{"id":451790,"date":"2025-07-31T14:19:00","date_gmt":"2025-07-31T07:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/07\/31\/temuan-koin-dinasti-umayyah-di-situs-bongal-tapanuli-tengah-ubah-narasi-awal-masuknya-islam-ke-nusantara\/"},"modified":"2025-07-31T21:12:45","modified_gmt":"2025-07-31T14:12:45","slug":"temuan-koin-dinasti-umayyah-di-situs-bongal-tapanuli-tengah-ubah-narasi-awal-masuknya-islam-ke-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/07\/31\/temuan-koin-dinasti-umayyah-di-situs-bongal-tapanuli-tengah-ubah-narasi-awal-masuknya-islam-ke-nusantara\/","title":{"rendered":"Temuan Koin Dinasti Umayyah di Situs Bongal Tapanuli Tengah, Ubah Narasi Awal Masuknya Islam ke Nusantara"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH &#8211; <\/b>Upaya penulisan ulang Sejarah Indonesia yang digagas Kementerian Kebudayaan membuka lembar baru dalam memahami proses masuknya Islam ke Nusantara.<\/p>\n<p>Sejumlah temuan arkeologis di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menjadi pijakan penting dalam pergeseran narasi tersebut.<\/p>\n<p>Editor Umum Penulisan Buku Sejarah Indonesia, Prof Dr Jajat Burhanuddin, mengungkapkan bukti-bukti arkeologis terbaru dari Bongal berpotensi mengoreksi narasi lama dalam dua ensiklopedia sejarah yang selama ini menjadi rujukan utama, yakni Sejarah Nasional Indonesia (1984) dan Indonesia dalam Arus Sejarah (2012).<\/p>\n<p>Temuan ini akan membentuk narasi baru tentang proses Islamisasi di Nusantara. Bukti arkeologis di Bongal mengindikasikan Islam telah hadir di wilayah Indonesia sejak abad ke-7 Masehi, langsung dari Asia Barat.<\/p>\n<p>&#8220;Tentu saja ada perubahan narasi dan pasti akan muncul perdebatan juga,&#8221; ujar Guru Besar Ilmu Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu pada detikEdu, Rabu (30\/7\/2025).<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Versi Masuknya Islam pada Abad ke-7, ke-12, dan ke-13 M<\/h3>\n<p>Dalam Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS), proses Islamisasi di kepulauan Indonesia selama ini diperkirakan baru terjadi pada abad ke-12 hingga ke-13 Masehi. Sementara itu, versi lebih lama dalam Sejarah Nasional Indonesia (SNI) terbitan 1984 menyebutkan bahwa kehadiran Islam di Nusantara pada abad ke-7 M masih sebatas dugaan yang belum diperkuat bukti konkret.<\/p>\n<p>SNI menyatakan kerajaan bercorak Islam yang muncul pada abad ke-13 M di pesisir timur laut Aceh mungkin hasil proses Islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 M.<\/p>\n<p>&#8220;Sebenarnya penyebutan abad ke-7 sudah ada di berbagai sumber seperti misalnya dari China tapi belum didukung bukti. Nah, temuan arkeologis kemudian menjadi bukti kuat,&#8221; ujar Jajat.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Situs Bongal Ungkap Masuknya Islam sejak Abad ke-7 M<\/h3>\n<p>Situs Bongal terletak di kaki bukit Bongal, yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Penelitian di situs tersebut telah berlangsung sejak 2019 lalu.<\/p>\n<p>Salah satu temuannya yakni <a title=\"koin\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/koin\/\">koin<\/a> Islam yang dibuat di Basrah, Irak, pada tahun 79 hijriyah atau 698 M\/akhir abad ke-7 M di masa <a title=\"Dinasti Umayyah\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/dinasti-umayyah\/\">Dinasti Umayyah<\/a>.<\/p>\n<p>Sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari mengungkap koin ini memiliki bobot 2,22 gram dan diameter 26,25 mm. Inskripsi yang tertera dalam koin yang ditemukan di Bongal ini berisi ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan pernyataan ketauhidan, keesaan Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah.<\/p>\n<p>&#8220;Koin-koin ini bukan hanya sebagai alat transaksi ekonomi dari dinasti yang kuat pada zamannya, tapi sekaligus untuk menyebarkan dakwah Islam kemanapun uang ini beredar,&#8221; ujar guru besar ilmu sejarah Unimed itu.<\/p>\n<p>Pada sisi depan melingkar koin yang ditemukan bertuliskan dalam aksara Arab, <i>&#8220;Bismillahi, dhuriba hadza ad-dirham bil Basrah fi sanah tis&#8217;a wa sab&#8217;in&#8221;<\/i> (Dengan Nama Allah, dirham ini dibuat di Basrah pada tahun tujuh puluh sembilan).<\/p>\n<p>Bagian tengahnya bertuliskan <i>&#8220;Laa ilaaha illa\/ Allah wahdahu\/ Laa syarikalahu\/&#8221; <\/i>(Tidak ada Tuhan selain\/ Allah Yang Esa\/ Tidak ada sekutu bagi-Nya\/).<\/p>\n<p>Sementara sisi belakang bertuliskan<i> &#8220;Allahu ahad Allah\/ Ash-shamad lam yalid\/ Wa lam yuulad wa lam yakun\/ Lahu kufuwan ahad\/&#8221;<\/i> (Allah Yang Maha Esa, Allah\/ Tempat meminta, tidak beranak\/ dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu\/ Yang setara dengan Dia satupun juga\/).<\/p>\n<p>Ichwan yang turut melakukan penelitian di situs tersebut juga mengungkapkan peradaban Islam abad pertama Hijriyah sudah sampai di Pantai Barat Sumatera, tepatnya di Situs Bongal.<\/p>\n<p>&#8220;Koin dinasti Umayyah yang dicetak di Basrah bertarikh 79 Hijriyah yang ditemukan di situs ini merupakan bukti tertua masuknya peradaban Islam di Indonesia,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<div id=\"gtx-trans\" style=\"position: absolute; left: 1101px; top: 555.031px;\">\n<div class=\"gtx-trans-icon\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu temuannya yakni koin Islam yang dibuat di Basrah, Irak, pada tahun 79 hijriyah atau 698 M\/akhir abad ke-7 M di masa Dinasti Umayyah.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":451791,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[66],"tags":[1420,36277,166272,274908,321345,325112],"series":[],"class_list":["post-451790","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah","tag-peristiwa","tag-sumatera-utara","tag-dinasti-umayyah","tag-berita","tag-koin","tag-tapanuli-tengah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/451790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=451790"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/451790\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/451791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=451790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=451790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=451790"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=451790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}