{"id":417042,"date":"2025-02-10T10:55:11","date_gmt":"2025-02-10T03:55:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=417042"},"modified":"2025-02-10T10:58:19","modified_gmt":"2025-02-10T03:58:19","slug":"ketika-nasib-rakyat-tergadai-untung-rugi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/02\/10\/ketika-nasib-rakyat-tergadai-untung-rugi\/","title":{"rendered":"Ketika Nasib Rakyat Tergadai Untung Rugi"},"content":{"rendered":"<p><span class=\"dropcap\">M<\/span>ESKI kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) <a title=\"Bahlil Lahadalia\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/bahlil-lahadalia\/\">Bahlil Lahadalia<\/a> tentang pelarangan pembelian gas <a title=\"LPG 3 kg\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/lpg-3-kg\/\">LPG 3 kg<\/a> di pengecer sudah direvisi oleh Presiden Prabowo beberapa hari kemudian akibat mengularnya antrean masyarakat ketika mendapatkannya karena barang di pasaran menjadi langka.<\/p>\n<p>Bahkan sudah memakan korban satu orang ibu di Tangerang. Patut kita pertanyakan mengapa bisa berdampak demikian mengenaskan. Bahlil mengaku ini hanya penataan, tidak berhubungan dengan kelangkaan stok, karena ia jamin masih aman di pangkalan. Negara kita kaya raya, mengapa pembatasan membuat langka?<\/p>\n<p>Bukannya menjawab pertanyaan, pemerintah justru terus saja mengeluarkan kebijakan yang makin membebani, di antaranya, pembelian gas elpiji kini mensyaratkan menunjukkan KTP dan memastikan data pembeli terdaftar dalam database pemerintah, seperti P3KE dan DTKS. Meski skema distribusi dikembalikan ke asal, tetap saja memunculkan keresahan, sekelas negara mengapa bisa membuat kebijakan yang berantakan? Seolah tes the water, apa reaksi masyarakat jika diguncang dengan satu isu? Sungguh malang nasib rakyat, selalu menjadi kelinci percobaan sekaligus obyek penderita.<\/p>\n<p>Kebijakan berikutnya, Bahlil Lahadalia bakal membentuk badan khusus untuk mengawasi distribusi dan penyaluran elpiji 3 kilogram (kg), seperti yang diterapkan pada bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga untuk memastikan penyaluran elpiji bersubsidi tersebut tepat sasaran, serta harganya sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Terlalu bertele-tele dan pemborosan dana, sebab tidak cukup hanya pada satu lembaga saja untuk sekadar mengadakan pengawasan.<\/p>\n<p>Kembali Bahlil menegaskan bahwa kebijakan larangan pengecer elpiji 3 kg tidak dibatalkan, melainkan ditata ulang dengan menaikkan status pengecer menjadi subpangkalan PT Pertamina (Persero). Jika kontrol melalui sistem digital Pertamina sudah bisa terlaksana, maka pengecer bisa naik menjadi subpangkalan. Sekaligus melalui aplikasi yang tersedia bisa terpantau dijual ke siapa, harganya berapa, harapannya tidak ada Mark up dan dijual ke oplosan.<\/p>\n<p>Sekilas upaya pemerintah terlihat baik, namun faktanya, persyaratan membuka usaha pangkalan tidaklah mudah, selain syaratnya rumit juga butuh pendanaan yang besar, belum tentu setiap pengecer mampu. Dan apa kata Bahlil?, &#8221; sorry ya, pasti setiap usaha butuh modal, tapi saya bukan pengusaha&#8221;. Yang tertangkap dari entengnya tanggapan adalah ya usaha sendiri, sudah untung negara mau memfasilitasi, meski hanya sebatas payung hukum.<\/p>\n<p>Ada lagi usulan dari anggota Komisi XII DPR RI yang membawahi sektor energi Eddy Soeparno, bahwa masalah distribusi LPG ini bisa memunculkan potensi perubahan pola subsidi. Misalnya dari subsidi barang atau pemotongan harga langsung kepada harga gas menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT) khusus gas elpiji 3 kg. Namun diakui Eddy, agar penerapan subsidi bisa berjalan lancar dibutuhkan data penerima yang sudah disempurnakan.<\/p>\n<h4>Pemerintah Beritung Untung Rugi dalam Pelayanan Kepada Rakyat<\/h4>\n<p>Kembali pada pertanyaan, mengapa seolah rakyat Indonesia menjadi anak ayam yang mati di Lumbung? Jawabannya bahwa negara Indonesia masih impor LPG. Padahal produk gas alam Indonesia depositnya juga tak main-main saking banyaknya, yang terjadi malah mengekspor gas alam tersebut hanya karena perbedaan antara bahan LPG dan gas alam (LNG).<\/p>\n<p>Sebetulnya, tahun 2007 lebih pemerintah telah melakukan konversi besar-besaran dari minyak tanah ke gas elpiji yang berbasis tabung. Pada saat yang sama, pemerintah tidak konversi gas, baik tabung maupun pipa, padahal bisa dengan skema distribusi jaringan pipa gas prioritas untuk perkotaan, sementara gas tabung diperuntukan untuk wilayah pedesaan.<\/p>\n<p>Karena deposit LPG yang sedikit di Indonesia, maka pemerintah mengadakan impor, yang sejatinya malah menguras devisa.Sementara dengan gas alam yang diproduksi dan melimpah di Indonesia, harus menggunakan jaringan pipa untuk distribusinya pemerintah enggan untuk bersegera mengelolanya juga tentu dengan alasan minimnya keuangan negara.<\/p>\n<p>Gas bumi atau gas alam, jumlahnya melimpah di Indonesia. Setelah dieksplore kemudian distribusikan dengan mengubahnya menjadi LNG (Liquefied Natural Gas). Namun karena berbeda karakteristik dengan LPG (Liquified Petrolium Gas) yaitu komponen LPG didominasi oleh propane dan butane. Jenis gas ini memiliki massa jenis yang lebih besar daripada LNG.