{"id":252300,"date":"2023-10-01T21:10:00","date_gmt":"2023-10-01T14:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2023\/10\/01\/gp-ansor-bela-yaqut-dari-pkb-pernyataan-menag-untuk-beri-pendidikan-politik-warga\/"},"modified":"2023-10-02T04:45:11","modified_gmt":"2023-10-01T21:45:11","slug":"gp-ansor-bela-yaqut-dari-pkb-pernyataan-menag-untuk-beri-pendidikan-politik-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2023\/10\/01\/gp-ansor-bela-yaqut-dari-pkb-pernyataan-menag-untuk-beri-pendidikan-politik-warga\/","title":{"rendered":"GP Ansor Bela Yaqut dari PKB: Pernyataan Menag untuk Beri Pendidikan Politik Warga"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><\/p>\n<p><b> <\/b>Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak masyarakat untuk cerdas dalam memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada pemilu yang berlangsung Februari 2024. Menag mengingatkan warga bangsa untuk melihat rekam jejak capres dan cawapres.<\/p>\n<p>Pilihan tidak semata didasarkan pada tampilan fisik dan cara berkomunikasi, tapi juga pada rekam jejak kinerjanya serta perhatiannya kepada seluruh warga bangsa di tengah keragaman yang ada.<\/p>\n<p>Wakil Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Wibowo Presetyo menilai pernyataan Menag justru sangat positif dan edukatif. Menag tidak menyebut sosok tapi kriteria, sehingga memancing warga untuk lebih cerdas dalam memilih calon pemimpin bangsa.<\/p>\n<p>\u201cPernyataan Menteri Agama itu normatif, memberikan pendidikan politik kepada warga negara agar memilih calon pemimpin tidak dari penampilan saja tapi juga dari track record-nya, dari jejak rekamnya,\u201d terang Wibowo Prasetyo di Jakarta, Minggu (1\/10\/2023).<\/p>\n<p>\u201cTrack record capres dan cawapres sangat penting, terutama rekam jejak dalam penggunaan agama sebagai alat politik. Sebagai Menteri Agama, Gus Men tentu harus menyampaikan hal ini ke publik sebagai pendidikan politik,\u201d sambungnya.<\/p>\n<p>Meski Menag tidak menyebut nama, pernyataan ini direspons oleh Ketua PKB Abdul Muhaimin Iskandar dan Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid. Keduanya menyebut pernyataan Menag sebagai omongan buzzer. Bahkan, Jazil mengatakan bahwa pihaknya akan mengambil langkah pendisiplinan.<\/p>\n<p>\u201cSoal pendisiplinan, saya kira itu terlalu reaktif dan arogan. Faktanya, Gus Men sama sekali tidak menyebut nama dalam pernyataannya. Sekali lagi, Gus Men hanya menyebut kriteria dan itu wajar babkan perlu untuk Pendidikan politik,\u201d tegas Wibowo.<\/p>\n<p>Hal senada disampaikan Kadensus 99 PP GP Ansor Nuruzzaman. Menurutnya, respons Muhaimin Iskandar dan Jazilul Fawaid dinilai berlebihan. \u201cCak Imin dan Jazil ini politisi baperan. Pernyataan seperti itu memang harus disampaikan Gus Men sebagai Menteri Agama,\u201d tegas Nuruzzaman.<\/p>\n<p>\u201cKalau jadi politisi baperan mending berhenti saja dari politisi. Mereka berdua juga dapat gaji dari uang rakyat lho. Tugas mereka bukan mem-framing pernyataan Menag tapi harusnya mendukung pernyataannya,\u201d tukasnya.<\/p>\n<p>Menurut pria yang akrab disapa Bib Zaman ini, respons Cak Imin dan Jazil harus dipertanyakan. \u201cJangan-jangan mereka berdua baper karena merasa menggunakan agama untuk kepentingan elektoral? Harusnya mereka berdua setuju dengan pernyataan menteri agama. Kenapa jadi takut dan baper begitu?\u201d tandasnya.<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 14px; color: #999999;\"><em><b>Sumber:<\/b> <a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"color: #999999;\" href=\"https:\/\/www.gelora.co\/2023\/10\/gp-ansor-bela-yaqut-dari-pkb-pernyataan.html\">Gelora <\/a><\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak masyarakat untuk cerdas dalam memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada pemilu yang berlangsung Februari 2024. Menag mengingatkan warga bangsa untuk melihat rekam jejak capres dan cawapres. Pilihan tidak semata didasarkan pada tampilan fisik dan cara berkomunikasi, tapi juga pada rekam jejak kinerjanya serta perhatiannya kepada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":252301,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[242],"series":[],"class_list":["post-252300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/252300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=252300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/252300\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/252301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=252300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=252300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=252300"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=252300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}