{"id":434597,"date":"2025-04-30T22:42:44","date_gmt":"2025-04-30T15:42:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=434597"},"modified":"2025-04-30T22:42:44","modified_gmt":"2025-04-30T15:42:44","slug":"pendidikan-kapitalis-generasi-minus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/04\/30\/pendidikan-kapitalis-generasi-minus\/","title":{"rendered":"Pendidikan Kapitalis, Generasi Minus!"},"content":{"rendered":"<p><em><strong>Penulis:<\/strong> Hanny N**<\/em><\/p>\n<p><span class=\"dropcap\">D<\/span>UA hari pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, sudah ada temuan kecurangan yang dilakukan para peserta. Pada hari pertama UTBK SNBT, Rabu (23\/4\/2025) tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan ada sembilan kasus kecurangan.<\/p>\n<p>Di era digital seperti sekarang, kecanggihan teknologi seharusnya menjadi alat untuk membangun peradaban. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan praktik curang dalam pelaksanaan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer), ujian yang menjadi pintu masuk perguruan tinggi negeri. Sejumlah peserta dilaporkan memanfaatkan teknologi, termasuk alat komunikasi canggih, untuk mencurangi sistem. Alih-alih berusaha dengan jujur dan menunjukkan kompetensi, mereka justru memutar otak untuk mengakali aturan demi satu tujuan, lolos tes.<\/p>\n<p>Fenomena ini mencerminkan lebih dari sekadar pelanggaran teknis. Ini adalah potret menyedihkan dari wajah generasi muda saat ini\u2014generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi rusak secara moral. Mereka tahu cara menjebol sistem, tetapi tak punya nurani untuk menimbang perbuatannya. Jika yang melanggar adalah calon mahasiswa, maka patut kita pertanyakan seperti apa masa depan negeri ini jika generasi penerusnya menghalalkan segala cara sejak di bangku ujian?<\/p>\n<p>Buruknya moralitas generasi muda bukan sekadar kebetulan. Ia adalah hasil dari sistem yang rusak. Sistem <a title=\"pendidikan\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/pendidikan\/\">pendidikan<\/a> yang saat ini diterapkan tidak mampu membentuk kepribadian luhur. Ia sibuk mengejar prestasi akademik dan pencapaian material, namun abai terhadap pembentukan karakter dan akhlak mulia. Inilah buah pahit dari sistem pendidikan berlandaskan kapitalisme\u2014sebuah sistem yang menjadikan standar kehidupan adalah manfaat dan materi.<\/p>\n<p>Sebuah survei yang dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa sebagian besar siswa SMA dan mahasiswa di Indonesia pernah melakukan kecurangan akademik, seperti menyontek atau memanipulasi tugas. Ini bukan data yang bisa diremehkan. Ketika integritas dipertaruhkan hanya untuk nilai, maka sesungguhnya kita sedang mencetak generasi yang siap berkompromi dengan kejahatan, bahkan sebelum mereka terjun ke dunia nyata.<\/p>\n<p>Sistem kapitalisme telah berhasil membentuk cara pandang generasi muda bahwa keberhasilan adalah ketika seseorang mendapat nilai tinggi, lolos seleksi, diterima di kampus ternama, atau punya karier gemilang. Sayangnya, cara mencapainya tidak terlalu penting\u2014asal tujuan tercapai. Prinsip ini persis seperti adagium Machiavelli, &#8220;the end justifies the means.&#8221; Maka tak heran jika kita melihat anak-anak muda yang berburu beasiswa dengan curang, lolos SNBT dengan bantuan joki, atau bahkan membeli skripsi dan tesis untuk gelar sarjana.<\/p>\n<p>Dalam sistem kapitalisme, pendidikan hanyalah alat produksi SDM yang siap pakai. Sekolah dan kampus didorong untuk mencetak lulusan yang bisa memenuhi kebutuhan industri dan pasar kerja. Maka yang diburu adalah kompetensi teknis, bukan moralitas. Kecerdasan diukur dari angka, bukan dari kejujuran atau tanggung jawab. Akhirnya, pendidikan gagal membentuk manusia seutuhnya. Yang lahir adalah generasi pintar, tapi miskin adab; cakap teknologi, tapi hampa spiritualitas.