{"id":418146,"date":"2025-02-12T08:27:00","date_gmt":"2025-02-12T01:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/02\/12\/keracunan-massal-beruntun-dari-cianjur-ponorogo-hingga-sleman-ratusan-warga-jadi-korban\/"},"modified":"2025-02-12T11:26:03","modified_gmt":"2025-02-12T04:26:03","slug":"dari-cianjur-ponorogo-hingga-sleman-keracunan-massal-beruntun-ratusan-warga-jadi-korban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/02\/12\/dari-cianjur-ponorogo-hingga-sleman-keracunan-massal-beruntun-ratusan-warga-jadi-korban\/","title":{"rendered":"Dari Cianjur, Ponorogo hingga Sleman, Keracunan Massal Beruntun Ratusan Warga Jadi Korban"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b>\u00a0 &#8211; Kasus <a title=\"keracunan massal\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/keracunan-massal\/\">keracunan massal<\/a> terjadi di tiga wilayah berbeda di awal tahun 2025 ini.<\/p>\n<p>Keracunan massal terjadi di Cianjur, Jawa Barat pada Senin 10 Februari 2025.<\/p>\n<p>Di Ponorogo, Jawa Timur, menyebabkan 1 warga meninggal dunia.<\/p>\n<p>Dan di dua tempat di Sleman, Yogyakarta, tepatnya di Padukuhan Krasakan, Kapanewon Tempel, dan Padukuhan Sanggrahan, Mlati pada Sabtu 8 Februari 2025.<\/p>\n<p>Jika ditotal keracunan massal ini telah menyebabkan ratusan orang jadi korban dan harus dirawat di rumah sakit.<\/p>\n<h4>A. Keracunan Massal di Cianjur<\/h4>\n<p>Pada Senin 10 Februari 2025 lalu, pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur, Jawa Barat, membenarkan ada enam warga yang mengalami keracunan.<\/p>\n<p>Menurut dia, enam warga itu mengalami sejumlah gejala seperti muntah, demam, dan mual.<\/p>\n<p>&#8220;Enam warga Kecamatan Cibeber tersebut merupakan dari dua keluarga, terdiri dari A (80), MBA (25), MP (13), RNP (10), ZA (7), dan SS (23),&#8221;\u00a0 kata Humas RSUD Sayang Cianjur, Asep Holman dikutip <em>HARIANACEH.co.id<\/em> dari Tribun Jabar.<\/p>\n<p>Berdasarkan informasi yang dihimpun satu keluarga tersebut mengalami gejala keracunan mual, muntah, dan demam.<\/p>\n<p>&#8220;Dua keluarga itu mengalami keracunan setelah mengonsumsi jamur rampak kidang atau jamur tangkil yang diambil dari kebun pribadi,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Jamur yang diambil tersebut lanjut dia, dimasak dengan cara ditumis, dan ditambahkan beberapa bumbu &#8211; bumbu, lalu dimakan sebagai lauk nasi.<\/p>\n<p>&#8220;Seharusnya, jamur itu tidak boleh dimakan saat panas, tunggu dingin baru dimakan. Ayah saya pun ikut makan. Rata-rata makannya setengah mangkok,&#8221; katanya.<\/p>\n<h4>B. Keracunan massal di Ponorogo<\/h4>\n<p>46 orang keracunan massal di Ponorogo, 1 diantaranya meninggal dunia.<\/p>\n<p>Kasus ini berawal pada saat warga sedang mengikuti acara selamatan.<\/p>\n<p>Aparat Polres Ponorogo menangani kasus ini.<\/p>\n<p>Per Sabtu 8 Februari 2025 kemarin, kasus sudah naik ke tingkat penyidikan.<\/p>\n<p>Polisi mengambil sampel makanan dari dua lokasi yaitu Desa Bondrang dan Pondok Pesantren di Desa Belang.<\/p>\n<p>Sampel makanan itu dibawa ke laboratorium.<\/p>\n<p>Warga tidak langsung mual dan diare di hari setelah menyantap.<\/p>\n<p>Akan tetapi, baru dirasakan keesokan harinya.<\/p>\n<p>Keracunan terjadi di dua tempat yakni Desa Bondrang, Kecamatan Sawoo dan Desa Belang, Kecamatan Bungkal.<\/p>\n<p>&#8220;Dari hasil laboratorium, yang terbitkan Labkesda Ponorogo, membuahkan hasil. Mengandung bakteri,&#8221; ujar\u00a0 Kasat Reskrim Polres Ponorogo, AKP Rudy Hidajanto, Sabtu (8\/2\/2025) dikutip dari TribunJatim.com.