Mercy Sihombing: Gibran Lebih Terhormat Jualan Martabak, Tak Perlu Ditanya Ijazahnya Apa

BANDA ACEH – Mercy Sihombing, salah satu pemohon gugatan terkait surat keterangan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK), menilai putusan MK sebagai kemenangan moral bagi dunia pendidikan Indonesia.“Saya bersyukur menjadi salah satu pemohon di sidang MK kemarin. Karena saya menyaksikan semua kebohongan akhirnya terbongkar. Alhamdulillah, semuanya ditunjukkan secara telanjang di persidangan MK,” kata Mercy dalam podcast Madilog Forum Keadilan TV.
Menurutnya, siapa pun yang tidak mampu membuktikan memiliki ijazah adalah pembohong. “Siapa pun Anda, jika tidak bisa membuktikan punya ijazah, Anda adalah pembohong,” tegasnya.
Mercy menilai langkah yang lebih terhormat bagi Gibran adalah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. “Kalau masalahnya sudah ketahuan, apa yang dilakukan orang yang lebih terhormat? Ya, dia mundur. Dia kan pengusaha, bisa jualan martabak di mana-mana. Saya pikir itu jauh lebih terhormat karena saat jualan martabak tidak perlu ditanya ijazahnya apa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa keluarga Solo seolah tidak memandang penting pendidikan. “Mungkin mereka memang tidak terlalu menghargai pendidikan. Artinya, pendidikan bukan hal penting bagi keluarga Pak Jokowi. Padahal penting punya ijazah,” kata Mercy.
Sebagai pendidik, Mercy mengaku sedih melihat foto Gibran masih dipajang di ruang kelas. “Apakah masih pantas memajang foto Gibran di ruang kelas dan ruang pendidikan? Jujur, tidak. Karena foto yang dipajang seharusnya orang yang kita hormati, yang nilai-nilai hidupnya layak diteladani, yang tidak membuat kebohongan,” tegasnya.
Mercy menambahkan, banyak muridnya yang bertanya bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi wakil presiden tanpa ijazah. Ia berharap para pemimpin menjadi teladan bagi generasi muda agar mengutamakan kejujuran, etika, moral, dan integritas.
“Ini adalah perjuangan rakyat Indonesia. Anda memilih orang yang menghalalkan segala cara atau memilih kejujuran, etika, moral, dan integritas,” pungkasnya.