{"id":414465,"date":"2025-01-21T20:09:00","date_gmt":"2025-01-21T13:09:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/01\/21\/kholid-nelayan-banten-sindir-pemerintah-kalau-nggak-berani-lawan-korporasi-saya-yang-akan-lawan\/"},"modified":"2025-01-21T21:35:08","modified_gmt":"2025-01-21T14:35:08","slug":"kholid-nelayan-banten-sindir-pemerintah-kalau-nggak-berani-lawan-korporasi-saya-yang-akan-lawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/01\/21\/kholid-nelayan-banten-sindir-pemerintah-kalau-nggak-berani-lawan-korporasi-saya-yang-akan-lawan\/","title":{"rendered":"Kholid Nelayan Banten Sindir Pemerintah: Kalau Nggak Berani Lawan Korporasi, Saya yang Akan Lawan!"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b>\u00a0 &#8211; Nelayan asal Desa\/Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Kholid, menyindir pemerintah soal situasi yang tengah ia dan rekan-rekannya hadapi, terkait pagar laut misterius sepanjang 30,16 kilometer.<\/p>\n<p>Kholid, satu dari sekian nelayan yang terdampak buntut pagar laut tersebut, mengaku sudah sejak lama harus berhadapan dengan korporasi-korporasi dalam mempertahankan lahan.<\/p>\n<p>Korporasi-korporasi itu ia sebut berkaitan dengan proyek strategis nasional (PSN) Pantai Indah Kapuk (PIK).<\/p>\n<p>Ia bercerita, korporasi-korporasi itu menggunakan cara licik dalam membeli lahan milik warga di Tangerang.<\/p>\n<p>Awalnya, ungkap Kholid, pihak korporasi tiba-tiba akan mengurug lahan milik warga setempat, lalu memberinya uang muka.<\/p>\n<p>&#8220;Si A punya tanah nggak mau jual, tiba-tiba diurug. Setelah diurug, disamperin, dikasih DP.&#8221;<\/p>\n<p>Baca juga: Singgung Nama <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/anies-baswedan\/\">Anies Baswedan<\/a> saat Bicara Gugatan ke PIK 1, Kholid Nelayan Tangerang: Agak Tenang tuh<\/p>\n<p>&#8220;Nggak diterima, tanah udah diurug. Diterima, nggak sesuai harganya. Ini kan sama dengan, &#8216;Eh kasih, nggak?!&#8217;. Bedanya bukan mau dipukul, diurug dulu,&#8221; tutur Kholid saat menjadi narasumber dalam siniar Abraham Samad SPEAK UP yang tayang pada Sabtu (18\/1\/2025).<\/p>\n<p>Tak hanya lahan di darat, lanjut Kholid, tambak-tambak petani bandeng juga turut menjadi korban.<\/p>\n<p>&#8220;(Contohnya) saya petani tambak, ternak ikan bandeng, butuh sirkulasi air, (tapi) sungainya diurug.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Begitu terus, akhirnya ikan bisa mati. Tiba-tiba (pihak korporasi) datang, &#8216;udah dibeli aja, dijual aja&#8217;.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Ya dijual lah, pusing. Dibeli murah Rp50.000 per meter,&#8221; bebernya.<\/p>\n<p>Atas hal itu, Kholid mengaku tak ingin dirinya berada di bawah kontrol korporasi.<\/p>\n<p>Ia bahkan bersumpah memilih mati, jika sampai kehidupannya berada di bawah korporasi, bukan negara.<\/p>\n<p>Meski demikian, Kholid mengaku negara seperti tak hadir membela rakyat kecil sepertinya.<\/p>\n<p>&#8220;Saya merasa, sebagai nelayan, sebagai petani, bukan diurus oleh negara, tapi diurus oleh korporasi.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Makanya saya sebagai rakyat, petani, nelayan, enggak sudi dipimpin oleh korporasi. Nggak sudi! Lebih baik mati saya mah!&#8221; tegas Kholid.<\/p>\n<p>Ia lantas menyindir pemerintah terkait apa yang dirasakannya.<\/p>\n<p>Jika negara tak bisa melawan korporasi demi rakyat kecil, kata Kholid, maka dirinya lah yang akan turun tangan sendiri.<\/p>\n<p>Kholid memastikan ia akan melawan korporasi, bahkan jika perlu mengerahkan rekan-rekan seperjuangannya.<\/p>\n<p>&#8220;Saya pingin ngomong ama negara. Kalau negara nggak berani melawan korporasi, saya yang akan melawan!