{"id":35257,"date":"2022-06-09T20:10:00","date_gmt":"2022-06-09T13:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/harianaceh.co.id\/?p=35257"},"modified":"2022-06-09T20:10:50","modified_gmt":"2022-06-09T13:10:50","slug":"tokoh-senior-nu-dukung-jenderal-dudung-jaga-persatuan-dan-rekatkan-anak-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2022\/06\/09\/tokoh-senior-nu-dukung-jenderal-dudung-jaga-persatuan-dan-rekatkan-anak-bangsa\/","title":{"rendered":"Tokoh Senior NU Dukung Jenderal Dudung Jaga Persatuan dan Rekatkan Anak Bangsa"},"content":{"rendered":"<p><a target=\"_blank\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2022\/06\/Tokoh-Senior-NU-Dukung-Jenderal-Dudung-Jaga-Persatuan-dan-Rekatkan.jpeg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\" rel=\"noopener\"><\/a><\/p>\n<p><b>BANDA ACEH<\/b> &#8211; Upaya Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman merekatkan kembali tokoh lintas agama dan anak bangsa menuai dukungan dan apresiasi.\u00a0<\/p>\n<p>Mantan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Marsudi Syuhud mengatakan, upaya Jenderal Didudung tersebut merupakan perbuatan amal saleh, dan perlu didukung.<\/p>\n<p>\u201cKetika pak Dudung berusaha untuk (menyatukan tokoh lintas agama dan anak bangsa) itu ya saya setuju dan saya mendukung,\u201d ujar Marsudi saat dihubungi, Rabu (8\/6\/2022).<\/p>\n<p>Pendapat Marsudi ini terkait perihal upaya Jenderal Dudung yang mencoba menyatukan tokoh lintas agama dan semua elemen anak bangsa. Ini terkait Dudung yang sudah membangun silaturahmi dengan kiyai-kiyai di sejumlah pesantren. Selain itu, Dudung juga mengunjungi Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI).<\/p>\n<p>Menurut Marsudi, sebagai anak bangsa Jenderal Dudung memang berhak dan memiliki kewajiban menjaga keberagaman dan persatuan bangsa\u00a0<\/p>\n<p>\u201cKarena kita sudah diikat dengan tali<\/p>\n<p>Mu\u2019ahadah Wathaniyah, negara kebangsaan, musyawarah mufakat untuk menyatukan diri dari perbedaan-perbedaan yang ada,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sebab, lanjut dia, anak bangsa Indonesia beraneka ragam, termasuk dalam hal agama. Keaneka ragamanan ini harus dijunjung tinggi. Marsudi kemudian mencontohkan keaneka ragaman Indonesia dengan Negara Madinah pada saat dipimpinan Nabi Muhammad SAW.<\/p>\n<p>\u201cDi Madina itu ada anak bangsa, ketika itu ada yang Nasrani, Yahudi, Majusi, dan Islam. Islam ada (kaum) Muhajirin dan Ansor. Semua anak bangsa itu termasuk suku-sukunya dan qobail-qobailnya itu disatukan dengan perjanjian Madinah,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Menurut Marsudi, perjanjian Madinah tersebut adalah terkait kesepakatan hidup bersama, rukun dan harmonis kendati berbeda-beda keyakinan.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cBerang siapa yang yang sepakat sependapat untuk bersama-bersama hidup bersatu padu walau berbeda-berbeda, mereka yang beda-beda itu tadi menjadi bangsa yang satu,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n<p>Marsudi berharap tidak ada pihak-pihak yang melakukan provokasi untuk memecah belah persatuan dan keberagaman Indonesia. Jika ada yang mencoba melakukan provokasi, Marsudi mengatakan hal itu perlu dilawan. Tapi, cara melawannya, kata dia, jangan dengan kekerasan.<\/p>\n<p>\u201cKarena ini sebuah pemahaman, sebuah paham, maka melawannya harus pakai paham. Bagaimana cara melawan pkai paham? Ya paham-paham kita, ajaran Rasulullah, ajaran agama tinggal diikuti saja. Wong dulu para pendiri bangsa ini mengikuti cara Rasulullah ketika membangun negara Madina, gitu. Cara melawannya ya jangan dengan cara kekerasan juga. Cara melawannya dengan cara memberikan pemahaman,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Upaya Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman merekatkan kembali tokoh lintas agama dan anak bangsa menuai dukungan dan apresiasi.\u00a0 Mantan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Marsudi Syuhud mengatakan, upaya Jenderal Didudung tersebut merupakan perbuatan amal saleh, dan perlu didukung. \u201cKetika pak Dudung berusaha untuk (menyatukan tokoh lintas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":35258,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[12833,28715,35432,35433],"series":[],"class_list":["post-35257","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-nahdlatul-ulama","tag-jenderal-dudung","tag-tokoh-senior-nu","tag-dudung-abdurachman"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/35257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=35257"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/35257\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/35258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=35257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=35257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=35257"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=35257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}