generasi muda.
Melalui semangat “Youth for Biodiversity Resilience”, kegiatan ini diharapkan memperkuat pengetahuan, kepedulian, jejaring, serta kapasitas generasi muda untuk berperan aktif dalam pelestarian hutan, perlindungan keanekaragaman hayati, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.
Forest Youthverse Resilience Summit juga menjadi ruang pertemuan antara generasi muda dengan pemerintah, akademisi, pengelola kawasan konservasi, praktisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun komunikasi serta kolaborasi dalam menghadapi tantangan kehutanan dan lingkungan.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari proses identifikasi masalah, pengembangan gagasan, pembangunan jejaring, hingga pelaksanaan aksi nyata untuk menjaga hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia.