{"id":450001,"date":"2025-07-23T10:42:00","date_gmt":"2025-07-23T03:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/07\/23\/viral-siswa-baru-smpn-3-doko-blitar-kena-bully-20-teman-saat-mpls-motif-balas-dendam\/"},"modified":"2025-07-23T10:46:03","modified_gmt":"2025-07-23T03:46:03","slug":"viral-siswa-baru-smpn-3-doko-blitar-kena-bully-20-teman-saat-mpls-motif-balas-dendam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/07\/23\/viral-siswa-baru-smpn-3-doko-blitar-kena-bully-20-teman-saat-mpls-motif-balas-dendam\/","title":{"rendered":"Viral Siswa Baru SMPN 3 Doko Blitar Kena Bully 20 Teman saat MPLS, Motif Balas Dendam"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b>\u00a0 &#8211; Video siswa baru SMPN 3 Doko Blitar, Jawa Timur, jadi korban bully 20 siswa lainnya, viral lewat media sosial.<\/p>\n<p>Video aksi bully diunggah sejumlah akun Instagram, seperti @tereliyewriter, pada Selasa (22\/7\/2025).<\/p>\n<p>Dalam rekaman terlihat siswa tampak terpojok saat dikelilingi puluhan siswa lainnya.<\/p>\n<p>Suasana semakin panas hingga siswa korban berinisial WV (12) mulai mengalami penganiayaan.<\/p>\n<p>Berkali-kali bogem mentah dan tendangan mengarah ke tubuhnya.<\/p>\n<p>Siswa yang melihat kejadian ini hanya menonton sambil bersorak.<\/p>\n<p>Berdasarkan narasi yang beredar, aski bully terjadi di lingkungan sekolah SMPN 3 Doko Blitar.<\/p>\n<p>Korban merupakan siswa baru, sementara pelaku bully berasal dari kelas 8 dan 9.<\/p>\n<p>Mirisnya, kejadian terjadi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2025 kemarin.<\/p>\n<p>MPLS yang seharusnya menjadi ajang perkenalan siswa baru ke lingkungan sekolah, malah diwarnai aksi kekerasan.<\/p>\n<p>Sementara hingga Rabu (23\/7\/2025), video di atas sudah ditonton lebih dari ratusan 1,7 juta kali.<\/p>\n<p>Ribuan warganet ikut meramaikan dengan menyampaikan berbagai komentarnya.<\/p>\n<p>Termasuk menayangkan aksi bully yang masih terjadi di lingkungan sekolah.<\/p>\n<p>Penulis buku kelahiran Sumatera Selatan Darwis atau yang lebih dikenal Tere Liye tidak habis pikir kejadian ini bisa terjadi.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Kok bisa hal ini terjadi di sekolah kalian? Hal menjijikkan ini terjadi di lingkungan sekolah kalian loh, saat MPLS. Murid kelas 8 dan 9, mem-bully murid kelas 7.<\/p>\n<p>Nah, kalian nyadar tidak ini serius? Atau kalian mau denial. Juga kepala dinas, pejabat2 pendidikan di Blitar? Menganggap ini masalah ringan?<\/p>\n<p>Baiklah. Lebih enak memang denial. Indonesia ceraah! Banget,&#8221; tulisnya.<\/p>\n<p>Kronologi kejadian<\/p>\n<p>Kasat Reskrim Polres Blitar, AKP Momon Suwito Pratomo mengatakan, aksi bullying terjadi pada Jumat (18\/7\/2025) sekira pukul 08.00 WIB.<\/p>\n<p>Semua bermula saat korban sedang berada di dalam kelas tiba-tiba dipanggil kakak kelasnya.<\/p>\n<p>&#8220;Korban diajak pergi ke belakang kamar mandi lingkungan sekolah.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Kemudian di sana sudah ada beberapa temannya. Langsung dari siswa tersebut kurang lebih sebanyak 20 orang melakukan aksi kekerasan dengan cara menendang dan memukul korban,&#8221; katanya, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Rabu.<\/p>\n<p>Akibat kejadian ini, lanjut Momon, korban menderita luka di tangan dan merasakan sakit di area kepala.<\/p>\n<p>Korban juga mengalami trauma karena sempat diancam oleh teman-temannya.<\/p>\n<p>Lalu pada Jumat sore harinya, korban pada menceritakan kejadian ini ke orang tuanya.<\/p>\n<p>Orang tua korban yang tidak terima mendatangi SMPN 3 Doko Blitar guna meminta penjelasan pada Sabtu (19\/7\/2025)<\/p>\n<p>Proses mediasi pun digelar untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan melibatkan kepala sekolah, kemudian orang tua, baik anak pelaku maupun dari korban,&#8221; urai Momon.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kasus aksi bullying turut dilaporkan ke Polres Blitar.<\/p>\n<p>Petugas sudah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa setidaknya 20 orang saksi.<\/p>\n<p>Momon memastikan akan mengusut kasus ini dengan profesional dengan mengacu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.<\/p>\n<p>&#8220;Kita tetap melaksanakan proses kaitannya dengan perkara tersebut yang sudah dilakukan oleh penyidik,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Ditanya soal motif, Momon menjelaskan, aksi bullying di latar belakangi masalah dendam pribadi antara korban dan para pelaku.<\/p>\n<p>Para pelaku sebelumnya mengaku sering di-bully oleh korban.<\/p>\n<p>&#8220;Jadi ini aksi balas dendam,&#8221; tegas Momon.<\/p>\n<p>Momon di akhir pernyataannya mengingatkan pihak sekolah agar memperhatikan masalah kekerasan di lingkungan pendidikan.<\/p>\n<p>Menurutnya, aksi bullying bisa saja masuk ke ranah hukum.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk itu kami meminta agar seluruh pihak baik guru maupun orang tua maupun siswa saling mengingatkan.&#8221;<\/p>\n<p>&#8220;Karena anak yang melakukan kekerasan ini berisiko tinggi tindak pidana kekerasan ranah pelanggaran hukum,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<p>Keluarga korban tolak damai<\/p>\n<p>Kakek korban, Karlan dengan tegas menolak damai dengan para pelaku bullying.<\/p>\n<p>Ia akan mengambil jalur hukum.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada kata damai. Kami justru minta kasus ini diproses hukum,\u201d tegas Karlan, dikutip dari Kompas.com.<\/p>\n<p>Menurut pengakuan Karlan, cucunya sudah mengalami dua kali bullying selama masuk di SMPN 3 Doko Blitar.<\/p>\n<p>Namun, korban baru berani bercerita di aksi kekerasan kedua.<\/p>\n<p>&#8220;Baru yang hari Jumat itu anaknya berani cerita karena sudah begitu keterlaluan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Karlan menambahkan, WV adalah anak sulung dari dua bersaudara dan kini tinggal bersama ayahnya.\u00a0<\/p>\n<p>Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH\u00a0 &#8211; Video siswa baru SMPN 3 Doko Blitar, Jawa Timur, jadi korban bully 20 siswa lainnya, viral lewat media sosial. Video aksi bully diunggah sejumlah akun Instagram, seperti @tereliyewriter, pada Selasa (22\/7\/2025). Dalam rekaman terlihat siswa tampak terpojok saat dikelilingi puluhan siswa lainnya. Suasana semakin panas hingga siswa korban berinisial WV (12) mulai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":450002,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-450001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/450001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=450001"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/450001\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/450002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=450001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=450001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=450001"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=450001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}