Mengapa Musim Hujan di Indonesia Tidak Turun Merata?

Mengapa Musim Hujan di Indonesia Tidak Turun Merata?

BANDA ACEH, JAKARTA – Sebagian wilayah Indonesia mengalami musim hujan lebih awal dibandingkan wilayah lainnya. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi geografis, pola angin monsun, hingga fenomena iklim seperti El Nino dan La Nina.

Sebagian wilayah Kalimantan Barat, misalnya, diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada 4 September 2026. Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Indonesia belum memasuki musim hujan.

Menurut laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026. Kondisi tersebut terjadi di 185 zona musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia.

Sebagian wilayah lainnya baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Periode tersebut mencakup 266 ZOM atau sekitar 17,3 persen luas daratan Indonesia, yang diawali dari wilayah Sumatera bagian utara dan kemudian meluas secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.

BMKG juga memprediksi awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia datang lebih lambat, yakni terjadi di 529 ZOM atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia. Sementara itu, 26 ZOM atau sekitar 2,15 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang sama dengan kondisi normal.

Kondisi Alam dan Wilayah Kepulauan

Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di sebelah utara Australia dan di lepas pantai dataran Asia Tenggara. Wilayah Indonesia berada di antara dua samudra, yakni Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Mengutip World Atlas, Indonesia membentang di sepanjang garis khatulistiwa. Secara geografis, wilayah Indonesia berada di belahan bumi utara dan selatan serta belahan bumi timur. Sementara secara astronomis, Indonesia terletak pada 6° LU–11° LS dan 95° BT–141° BT.

Karena berada di sepanjang garis khatulistiwa, iklim Indonesia relatif stabil sepanjang tahun dengan dua musim utama, yakni musim hujan dan musim kering atau kemarau. Musim kemarau berlangsung pada Mei hingga Oktober di sebagian besar wilayah Indonesia. Sementara itu, musim hujan umumnya berlangsung pada November hingga April.

Dikutip dari Britannica, iklim Indonesia sebagian ditentukan oleh struktur kepulauan dan posisinya yang berada di garis khatulistiwa. Kondisi tersebut membuat suhu udara di Indonesia cenderung tinggi dan relatif merata.

Letak Indonesia yang berada di antara dua daratan, yakni Asia dan Australia, juga membuat wilayah ini dipengaruhi pola curah hujan musiman yang dibawa oleh angin monsun.

Sebagian besar wilayah Indonesia menerima curah hujan lebat sepanjang tahun, dengan jumlah terbesar terjadi pada Desember hingga Maret. Namun, dari Jawa Tengah ke arah timur hingga wilayah yang berdekatan dengan Australia, musim kering umumnya berlangsung pada Juni hingga Oktober. Pulau Timor dan Sumba, misalnya, menerima curah hujan yang relatif sedikit selama periode tersebut.

Curah hujan tertinggi terjadi di daerah pegunungan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Barat. Total curah hujan tahunan di wilayah tersebut dapat mencapai lebih dari 120 inci atau sekitar milimeter.

Wilayah nonpegunungan di Kalimantan, Sumatera, Papua Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta sebagian besar Sulawesi dan Maluku rata-rata menerima sedikitnya 80 inci atau sekitar milimeter curah hujan per tahun.

Sementara itu, wilayah Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah umumnya menerima 60–80 inci atau sekitar – milimeter curah hujan per tahun. Adapun Kepulauan Sunda Kecil yang paling dekat dengan Australia hanya menerima sekitar 40–60 inci atau – milimeter curah hujan per tahun.

Variasi musiman curah hujan tersebut disebabkan oleh pergerakan angin monsun Asia dan konvergensi massa udara tropis dari utara dan selatan khatulistiwa.

Pola monsun di sejumlah wilayah kepulauan juga bergantung pada posisi wilayah tersebut, apakah berada di utara atau selatan khatulistiwa. Selain itu, kedekatannya dengan Australia atau daratan Asia turut memengaruhi pola cuaca.

Pada Desember hingga Februari, angin monsun barat dari daratan Asia membawa hujan lebat ke Sumatera Selatan, Jawa, dan Kepulauan Sunda Kecil. Pola angin tersebut juga dikenal sebagai monsun Asia.

Sementara itu, angin monsun timur atau monsun Australia bertiup dari arah timur menuju barat dan berlangsung saat musim kemarau. Angin tersebut bergerak dari benua Australia yang bertekanan tinggi menuju benua Asia yang bertekanan rendah dan membawa udara yang relatif kering.