&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Saya akan kerahkan rakyat Banten untuk melawan,&#8221; kata Kholid.<\/p>\n<p>&#8220;Walaupun (rakyat) kecil, saya berani. Harusnya negara yang punya alat, instrumen, untuk melindungi rakyat,&#8221; pungkas dia.<\/p>\n<p>Kholid diketahui merupakan nelayan asal Desa Kronjo yang termasuk vokal mendesak pemerintah untuk mengusut kasus pagar laut.<\/p>\n<p>Ia juga termasuk nelayan yang hadir saat mediasi bersama Ombudsman RI pada Desember 2024.<\/p>\n<p><b>Sudah Pernah Melapor<\/b><\/p>\n<p>Sebelumnya, Kholid mengaku, bersama rekan-rekannya, ia sudah melapor soal pagar laut. Laporan itu diajukannya pada Desember 2024.<\/p>\n<p>Bahkan, ia sempat audiensi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten.<\/p>\n<p>Selama audiensi itu, ungkap Kholid, pihak DKP Provinsi Banten mengakui pagar laut di perairan Tangerang tidak memiliki izin.<\/p>\n<p>&#8220;Sudah (melapor). Saya sudah mencoba audiensi dengan DKP Provinsi, mereka tahu (ada pagar laut) dan mereka juga bilang bahwa ini tanpa izin, ilegal,&#8221; tutur Kholid dalam wawancara bersama tvOneNews, Minggu (12\/1\/2025).<\/p>\n<p>&#8220;(Saya melapor) sekitar sebulan kemarin (Desember)&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p>Meski sudah melapor dan audiensi dengan DKP Provinsi Banten, Kholid menyebut belum ada tindak lanjut.<\/p>\n<p>Sebab, kepada Kholid, pihak DKP Provinsi Banten mengatakan hanya bisa melaporkan ke pihak atasan.<\/p>\n<p>&#8220;Dari DKP mengatakan, kami hanya bisa melaporkan. Pada waktu itu saya nggak tahu melaporkan ke mana, atasannya ke mana.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Yang jelas DKP sudah tahu (soal pagar laut), pusat juga sudah tahu,&#8221; tukas Kholid.<\/p>\n<p>Diketahui, pagar laut sepanjang 30 km ini membentang dari Desa Muncung hingga Desa Pakuhaji.<\/p>\n<p>Pagar misterius itu kali pertama ditemukan pada 14 Agustus 2024, ketika Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten menerima informasi terkait aktivitas pemagaran laut.<\/p>\n<p>Meski demikian, belum diketahui siapa pemilik yang bertanggung jawab atas pemasangan pagar laut tersebut.<\/p>\n<p>Terkait hal itu, Presiden <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/prabowo-subianto\/\">Prabowo Subianto<\/a> telah memerintahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk segera membongkar dan mengusut tuntas kasus pagar laut.<\/p>\n<p>Sementara, Komisi IV DPR RI akan memanggil KKP untuk dimintai klarifikasi<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/414465?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH\u00a0 &#8211; Nelayan asal Desa\/Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Kholid, menyindir pemerintah soal situasi yang tengah ia dan rekan-rekannya hadapi, terkait pagar laut misterius sepanjang 30,16 kilometer. Kholid, satu dari sekian nelayan yang terdampak buntut pagar laut tersebut, mengaku sudah sejak lama harus berhadapan dengan korporasi-korporasi dalam mempertahankan lahan. Korporasi-korporasi itu ia sebut berkaitan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":414466,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-414465","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/414465","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=414465"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/414465\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/414466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=414465"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=414465"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=414465"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=414465"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}