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, kandungan bakteri tersebut ditemukan di makanan dan di air kran rumah pemilik katering.<\/p>\n<p>&#8220;Dilihat dari hasil laboratorium bakteri ada pada makanan, di air juga ada kandungan bakteri,&#8221; papar mantan Kasatreskrim Polres Magetan ini.<\/p>\n<p>Pihak laboratorium, lanjut Rudy, nantinya bakal menjelaskan lebih rinci kandungan bakteri apa yang ditemukan di makanan tersebut.<\/p>\n<h4>C. Kasus Keracunan Makanan di Sleman<\/h4>\n<p>Kasus keracunan terjadi di dua tempat di Sleman yaitu Padukuhan Krasakan, Kapanewon Tempel, dan Padukuhan Sanggrahan, Mlati.<\/p>\n<p>Diduga penyebab keracunan adalah siomai.<\/p>\n<p>Penyedia siomai pada Sabtu (8\/2\/2025) membuat tiga pesanan di lokasi berbeda.<\/p>\n<p>Namun hingga saat ini kasus keracunan dilaporkan di dua lokasi.<\/p>\n<p>Setelah memakan siomai, ratusan orang di Padukuhan Krasakan, Tempel mengeluh demam hingga diare.<\/p>\n<p>Para korban diduga keracunan makanan yang disantap saat hajatan.<\/p>\n<p>Siomai itu dikonsumsi warga pada Sabtu (8\/2\/2025) malam.<\/p>\n<p>Sementara gejala keracunan mulai terasa pada Minggu (9\/2\/2025) dinihari.<\/p>\n<p>Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Pengendalian Lingkungan Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati mengungkapkan tercatat jumlah korban dari dua tempat di Sleman mencapai ratusan orang.<\/p>\n<p>Dengan rincian di Padukuhan Krasakan, Kapanewon Tempel jumlah korban 162 orang, diopname 47 orang, dan rawat jalan\u00a0 115 orang.<\/p>\n<p>Di Padukuhan Sanggrahan, Mlati jumlah korban 39 orang dan diopname\u00a0 5 orang.<\/p>\n<p>Di Krasakan, ratusan warga mengalami mual, demam, nyeri otot, hingga dehidrasi setelah mengonsumsi makanan yang dihidangkan dalam sebuah acara pesta pernikahan yang dihadiri 500 tamu pada Sabtu (8\/2\/2025) lalu.<\/p>\n<p>Pada hari yang sama, di Dusun Sanggrahan, puluhan warga mengalami mual, diare, lemas, nyeri sendi, pusing kepala, muntah, kram perut, hingga sesak napas setelah mengonsumsi makanan di sebuah acara arisan.<\/p>\n<p>Dilansir Tribun Jogja, imbas kasus ini ada delapan orang saksi yang sudah diperiksa Polresta Sleman.<\/p>\n<p>Mereka adalah penyelenggara hajatan, korban yang sudah sehat, maupun penyedia makanan, termasuk penyaji siomay<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 14px; color: #999999;\"><em><b>Sumber:<\/b> <a target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" style=\"color: #999999;\" href=\"https:\/\/www.BANDA ACEH\/2025\/02\/keracunan-massal-beruntun-dari-cianjur.html\">Media <\/a><\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasus keracunan massal terjadi di tiga wilayah berbeda di awal tahun 2025 ini.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":418147,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[1420,155063,274908],"series":[],"class_list":["post-418146","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-peristiwa","tag-keracunan-massal","tag-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/418146","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=418146"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/418146\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/418147"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=418146"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=418146"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=418146"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=418146"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}