Prancis Membara, Ribuan Pelajar Turun ke Jalan

PARIS — Prancis diguncang gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah yang bermula dari persoalan pendidikan, tetapi berkembang menjadi kerusuhan nasional. Kekurangan guru, ruang kelas yang sesak, buruknya kondisi gedung sekolah, hingga beban belajar menjadi pemicu utama kemarahan para pelajar.
Aksi yang pertama kali mencuat sekitar pertengahan September 2026 di kawasan sekitar Paris itu dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah. Ribuan pelajar kemudian turun ke jalan dan melakukan blokade di sekolah, sementara sebagian demonstrasi berujung bentrokan dengan aparat keamanan.
Laporan The Guardian, 2 Oktober 2026, menyebut hampir pelajar lycée telah diamankan sejak rangkaian demonstrasi dimulai. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara tepat karena bukan berarti seluruhnya berstatus tahanan hukum. Sebanyak orang diamankan pada Kamis, 1 Oktober 2026, dalam eskalasi aksi yang semakin luas.
Protes Berawal dari Krisis Pendidikan
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat sekitar sekolah terdampak aksi pada 1 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 222 sekolah dilaporkan mengalami blokade.
Skala tersebut menunjukkan demonstrasi telah berkembang jauh melampaui persoalan lokal. Para pelajar tidak hanya memprotes kebijakan politik, tetapi menyoroti kondisi nyata yang mereka hadapi setiap hari di sekolah.
Kelas yang terlalu padat, minimnya guru pengganti, absennya tenaga pendidik, gedung sekolah yang membutuhkan perbaikan, serta beratnya beban pelajaran menjadi sejumlah persoalan yang mereka soroti.
Kawasan berpenghasilan rendah disebut menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan dampak persoalan tersebut. Reuters dalam laporan 3 Oktober 2026 menyebut gerakan yang bermula dari sejumlah sekolah di pinggiran Paris telah berubah menjadi aksi nasional yang menjangkau lebih dari sekolah.
Pelajar 17 Tahun: Sekolah Merupakan Hak
Suara kemarahan pelajar salah satunya disampaikan Sophia, 17 tahun, siswi Lycée Voltaire di Paris. Dalam laporan The Guardian, 2 Oktober 2026, Sophia menggambarkan kekecewaan generasi muda terhadap kondisi pendidikan di negaranya.
Menurut Sophia, keputusan pelajar turun ke jalan muncul karena keluhan mereka dinilai tidak mendapat respons memadai dari pemerintah. Blokade sekolah dilakukan sebagai bentuk tekanan agar persoalan yang mereka hadapi tidak lagi diabaikan.
Ia juga menggambarkan kondisi ruang kelas yang dapat menampung hingga sekitar 40 siswa, ditambah persoalan kekurangan guru, ketidakhadiran tenaga pendidik, serta fasilitas sekolah yang membutuhkan pembenahan.
Kritiknya kemudian melebar ke arah kebijakan anggaran pemerintah. Sophia mempertanyakan kebijakan yang dinilai mengurangi ruang pembiayaan pendidikan ketika belanja pertahanan justru memperoleh perhatian besar.
Demonstrasi Berubah Menjadi Bentrokan
Ketegangan meningkat ketika sejumlah aksi berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat. Polisi antihuru-hara dikerahkan di beberapa lokasi untuk mengendalikan massa.
Gas air mata digunakan dalam pembubaran demonstrasi. Di sejumlah titik, terjadi pembakaran tempat sampah, pelemparan petasan, serta bentrokan antara pelajar dan polisi.
The Guardian pada 2 Oktober 2026 melaporkan hampir pelajar lycée berusia 15 hingga 18 tahun telah diamankan sejak demonstrasi dimulai. Dari angka tersebut, orang diamankan hanya dalam aksi pada Kamis, 1 Oktober.
Pada saat yang sama, sekitar 100 sekolah mengalami kerusakan berat, sementara 40 kepala sekolah dilaporkan mengalami luka.