Ketika monsun timur melintasi khatulistiwa, angin mengalami peningkatan kelembapan dan dapat menjadi sumber hujan. Sumatera dan Kalimantan yang berada dekat dengan khatulistiwa dan jauh dari Australia tidak memiliki musim kering yang tegas, meskipun curah hujan cenderung sedikit lebih rendah pada Juli dan Agustus.

Wilayah Barat Indonesia Lebih Dulu Hujan

Dengan melihat kondisi geografis dan pola angin monsun tersebut, wilayah barat Indonesia, seperti Sumatera dan Kalimantan, cenderung tidak mengalami musim kering yang panjang.

Wilayah bagian barat Indonesia juga cenderung mendapatkan curah hujan lebih awal dibandingkan wilayah timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Hujan ekstrem di wilayah timur dapat terjadi pada kondisi atmosfer tertentu.

Berdasarkan penjelasan FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), wilayah barat Indonesia berada di bawah pengaruh langsung monsun barat. Arah angin monsun barat pertama kali mengenai wilayah barat Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan Barat, dan Jawa bagian barat.

Dengan demikian, hujan ekstrem cenderung terjadi lebih awal dan lebih sering di wilayah barat Indonesia dibandingkan wilayah timur. Selain itu, wilayah barat Indonesia lebih dekat dengan sumber uap air besar dunia, yakni Samudra Hindia bagian timur dan Indo-Pacific Warm Pool.

Samudra Hindia bagian timur merupakan salah satu wilayah laut yang relatif hangat. Ketika suhu permukaan laut meningkat, proses penguapan juga bertambah sehingga pembentukan hujan dapat lebih mudah terjadi.

Suhu permukaan laut Samudra Hindia, bersama fenomena seperti IOD negatif, marine heatwave, dan pemanasan regional, dapat meningkatkan curah hujan secara signifikan. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh Samudra Pasifik dan dapat mengalami kondisi yang lebih kering ketika El Nino berlangsung.

Gelombang konveksi tropis atau Madden-Julian Oscillation (MJO) juga kerap memulai fase basah dari wilayah Samudra Hindia bagian barat. Ketika MJO bergerak menuju Indonesia, Sumatera dan Jawa bagian barat dapat menerima dampaknya lebih awal.

Kondisi tersebut dapat mendorong pertumbuhan awan konvektif dengan cepat sehingga hujan ekstrem terjadi dalam skala regional maupun lokal.

Faktor lainnya adalah keberadaan pegunungan yang memaksa udara bergerak naik dan kerap menjadi lokasi konvergensi angin. Kondisi geografis tersebut dapat membuat suatu wilayah lebih rentan terhadap hujan lebat, termasuk akibat pengaruh sistem siklon tropis meskipun pusatnya berada ratusan kilometer dari wilayah Indonesia.

Efek El Nino dan La Nina

Berdasarkan buku Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia yang diterbitkan BMKG, nilai indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) secara bertahap meningkat selama beberapa bulan terakhir.

El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim global yang berasal dari wilayah Samudra Pasifik tropis dan merupakan bagian dari siklus ENSO. Kondisi ENSO dapat berada pada fase La Nina, kemudian beralih ke fase netral, dan selanjutnya berkembang menuju fase El Nino.

Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat serta kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di wilayah Samudra Hindia sekitar Indonesia dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan.

Hasil pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4, Samudra Pasifik, pada akhir Agustus 2026 menunjukkan nilai sebesar +2,83. Sementara itu, nilai indeks ENSO periode Juli–Agustus–September tercatat sebesar +2,63.

Kondisi tersebut mengindikasikan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Sementara itu, di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus 2026 tercatat sebesar +0,376 dan berpeluang bergerak menuju fase positif hingga akhir tahun.

Sebagaimana dikutip dari laman Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan (BHLK) Kementerian Pekerjaan Umum, ENSO terjadi akibat perubahan suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Ketika El Nino terjadi, curah hujan di Indonesia cenderung menurun sehingga kondisi menjadi lebih kering.

Hal ini terjadi karena suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dibandingkan kondisi normal. Angin pasat melemah sehingga pembentukan awan dan hujan bergeser menjauhi Indonesia.

Sebaliknya, pembentukan awan meningkat ketika La Nina terjadi. Curah hujan di Indonesia cenderung lebih tinggi karena suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dibandingkan kondisi normal.

Angin pasat menjadi lebih kuat dan mendorong lebih banyak massa air hangat ke wilayah barat Pasifik, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut kemudian mendukung peningkatan pembentukan awan dan curah hujan di Indonesia.[]