{"id":435963,"date":"2025-05-06T22:20:17","date_gmt":"2025-05-06T15:20:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=435963"},"modified":"2025-05-06T23:30:18","modified_gmt":"2025-05-06T16:30:18","slug":"curang-cara-ninja-sukses-di-dunia-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/05\/06\/curang-cara-ninja-sukses-di-dunia-pendidikan\/","title":{"rendered":"Curang, Cara Ninja Sukses di Dunia Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p><span class=\"dropcap\">U<\/span>JIAN Tulis Berbasis Komputer &#8211; Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) sudah berlangsung. Tahap kedua penerimaan mahasiswa baru setelah sebelumnya Seleksi Nasional Berbasis Prestasi ( SNBP) tak kalah mendebarkan prosesnya. Banyak aturan yang harus dijalankan peserta agar proses berjalan <em>fair<\/em> dan adil.<\/p>\n<p>Yang lebih mendebarkan karena SNBT ini lebih ketat lagi kuota penerimaannya. Tahun ini,\u00a0 Seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini diikuti oleh 860.976 peserta yang memperebutkan sebanyak 259.564 kursi PTN. Tak salah jika semua orang ingin masuk di PT favoritnya, namun keterbatasan kuota ini yang seringkali membuka celah kecurangan.<\/p>\n<p>Ditambah adanya pemahaman fakultas favorit (biasanya PTN) mampu meluluskan output favorit yang &#8220;terjamin&#8221; pasar kerjanya, profesi menjanjikan sehingga masa depan pasti cemerlang. Bisa jadi semboyan mereka yang &#8221; terpaksa&#8221; menempuh cara <a title=\"curang\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/curang\/\">curang<\/a> karena takut gagal dan uang bisa menyelesaikan persoalannya adalah &#8221; <a title=\"Curang\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/curang\/\">Curang<\/a> cara ninjaku untuk sukses&#8217;. Sehingga mereka berlomba dengan banyak cara agar mencapai kesuksesan.<\/p>\n<p>Akhirnya mudah ditebak, Ombdusman sudah mendapat laporan adanya kecurangan dalam pelaksanaannya. Pelaku kecurangan mulai dari mahasiswa aktif dengan cara menjadi joki hingga lembaga bimbel. Koordinator Pokja Penjaminan Mutu UM PTKIN Zulfahmi Alwi mengatakan praktik joki banyak temukan dengan cara-cara yang sangat canggih. Mulai dari kacamata, kuku, anting, sepatu bahkan ada yang melalui behel.<\/p>\n<p>Beberapa modus kecurangan lainnya, ada mikrofon dan pengeras suara di alat bantu dengar, hingga penggunaan perangkat lunak melalui aplikasi rekaman layar. Selain itu, ada yang menggunakan aplikasi remote desktop disertai dengan pemasangan proxy pada komputer, sehingga komputer tersebut dapat terhubung dengan jaringan di luar.<\/p>\n<p>Alhasil, baru enam hari pelaksanaan panitia seleksi melaporkan ada sekitar 50 orang pelaku kecurangan dan 10 joki dalam pelaksanaan UTBK 2025. Ini yang bisa diungkap, namun sebagaimana berbagai kasus di negeri ini seringnya memunculkan fenomena gunung es, artinya, di luar data yang sudah diungkap sebenarnya masih lebih banyak yang tidak terungkap.<\/p>\n<p>Menanggapi fenomena ini, Kementerian Agama sudah memberlakukan pengamanan berlapis untuk mencegah segala bentuk kecurangan saat penyelenggaraan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM PTKIN), seperti joki hingga penggunaan alat-alat canggih.<\/p>\n<p>Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun turut bersuara, mengatakan bahwa kecurangan selama UTBK-SNBT 2025 merupakan tindakan koruptif. Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo mengatakan, &#8220;Ini yang namanya koruptif. Kecurangan untuk melihat soal-soal sehingga bisa dibaca oleh orang lain.&#8221;<\/p>\n<h3>Kapitalisme: Tidak Meratanya Pendidikan Sebuah Keniscayaan<\/h3>\n<p>Sungguh miris! Tujuan dari pendidikan adalah mencetak generasi berkualitas, beriman dan bertakwa. Bagaimana bisa terwujud jika diawali dengan berbagai kecurangan? Tidak salah juga jika kita melihat bagaimana pejabat kita, korupsi menjadi budaya, lisan tanpa adab terus disuarakan kepada rakyat hingga kebijakan amburadul yang hanya berpijak pada &#8221; Asal Bapak Senang&#8221; , mereka pun hasil dari pendidikan hari ini.<\/p>\n<p>Padahal pendidikan adalah syarat utama membangun peradaban. Lantas peradaban seperti apa yang akan kita tuju, Indonesia emas 2045 kah? Sepertinya tinggal angan-angan kosong karena generasi hari ini sudah senekat ini, tak mengenal halal haram. Kecanggihan teknologi justru digunakan untuk kriminal. Sepertinya mental perjuangan sudah hilang makna, berganti sukses instan.<\/p>\n<p>Tentu pemikiran ambil jalan pintas tidak muncul begitu saja, melainkan tersistem. Baik melalui kurikulum pendidikan maupun minimnya peran negara sebagai pihak penyelenggara. Akar masalahnya ada pada sistem Kapitalisme, yang asasnya sekular atau memisahkan aturan agama dan sebaliknya menjadikan hukum manusia yang rentan tawar menawar kepentingan sebagai gantinya. Kecanggihan teknologi justru menjadi perantara krimininal karena tidak dibarengi indahnya adab dan pemahaman syariat yang benar.<\/p>\n<p>Jika kurikulum pendidikan disusun dengan menafikan keberadaan Allah, maka arah pandang terhadap kehidupan jelas ikut berubah. Tak lagi merasa diawasi Allah dan tak memiliki kepentingan lagi untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya di hadapan Allah kelak. Makna bahagia, menang dan sukses hanya ketika seseorang bisa memperoleh materi.