{"id":432617,"date":"2025-04-18T12:09:00","date_gmt":"2025-04-18T05:09:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/04\/18\/ngeri-detik-detik-kkb-papua-bantai-pendulang-emas-diungkap-korban-selamat-mereka-digorok-satu-satu\/"},"modified":"2025-04-18T12:35:19","modified_gmt":"2025-04-18T05:35:19","slug":"ngeri-detik-detik-kkb-papua-bantai-pendulang-emas-diungkap-korban-selamat-mereka-digorok-satu-satu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/04\/18\/ngeri-detik-detik-kkb-papua-bantai-pendulang-emas-diungkap-korban-selamat-mereka-digorok-satu-satu\/","title":{"rendered":"Ngeri! Detik-detik KKB Papua Bantai Pendulang Emas Diungkap Korban Selamat: Mereka Digorok Satu-satu!"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH &#8211;<\/b> Berhasil menyelamatkan diri dari penyerangan, detik-detik pembantaian pendulang emas oleh KKB Papua diungkap korban selamat.<\/p>\n<p>Salah seorang pendulang emas di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan menyampaikan kengerian pembantaian yang dilakukan oleh KKB pada Selasa 8 April lalu.<\/p>\n<p>Menurutnya, para pendulang saat megetahui adanya penyerangan telah berisiap-siap untuk melarikan diri.<\/p>\n<p>Akan tetapi mereka berhasil tangkap karena KKB telah mengepung lokasi tenda pendulang emas.<\/p>\n<p>\u201cMereka sempat ingin lari tapi kami telah dikepung dan mereka digorong satu &#8211; satu,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Pendulang yang selamt itu menyampaikan jika dirinya sempat melihat aksi sadis KKB yang mengorok teman \u2013 temannya saat ingin melarikan diri dari lokasi kejadian.<\/p>\n<p>Menurutnya KKB melakukan penyerangan pada pukul 4.00 waktu setempat menjelang subuh.<\/p>\n<p>\u201cMereka digorok satu-satu dari ujung sampai ujung,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Pendulang itu menyampaikan jika dirinya berhasil selamat karena berada di baris paing ujung dan berhasil melarikan diri.<\/p>\n<p>\u201cMereka sempat mencari menggunakan senter, namun saya bersembunyi disemak-semak di atas bukit,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya sudah gemetar saat itu, tapi saya paksa untuk tetap naik dan bersembunyi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Menurut peristiwa itu terjadi tidak lama dan setelah KKB meniggalkan lokasi dirinya kembali turun ke lokasi perkemahan.<\/p>\n<p>Pendulang yang berhasil selamat itu meyampaikan sesampaikan kembali ke kamp, mulai dari HP dan berbagai barang lainnya telah tidak ada karena diambil oleh KKB.<\/p>\n<p>\u201cPakaian masih ada dan darah semua bergelinangan di tenda hingga luar tenda,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>\u201cTerpal saya gulung, saya ambil sleeping bag dan beberapa keperluan lainnya saya ambil,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sedangkan pihak KKB yang mengatasnamakan diri mereka Tentara Pembebasan Nasional Papua Merdeka atau TPNPB menyampikan jika mereka bertanggung jawab atas pembantaian pendulang emas tersebut.<\/p>\n<p>Adapun penyerangan dilakukan oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Batalion Yamue serta Batalion WSM dari pasukan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma.<\/p>\n<p>Penyerangan dilakukan selama 3 hari, sejak 6 hingga 8 April dan berhasil membunuh sebanyak 11 penduang emas.<\/p>\n<p>Sedangkan penyerangan ini disebutkan dipimpin oleh Komandan Batalion Yamue, Mayor Homy Heluka dan Komandan Batalion WSM (Wosem).<\/p>\n<p>Setelah melakukan penyelidikan pihak berwajib menyampaikan identitas korban pembantaian KKB, di mana rincian 11 jenazah yang telah diserahkan yaitu: Wawan Tangahu, Suardi Laode alias Kaswadi, Stenli Humena, Yuda Lesmana, Riki Rahmat, Muhammad Arif, Safaruddin, Abdur Raffi Batu Bara, Stefanus Gisbertus, Zamroni, dan Rusli.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Berhasil menyelamatkan diri dari penyerangan, detik-detik pembantaian pendulang emas oleh KKB Papua diungkap korban selamat. Salah seorang pendulang emas di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan menyampaikan kengerian pembantaian yang dilakukan oleh KKB pada Selasa 8 April lalu. Menurutnya, para pendulang saat megetahui adanya penyerangan telah berisiap-siap untuk melarikan diri. Akan tetapi mereka berhasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":432618,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[1420,274908],"series":[],"class_list":["post-432617","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-peristiwa","tag-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/432617","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=432617"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/432617\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/432618"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=432617"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=432617"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=432617"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=432617"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}