<\/p>\n<p>Tekanan yang dibutuhkan untuk mencairkan LPG cukup rendah sehingga sesuai untuk konsumen rumah tangga. Sifatnya mudah disimpan dan bisa langsung dibakar untuk dimanfaatkan tanpa perlu infrastruktur khusus. Sedangkan LNG adalah gas yang didominasi oleh metana dan etana yang didinginkan hingga menjadi cair pada suhu antara -150\u00b0C sampai -200\u00b0C.<\/p>\n<p>Pengembangan dan pemanfaatan LNG memerlukan infrastruktur yang lebih kompleks. Di sisi hulu, pengembangan LNG tidak hanya memerlukan fasilitas produksi biasa, tapi membutuhkan kilang yang mampu mencairkan gas tersebut sampai suhu yang ditentukan.<\/p>\n<p>Fasilitas pendingin dan tangki kriogenik ini membutuhkan investasi sangat besar. Di sisi hilir, pemanfaatan LNG memerlukan fasilitas untuk mengubah LNG menjadi gas kembali yang disebut LNG regasification terminal. Selain fasilitas regasifikasi, pemanfaatan gas yang dihasilkan juga memerlukan jaringan pipa untuk sampai ke konsumen.<\/p>\n<p>Dengan kebutuhan akan temperatur sangat rendah, LNG tidak bisa diedarkan dalam bentuk tabung-tabung layaknya LPG. Tapi, pemanfaatan LNG memerlukan fasilitas regasifikasi sekaligus sistem transportasi terintegrasi ke pengguna. Inilah yang bisa jadi dianggap kurang strategis bagi pemerintah dari sisi pendanaan.<\/p>\n<p>Melihat fakta ini, sebenarnya menjadi tantangan bagi negara, mengingat negara memiliki segala sarana dan prasarana mengelolanya, tinggal ada kesungguhan atau tidak. Bagaimana pun ribetnya pengelolaan LNG hingga bisa sampai kepada masyarakat tetap menjadi kewajiban negara untuk mengelolanya. Namun nyatanya, hari ini beralih kepada investor. Dan skema pembiayaannya berupa investasi sehingga bukan murni milik negara. Jatuhnya tetap hitungan untung rugi sebab investor ini pengusaha murni.<\/p>\n<h4>Islam Lindungi Harta Milik Umum<\/h4>\n<p>Rasulullah Saw. bersabda, &#8220;<em>Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api; dan harganya adalah haram<\/em>.\u201d (HR Ibnu Majah, Abu Dawud dan Ahmad).<\/p>\n<p>Hadis ini menjelaskan bahwa berserikatnya manusia baik kafir maupun muslim dalam ketiga hal bukanlah karena zatnya, tetapi karena sifatnya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak atau masyarakat dan jika tidak ada, mereka akan berselisih atau terjadi masalah dalam mencarinya.<\/p>\n<p>Maka wajib bagi negara menjamin pemanfaatannya benar-benar untuk kemaslahatan umat. Agar tidak terjadi hal yang membahayakan rakyat. Termasuk dalam tindakan zalim jika negara abai bahkan dengan sengaja menjual kepada asing sementara kepada rakyat memungut pajak. Pengaturan yang zalim ini hanya ada dalam Sistem Kapitalisme. Dimana asasnya adalah manfaat dan bukan halal haram.<\/p>\n<p>Sejarah dunia tak mungkin dilepaskan dari sejarah kejayaan Islam itu sendiri saat memimpin dunia dengan syariat. Para Khalifah dengan segenap daya upaya mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya dengan mendorong para ilmuwan, alim ulama hingga masyarakat untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Di sisi lain, negara hadir secara hakiki menjamin terpenuhinya kebutuhan asasiyah rakyat individu per individu seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, sandang, pangan dan papan.<\/p>\n<p>Will Durant, seorang sejarahwan barat memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan:<\/p>\n<p>&#8220;Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka&#8221;<\/p>\n<p>Hal ini terwujud karena kepemimpinan dalam Islam bukan semata kekuasaan yang dimiliki seseorang untuk mengatur semua urusan, melainkan untuk menerapkan syariat Islam. Bukan yang lain. Sebagaimana Ustman Bin Affan mengatakan,\u201cSesungguhnya Allah akan menegakkan dengan otoritas kekuasaan (kekuatan) atas sesuatu yang tidak bisa ditegakkan hanya dengan Al-Qur\u2019an (maupun dakwah).\u201d<\/p>\n<p><em>Wallahualam bissawab<\/em>.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tentang pelarangan pembelian gas LPG 3 kg di pengecer sudah direvisi oleh Presiden Prabowo beberapa hari kemudian akibat mengularnya antrean masyarakat ketika mendapatkannya karena barang di pasaran menjadi langka.<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":417043,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"rakyat","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[37],"tags":[665,12981,321638,321691],"series":[],"class_list":["post-417042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-lpg-3-kg","tag-bahlil-lahadalia","tag-pengecer-elpiji-3-kg","tag-lpg-3-kg-langka"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/417042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=417042"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/417042\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/417043"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=417042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=417042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=417042"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=417042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}