Kementerian Pendidikan Prancis juga mencatat sekitar 170 siswa dan 65 tenaga pendidikan terluka selama rangkaian kerusuhan. Dari 65 tenaga pendidikan yang terluka tersebut, 40 di antaranya merupakan kepala sekolah.
Ratusan Sekolah Terganggu pada 2 Oktober
Kerusuhan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir pada Jumat, 2 Oktober 2026. Sekitar 400 sekolah terpaksa ditutup atau mengubah kegiatan pembelajaran akibat kerusakan fasilitas dan blokade yang membuat proses belajar mengajar dinilai tidak aman.
Pemerintah Prancis kemudian memperkuat langkah pengamanan. Namun, respons tersebut sekaligus memunculkan kritik mengenai dugaan penggunaan kekuatan secara berlebihan terhadap demonstran yang sebagian besar masih berusia remaja.
Pemerintah di sisi lain mengecam tindakan kekerasan dan perusakan fasilitas publik. Menteri Pendidikan Édouard Geffray meminta para orang tua mencegah anak-anak mereka ikut dalam demonstrasi karena situasi di lapangan dinilai semakin berbahaya.
Penangkapan Melonjak Menjadi Sekitar
Krisis semakin melebar memasuki 3 Oktober 2026. Demonstrasi belum sepenuhnya berhenti dan mulai berkembang menjadi persoalan keamanan serta politik yang lebih luas.
Reuters, 3 Oktober 2026, melaporkan jumlah orang yang ditangkap sejak Senin telah mencapai sekitar orang, dengan mayoritas merupakan remaja. Lebih dari 600 polisi juga dilaporkan mengalami luka selama rangkaian kerusuhan.
Laporan Associated Press (AP), 3 Oktober 2026, juga menyebut sekitar penangkapan terjadi dalam sepekan. Sekitar 85 persen dari mereka yang ditangkap merupakan anak di bawah umur.
AP menegaskan bahwa persoalan pendidikan merupakan pemantik awal demonstrasi. Namun, eskalasi di jalanan kemudian mendorong gerakan tersebut memasuki wilayah krisis sosial dan politik yang jauh lebih luas.
Kepala Kepolisian Paris Patrice Faure bahkan menyatakan gerakan protes telah berada di luar kendali dan menyerukan agar aksi kembali berlangsung secara damai.
Angka “ Ditangkap” Harus Dibaca Sesuai Waktu
Perbedaan angka dalam berbagai laporan bukan otomatis menunjukkan adanya pertentangan data. Angka tersebut berasal dari waktu pelaporan yang berbeda.
Pada 2 Oktober 2026, The Guardian menyebut hampir pelajar telah diamankan sejak aksi dimulai, dengan orang di antaranya diamankan pada 1 Oktober.
Sehari kemudian, Reuters melaporkan jumlah penangkapan kumulatif telah meningkat menjadi sekitar orang. AP pada tanggal yang sama juga menggunakan angka sekitar penangkapan dalam sepekan, dengan mayoritas yang ditangkap merupakan anak di bawah umur.
Karena itu, klaim dalam video yang menyebut “ pelajar ditangkap, ditahan” perlu ditempatkan dalam konteks tanggal dan status hukum. Angka hampir dalam laporan 2 Oktober merujuk pada mereka yang telah diamankan sejak awal aksi, sedangkan merupakan jumlah yang diamankan dalam satu hari.
Gelombang demonstrasi tersebut akhirnya menghadirkan ironi besar bagi Prancis. Pelajar turun ke jalan karena menilai ruang belajar mereka semakin tidak layak, tetapi eskalasi demonstrasi justru membuat ratusan sekolah harus menghentikan atau mengubah kegiatan belajar.
Pemerintah kini menghadapi dilema yang tidak sederhana: memulihkan keamanan dan menghentikan kekerasan tanpa mengabaikan persoalan pendidikan yang sejak awal menjadi bahan bakar kemarahan para pelajar.(*)