<\/p>\n<p>Muncullah kesenjangan sosial, siapa kuat dia menang, siapa bermodal besar dialah yang menguasai. Bahkan kalimat &#8221; usaha tidak mengkhianati hasil&#8221; menjadi mantra sakti padahal menyesatkan. Faktanya, tidak semua orang sukses melalui jalan yang benar, bagaimana dengan praktik curang hari ini? Ibarat darah yang mengandung kolesterol, penyakit itu akan terbawa kesetiap sisi manusia. Hingga memicu penyakit yang lebih kompleks lagi.<\/p>\n<p>Itulah mengapa kurikulum merdeka, cara belajar merdeka, sekolah merdeka dan lainnya yang berembel-embel merdeka begitu diopinikan. Karena itulah tujuan utama pendidikan hari ini, terhubung langsung dengan pasar dan kebutuhan kerja. Harapannya, setiap anak didik yang lulus adalah tenaga kerja terampil sekaligus terdidik. Tak penting adab dan akidahnya bagaimana.<\/p>\n<p>Di sisi lain, dunia kerja dikuasai mafia korporasi yang mensyaratkan berbagai kriteria yang tak masuk akal, ujung-ujungnya tenaga kerja asing yang mendapat peluang karena adanya MOu , sementara tenaga terampil kita teronggok memenuhi keranjang sampah Job Fair atau data BPS yang mencatat Indonesia memiliki angka pengangguran tertinggi kedua di dunia. Belum lagi budaya kolusi, nepotisme dan korupsi yang turut menambah penderitaan sarjana fresh graduate kita. Tak peduli PTS, PTN favorit pun tak semua terserap lapangan pekerjaan.<\/p>\n<p>Apalagi jika melihat fakta bagi-bagi kue tim sukses hasil koalisi. Pengisian Komisaris utama BUMN banyak yang menempatkan orang-orang partai dengan alasan terimakasih politik, dan hak koalisi. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Kapitalisme pula yang mengakibatkan industri melesu, ujungnya berakibat pemutusan hubungan kerja, para ayah kesulitan menafkahi keluarganya, hingga berakibat banyak anak putus sekolah.<\/p>\n<p>Akibat paling fatal dari pengaturan pendidikan kapitalis adalah abainya peran negara. Bahkan bisa dikatakan kehadiran dan tanggung jawab negara sangat minim. Tak hanya minimnya anggaran pendidikan yang mengakibatkan negara tidak mampu membangun sarana prasarana pendidikan memadai sesuai kebutuhan.<\/p>\n<p>Sulitnya mencari sekolah maupun kampus yang baik, karena biasanya PT terbaik hanya ada di kawasan ibukota, sementara daerah sangat minim bahkan tidak ada, juga memicu para siswa berbuat curang demi mendapatkan nilai bagus sebagai kunci memasuki jenjang berikutnya.<\/p>\n<p>Diberlakukannya PT berbadan hukum juga menambah persoalan ketidakmerataan akses pendidikan, sebab banyak PT yang akhirnya menambah besar kuota jalur mandiri, karena di dalamnya ada range pembayaran uang gedung yang bisa dinego dengan wali siswa. Bagi sebagian besar orangtua ini adalah solusi daripada sang anak tidak kuliah, atau tidak bisa kuliah di fakultas favoritnya. Kembali dengan harapan, ada jaminan selepas dari PT ini mudah mendapatkan akses kerja.<\/p>\n<h3>Peradaban Islam Cemerlang Tanpa Harus Curang<\/h3>\n<p>Persoalan utamanya adalah ketika negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya sebagaimana sabda Rasulullah Saw. ,\u201c<em>Imam (Khalifah) adalah raa\u2019in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya<\/em>.\u201d (HR al-Bukhari).<\/p>\n<p>Syariat Islam sebagai aturan dasar dalam negara Islam mewajibkan pendidikan dijamin oleh negara tanpa klasifikasi apakah untuk rakyat miskin atau kaya. Sebab dana yang diperoleh dari hasil pengelolaan harta kepemilikan umum dan negara yang disimpan dalam Baitulmal memang untuk pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Salah satunya pendidikan.<\/p>\n<p>Harta yang berlimpah dalam negara adalah keniscayaan. Maka wajar jika peradaban Islam pada masanya jaya dan menjadi mercusuar dunia. Banyak ilmuwan yang terlahir dan kemudian mendedikasikan keilmuannya untuk kemaslahatan umat. Dan semua didukung penuh oleh negara. Sistem subsidi atau bansos tidak selamanya dijalankan negara, sebab keduanya bukan cara riil negara membiayai pendidikan.<\/p>\n<p>Setiap kenaikan jenjang pendidikan ada evaluasi atau seleksi namun diimbangi dengan pemerataan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga tidak ada kesenjangan antara kota dan daerah. Tak harus berebut kuota pendidikan, sebab kualitasnya setara. Demikian pula dengan penyusunan kurikulum hanya berbasis akidah Islam, sehingga mampu terbentuk syaksiyah Islam atau kepribadian Islam.<\/p>\n<p><em>Wallahualam bissawab.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ujian Tulis Berbasis Komputer &#8211; Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) sudah berlangsung<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":435964,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"curang","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[37],"tags":[305570,323688,323689,94019],"series":[],"class_list":["post-435963","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-apa-itujoki-strava","tag-utbk","tag-snbt-curang","tag-snbt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/435963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=435963"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/435963\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/435964"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=435963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=435963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=435963"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=435963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}