{"id":140097,"date":"2022-11-14T10:33:00","date_gmt":"2022-11-14T03:33:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2022\/11\/14\/kisah-kematian-11-anggota-keluarga-burari-india-gegara-memuja-pohon-beringin\/"},"modified":"2022-11-14T10:35:12","modified_gmt":"2022-11-14T03:35:12","slug":"kisah-kematian-11-anggota-keluarga-burari-india-gegara-memuja-pohon-beringin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2022\/11\/14\/kisah-kematian-11-anggota-keluarga-burari-india-gegara-memuja-pohon-beringin\/","title":{"rendered":"Kisah Kematian 11 Anggota Keluarga Burari India: Gegara Memuja Pohon Beringin"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><\/p>\n<p><b>BANDA ACEH &#8211;<\/b>Pada 2018, terjadi kisah kematian 11 anggota keluarga di dalam kamar rumah di daerah Burari, New Delhi, India, akibat dari sebuah ritual pemujaan &#8220;badh tapasya&#8221; (pemujaan pohon beringin) yang salah.<\/p>\n<p>Sepuluh mayat anggota keluarga bergelantung di langit-langit berkawat di satu ruangan yang sama, satu mayat lainnya ditemukan tewas tergeletak di lantai dengan luka di leher di kamar sebelahnya.<\/p>\n<p>&#8220;Dalam karir saya selama 17 tahun sejauh ini, saya belum pernah melihat TKP seperti ini, dan saya harap saya tidak harus melihatnya,&#8221; kata kepala polisi Rajeev Tomar.<\/p>\n<p>Tomar adalah polisi pertama yang memasuki rumah di Burari itu, di mana 11 anggota keluarga Chundawat ditemukan tewas pada 1 Juli 2018.<\/p>\n<p>Kisah kematian 11 anggota keluarga di Burari, India yang menggegerkan ini kini diangkat ke dalam serial Netflix 2021 berjudul &#8220;House of Secrets: The Burari Deaths&#8221;.<\/p>\n<p>Bagaimana peristiwa kematian 11 anggota keluarga itu terjadi? Berikut Kompas.com merangkum kronologi kejadian dari berbagai sumber.<\/p>\n<p><b>Siapa saja korban dalam kisah kematian 11 anggota keluarga Burari, India?<\/b><\/p>\n<p>Anggota keluarga dalam kisah kematian tersebut terdiri dari Narayan Devi, nenek (77 tahun).<\/p>\n<p>Kemudian putrinya, Devi Pratibha (57 tahun), putranya Bhavnesh Bhatia (50 tahun), dan Lalit Bhatia (45 tahun).<\/p>\n<p>Lalu istri maasng-masing, Savita (48 tahun) dan Tina (42 tahun).<\/p>\n<p>Para cucu terdiri dari Priyanka (33 tahun), Neetu (25 tahun), Monu alias Maneka (23 tahun), Dhruv alias Dushyant (15 tahun), dan Shivam (15 tahun).<\/p>\n<p>Sekitar pukul 07.18 waktu setempat pada 1 Juli 2018, kesebelas anggota keluarga tersebut ditemukan tewas di dalam rumah Burari, New Delhi, India<\/p>\n<p>Di lantai pertama rumah ditemukan 10 mayat anggota keluarga, tanpa Narayan Devi. Salah satunya adala putri Pratibha, Priyanka yang telah bertunangan pada 17 Juni dan akan menikah pada akhir 2018.<\/p>\n<p>Kesepuluh anggota keluarga itu bergelantung dalam formasi melingkar di atas langit-langit yang telah dipasang jaring-jaring besi.<\/p>\n<p>Di antara posisi mayat itu, Pratibha bergelantung agak jauh dari anggota keluarga lainnya.<\/p>\n<p>Kemudian mayat Narayan Devi ditemukan tergeletak di lantai ruangan sebelahnya dengan luka di leher. Dia ditemukan dalam keadaan tidak bergelantung seperti anggota keluarganya yang lain.<\/p>\n<p>Awalnya polisi mengiri kematian anggota keluarga ini karena kasus pembunuhan, karena anggota badan mereka terikat, mata ditutup, dan mulut disumpal.<\/p>\n<p>Selain itu, bagaimana anak remaja berusia 15 tahun, setuju untuk mengikatkan tali di leher mereka dan percaya bahwa mereka akan selamat dari ritual itu?