<\/p>\n<p>Sebaliknya, Islam memandang pendidikan dengan sudut pandang yang berbeda dan jauh lebih mulia. Dalam Islam, pendidikan bukan semata alat untuk menyiapkan tenaga kerja, melainkan sarana membentuk manusia yang berkepribadian Islam: berpikir Islami dan bersikap Islami. Ukuran keberhasilan dalam pendidikan bukan sekadar nilai akademik atau keterampilan teknis, melainkan ketundukan total kepada hukum Allah. Islam mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar materi, melainkan menggapai ridha Allah.<\/p>\n<p>Negara dalam sistem Islam (Khilafah) akan menjadikan pendidikan sebagai pilar utama peradaban. Kurikulum dirancang berdasarkan akidah Islam. Setiap ilmu yang diajarkan\u2014baik itu ilmu syariah maupun sains dan teknologi\u2014dibingkai dalam keimanan. Anak-anak dididik untuk memahami hakikat hidup, tanggung jawab sebagai hamba Allah, dan pentingnya amanah ilmu. Mereka diajarkan bahwa menipu adalah dosa, meski hasilnya gemilang di mata manusia. Mereka disadarkan bahwa kebahagiaan hakiki bukan ketika diterima di universitas ternama, tetapi ketika Allah ridha kepada amal mereka.<\/p>\n<p>Dalam sistem pendidikan Islam, keterampilan tetap menjadi bagian penting. Namun, keterampilan itu dibangun di atas pondasi akidah. Maka lahirlah generasi yang tidak hanya ahli dalam bidang teknologi, tetapi juga paham bagaimana teknologi harus dimanfaatkan untuk maslahat umat. Generasi yang tidak menggunakan kecanggihan digital untuk menipu ujian, melainkan untuk menyebarkan dakwah, membela kebenaran, dan membangun peradaban Islam.<\/p>\n<p>Bayangkan jika seluruh siswa dan mahasiswa di negeri ini tumbuh dengan kepribadian Islam, menganggap setiap perbuatan harus bernilai ibadah, dan menghindari kecurangan karena takut kepada Allah, bukan hanya karena takut dihukum. Maka ujian masuk perguruan tinggi akan kembali menjadi ajang adu kualitas, bukan ajang tipu-tipu. Kampus akan menjadi tempat menuntut ilmu dan membentuk karakter, bukan sekadar pabrik ijazah.<\/p>\n<p>Sayangnya, sistem kapitalisme yang sekuler telah menjauhkan agama dari pendidikan. Agama dianggap hanya urusan pribadi, tidak boleh campur tangan dalam kurikulum atau pengambilan kebijakan pendidikan. Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa arah, kehilangan visi hidup, dan akhirnya terseret arus materialisme.<\/p>\n<p>Sudah saatnya kita membuka mata. Kecurangan dalam UTBK hanyalah gejala kecil dari penyakit besar yang menggerogoti pendidikan kita. Solusinya bukan sekadar memperketat pengawasan ujian, tetapi mengganti sistem pendidikan yang rusak ini dengan sistem yang mampu mencetak manusia paripurna: beriman, berilmu, dan beradab. Hanya sistem pendidikan Islam dalam naungan negara Islam yang mampu menjawab tantangan ini.<\/p>\n<p>Karena hanya dengan Islam, kita akan kembali melahirkan generasi yang jujur, cerdas, dan bertanggung jawab\u2014bukan hanya di depan dosen, tapi juga di hadapan Allah SWT.<\/p>\n<p>#GenerasiCerdasBerkepribadianIslam<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buruknya moralitas generasi muda bukan sekadar kebetulan. Ia adalah hasil dari sistem yang rusak. Sistem pendidikan yang saat ini diterapkan tidak mampu membentuk kepribadian luhur<\/p>\n","protected":false},"author":983,"featured_media":434835,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[37],"tags":[109055,4580,323612],"series":[],"class_list":["post-434597","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-kapitalis","tag-pendidikan","tag-pendidikan-kapitalis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/434597","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/983"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=434597"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/434597\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/434835"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=434597"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=434597"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=434597"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=434597"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}