Rocky Gerung Tantang Pengkritiknya soal Wantimpres: Tunggu 10 Tahun, Kalian Bakal Minta Maaf!

BANDA ACEH — Rocky Gerung melontarkan pernyataan menohok kepada para aktivis yang mengkritik keputusannya bergabung dengan lingkungan Istana sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Ia meminta para pengkritiknya menunggu hingga 10 tahun ke depan sebelum menilai langkah Politik dan intelektual yang diambilnya.
Rocky bahkan memprediksi orang-orang yang kini menyayangkan keputusannya suatu saat akan mengubah pandangan dan meminta maaf kepadanya.
“Tunggu aja 10 tahun lagi mereka minta maaf ke gue,” kata Rocky dalam podcast Akbar Faizal Uncensored, sebagaimana diberitakan , Jumat (9/10/2026).
Pernyataan itu disampaikan dalam rekaman podcast pada Rabu (7/10/2026).
Ucapan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap keputusan Rocky menerima posisi di lingkungan kekuasaan.
Sosok yang selama ini dikenal vokal mengkritik pemerintah itu kini menghadapi pertanyaan besar: mampukah ia mempertahankan independensi ketika berada lebih dekat dengan pusat pengambilan keputusan?
Bagi sebagian pengkritiknya, bergabung dengan lingkaran Istana berpotensi menguji konsistensi sikap kritis Rocky.
Namun, ia menolak anggapan bahwa jabatan akan membuatnya kehilangan kebebasan berpikir.
Rocky menegaskan, menerima posisi di Wantimpres tidak berarti dirinya harus mengubah pandangan atau menanggalkan identitas intelektual yang selama ini melekat padanya.
Rocky Tegaskan Tetap Berani Kritik Prabowo, Jokowi, dan Gibran
Rocky menyatakan tetap akan mengkritik Presiden Prabowo Subianto, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, meskipun kini berada di lingkungan Istana.
Baginya, kedekatan dengan penguasa tidak semestinya menjadi alasan untuk membatasi kritik.
Ia memandang kekuasaan tetap harus diawasi, terlebih jika tidak memiliki kontrol yang memadai.
Dalam menjelaskan pandangannya, Rocky bahkan menyebut Istana sebagai “sarang korupsi”.
Pernyataan itu menggambarkan kritiknya terhadap potensi penyalahgunaan kekuasaan ketika pengawasan melemah.
Sikap tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Rocky ingin mempertahankan ruang kritisnya di tengah jabatan baru.
Ia tidak ingin keputusannya bergabung dengan Wantimpres langsung dimaknai sebagai tanda bahwa dirinya telah meninggalkan posisi sebagai pengkritik kekuasaan.
Namun, pernyataan dan komitmen itu akan menghadapi ujian ketika kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah benar-benar membutuhkan kritik terbuka darinya.
Publik pun memiliki alasan untuk menunggu: apakah Rocky akan tetap bersuara lantang ketika kritiknya berhadapan dengan kepentingan pemerintahan tempat ia kini berada?
Tak Gentar Dikritik Sesama Aktivis
Rocky juga menyadari keputusannya bergabung dengan lingkungan Istana berpotensi mengecewakan sebagian aktivis yang selama ini memiliki pandangan atau perjuangan serupa dengannya.
Kritik tersebut tidak lepas dari pertanyaan mengenai konsistensi.
Ketika seseorang yang dikenal keras mengkritik penguasa menerima jabatan di lingkungan pemerintahan, publik tentu ingin mengetahui apakah kedekatan itu akan memengaruhi kebebasannya dalam menyampaikan pendapat.
Rocky, di sisi lain, menilai dirinya tidak seharusnya hanya dihakimi berdasarkan keputusan menerima jabatan.
Ia ingin publik melihat bagaimana dirinya menjalankan peran tersebut dan apakah ia tetap konsisten mempertahankan daya kritisnya.
Pernyataannya tentang kemungkinan permintaan maaf 10 tahun mendatang menjadi jawaban sekaligus tantangan kepada para pengkritiknya.
Rocky seolah meminta mereka memberi waktu sebelum menjatuhkan penilaian akhir.
Pada akhirnya, konsistensi tidak cukup dibuktikan melalui pernyataan.
Sikap Rocky ketika menghadapi kebijakan kontroversial, kritik terhadap pemerintah, serta keberaniannya menyuarakan pandangan yang berbeda akan menjadi tolok ukur penting.
Sepuluh tahun mungkin menjadi rentang waktu yang ia sebutkan.
Namun, publik tentu tidak harus menunggu selama itu untuk menilai apakah Rocky Gerung tetap mempertahankan sikap kritisnya setelah masuk ke lingkaran Istana.