<\/p>\n<p><b>Bagaimana awal kisah kematian 11 anggota keluarga itu?<\/b><\/p>\n<p>Melansir <i>Hindustan Times, <\/i>Lalit memiliki bisnis kayu lapis, dan Bhavnesh memiliki toko kelontong. Toko keduanya beroperasi di lantai dasar rumah mereka.<\/p>\n<p>Ketika toko kelontong Bhavnesh tidak buka seperti biasanya, para tetangga mencoba masuk ke dalam rumah, dan justru menemukan mayat 11 anggota keluarga itu.<\/p>\n<p>Segera polisi dihubungi ke TKP. Dalam penyelidikan TKP, polisi menemukan 11 buku harian yang ditulis tangan yang merinci situasi keluarga itu hingga menemui ajal.<\/p>\n<p>Berdasarkan 11 buku harian tersebut polisi menarik dugaan bahwa kematian 11 anggota keluarga itu karena ritual yang salah, yang mengarah pada bunuh diri massal.<\/p>\n<p>Mengutip <i>The Hindu, <\/i>polisi mengatakan buku harian itu didekte oleh Lalit yang percaya bahwa roh ayahnya, Bhopal Singh yang meninggal pada 2007, berkomunikasi dengannya dan memerintahkannya untuk melakukan &#8220;badh tapasya&#8221; (pemujaan pohon beringin) demi kemajuan keluarga.<\/p>\n<p>Tulisan tangan dalam 11 buku harian itu menunjukkan bahwa setidaknya ada 3 orang yang berbeda, di antaranya Lalit dan Priyanka.<\/p>\n<p>Catatan pertama buku harian Lalit ditulis pada 8 Juli 2007 dan berkahir paada 30 Juni 2018.<\/p>\n<p>Catatan buku harian terakhir menjelaskan ritual, aturan yanag harus diikuti dan diharapakan oleh 11 anggota keluarga.<\/p>\n<p>Ritual itu adalah &#8220;upacara syukur&#8221; untuk suami Narayan, Bhopal Singh yang meninggal pada 2007.<\/p>\n<p><b>Apa penyabab di balik kisah kematian 11 anggota keluarga?<\/b><\/p>\n<p>Pada 2004, sebuah insiden besar terjadi menimpa Lalit dan merubah hidupnya, ia kehilangan suaranya.<\/p>\n<p>Pada Februari 2007, Bhopal Singh meninggal karena penyakit pernapasan. Membuat semua anggota keluarga tepukul, terutama Lalit.<\/p>\n<p>Setelah kematiannya, selama 10 hari pendeta dipanggil untuk melakukan ritual &#8220;paath Garuda Purana&#8221; (doa).<\/p>\n<p>Di suatu hari dari 10 hari itu, di tengah ritual doa tiba-tiba suara Lalit kembali, dan semua berkata &#8220;Daddy aa gaye&#8221; (Daddy telah kembali).<\/p>\n<p>Lalit bercerita kepada salah satu pelanggannya, Naresh Yadav, pada 2008, bahwa ia mendapatkan kembali suaranya setelah ayahnya datang dalllam mimpinya dan memintanya melakukan ritual &#8220;puja&#8221;.<\/p>\n<p>Rita Sharma (62 tahun) tetangga dekat keluarga Lalit, mengatakan bahwa semenjak kematian Bhopal Singh, keluarga Chundawat itu melakukan ritual <i>kirtan.<\/i><\/p>\n<p>Sharma biasa diundang oleh anak-anak Lalit dan Bhavnesh untuk ikut serta dalam ritual kirtan.<\/p>\n<p>&#8220;Setiap malam sekitar jam 9 malam, mereka akan duduk bersama dan berdoa selama 15-30 menit. Anak-anak biasa bilang &#8216;Daddy ke aane ka time ho gaya&#8217; (saatnya kakek datang),&#8221; kata Sharma, seperti yang dilansir dari The Hindu.<\/p>\n<p>Selama ritual kirtan, Lalit biasa duduk di depan. Selama bertahun-tahun ia telah menggantikan peran Bhopal Singh dalam keluarga.<\/p>\n<p>Pada 7 September 2007, nama Bhopal Singh pertama kali disebutkan dalam buku harian Lalit.<\/p>\n<p>Pada tanggal itu, dituliskan bahwa &#8220;roh&#8221; Bhopal Singh meminta untuk menyimpan foto hitam putihnya.<\/p>\n<p>&#8220;Mann mein dhyan yahi rakho ki Daddy meri purani aadatein chhut jaye&#8221; (berdoa agar kamu menyingkirkan kebiasaan lama).