KOMPAK Konservasi Bahari Gampong Ie Meulee Terima Fasilitas Penetasan Telur Penyu dari FKP-USK

SABANG – Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP-USK) menyerahkan fasilitas penetasan telur penyu kepada Kelompok KOMPAK Konservasi Bahari Gampong Ie Meulee, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Senin (12/10/2026).
Fasilitas yang berlokasi di Pante Tapak Gajah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya penangkaran dan konservasi penyu di Kawasan Konservasi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh, Kota Sabang.
Pembangunan fasilitas penangkaran dan konservasi penyu itu dilaksanakan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKM-TTU) Universitas Syiah Kuala.
Program ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam penanganan dan penetasan telur penyu menggunakan metode semi alami.
Kepala UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Daerah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, Erwandi, ., menyampaikan bahwa pelaksanaan konservasi harus berlandaskan tiga prinsip utama, yakni perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan.
“Konservasi harus berlandaskan tiga prinsip utama, yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Keberadaan fasilitas penetasan ini diharapkan dapat membantu melindungi penyu sejak bertelur hingga menetas menjadi tukik dan dilepaskan kembali ke habitat alaminya,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan kawasan konservasi dan fasilitas penangkaran penyu memiliki peran penting dalam mendukung perlindungan penyu selama proses bersarang, bertelur, hingga penetasan.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari langkah menjaga kelestarian populasi penyu di perairan Kota Sabang.
Selain memberikan manfaat ekologis, kegiatan konservasi penyu juga berpotensi memberikan dampak positif bagi kelompok pengelola dan masyarakat di sekitar kawasan.
Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan kegiatan perlindungan penyu dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Selain menjaga kelestarian penyu, kegiatan konservasi juga diharapkan memberikan dampak positif bagi kelompok pengelola dan masyarakat sekitar. Karena itu, sosialisasi, edukasi, serta pendampingan secara berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian penyu,” tambahnya.
Keberhasilan penangkaran dan konservasi penyu dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi lingkungan fisik, aspek teknis penetasan, faktor biologis, serta dukungan manusia dan kelembagaan.
Oleh karena itu, sosialisasi, diseminasi informasi, dan pendampingan intensif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam pengelolaan penangkaran penyu.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok masyarakat, fasilitas penetasan telur penyu di Pante Tapak Gajah diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung perlindungan habitat dan kelestarian penyu di kawasan perairan Kota Sabang.
Catatan redaksi: Kutipan langsung di atas disusun berdasarkan uraian yang Anda berikan, bukan transkrip pernyataan verbatim. Sebelum dipublikasikan, konfirmasikan kutipan dan nama pejabat kepada narasumber atau DKP Aceh agar akurat.[]