<\/p>\n<p>Dituliskan dengan nada yang tegas hampir memarahi untuk semua anggota keluarga mengikuti instruksi. Mereka didekte untuk melakukan rutinitas sehari-hari, sebagai cara untuk memperbaiki keuangan keluarga.<\/p>\n<p>Catatan buku harian itu memiliki pengaruh besar pada cara semua anggota keluarga menjalani kehidupan mereka selanjutnya.<\/p>\n<p>Dhruv alias Dushyant (15 tahun) dan Shivam (15 tahun) adalah dua remaja laki-laki yang cerdas dan selalu mendapatkan nilai bagus dalam ujian.<\/p>\n<p>Keduanya sangat menyukai sepeda motor dan mobil, yang tidak dimiliki keluarga mereka.<\/p>\n<p>Menurut teman mereka, Jatin, kedunya biasa belajar setidaknya 2 jam sebelum pergi main di malam hari.<\/p>\n<p>&#8220;Kami dulu bermain kriket dan bersepeda hampir setiap hari. Tetapi, entah kenapa mereka tidak datang bermain di minggi terakhir Juni (2018),&#8221; kata Jatin (15 tahun).<\/p>\n<p>Jatin mengatakan baik Dhruv dan Sivan sangat &#8220;takut akan Tuhan&#8221; di bandingkan teman-teman seusia mereka.<\/p>\n<p>&#8220;Pada hari Minggu mereka biasa menyembah matahari dengan mempersembahkan air. Anak laki-laki seusia kamai biasanya tidak melakukan itu,&#8221; kata Jatin.<\/p>\n<p>Sementara teman yang lain berkata, kedua remaja itu tidak memiliki akses ke laptop dan ponsel. Keduanya hanya bisa menggunakan komputer di rumah dengan pengawasan orang yang lebih tua.<\/p>\n<p>Para tetangga juga bercerita kepada polisi bahwa Dhruv sering mengatakan kepada anak-anak di daerah Burari bahwa &#8220;paman (Lalit) sering dirasuki roh kakek&#8221;.<\/p>\n<p><b>Kasus psikosis bersama dari kisah kematian 11 anggota keluarga Burari India<\/b><\/p>\n<p>Tunangan Priyanka mengatakan bahwa dia adalah wanita normal dan tidak pernah menyinggung tentang praktik &#8220;gaib&#8221;.<\/p>\n<p>Sebelumnya, dia juga tidak menunjukkan perilaku ingin bunuh diri.<\/p>\n<p>Temuan-temuan membuat polisi percaya bahwa kematian 11 anggota keluarga itu menderita &#8220;psikosis bersama&#8221;, lebih dari sekedar pengalaman gaib.<\/p>\n<p>Psikosis bersama artinya bahwa keyakinan delusi ditransmisikan dari satu orang ke orang lain.<\/p>\n<p>Dalam kasus ini, Lalit Bhatia (45 tahun) adalah orang yang mengalami delusi berbicara dengan ayahnya yang telah meninggal. Keyakinannya kemudian didukung oleh anggota keluarga lainnya yang ikut percaya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211;Pada 2018, terjadi kisah kematian 11 anggota keluarga di dalam kamar rumah di daerah Burari, New Delhi, India, akibat dari sebuah ritual pemujaan &#8220;badh tapasya&#8221; (pemujaan pohon beringin) yang salah. Sepuluh mayat anggota keluarga bergelantung di langit-langit berkawat di satu ruangan yang sama, satu mayat lainnya ditemukan tewas tergeletak di lantai dengan luka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":140098,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[243,1420],"series":[],"class_list":["post-140097","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-hukum","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/140097","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=140097"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/140097\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/140098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=140097"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=140097"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=140097"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=140097"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}