{"id":455549,"date":"2025-08-16T20:30:00","date_gmt":"2025-08-16T13:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/08\/16\/eks-wakapolri-prihatin-gas-air-mata-di-masjid-agung-pati-dibangun-kembali-saat-ayah-saya-bupati\/"},"modified":"2025-08-16T20:33:18","modified_gmt":"2025-08-16T13:33:18","slug":"eks-wakapolri-prihatin-gas-air-mata-di-masjid-agung-pati-dibangun-kembali-saat-ayah-saya-bupati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/08\/16\/eks-wakapolri-prihatin-gas-air-mata-di-masjid-agung-pati-dibangun-kembali-saat-ayah-saya-bupati\/","title":{"rendered":"Eks Wakapolri Prihatin Gas Air Mata di Masjid Agung Pati: &#8220;Dibangun Kembali Saat Ayah Saya Bupati&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH <\/b>&#8211; Eks Wakapolri periode 2013-2014, Komjen Pol (Purn) Oegroseno, mengaku prihatin dengan insiden gas air mata yang masuk ke Masjid Agung Pati, Jawa Tengah, saat demonstrasi di Kantor Bupati pada Rabu (13\/8\/2025) silam.\u00a0<\/p>\n<p>Ia mengatakan masjid tersebut memiliki arti tersendiri bagi dirinya dan warga Pati.<\/p>\n<p>Masjid Agung Pati, kata Oegroseno, pernah mengalami proses pembangunan kembali di masa ayahnya, Drs Roestamsantiko, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Pati.\u00a0<\/p>\n<p>Ia pun mengecam adanya penggunaan gas air mata di area masjid tersebut.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Masjid Agung Pati itu pernah dibangun kembali tahun 1976 ketika ayah saya menjadi bupati ke-35 dijabat oleh Kolonel Polisi Drs Roestamsantiko,&#8221; katanya seperti dikutip dari Instagramnya yang tayang pada Sabtu (16\/8\/2025).<\/p>\n<p>Masjid seharusnya menjadi tempat yang aman dan suci.\u00a0<\/p>\n<p>Ia mengingatkan agar aparat lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan.\u00a0<\/p>\n<p>&#8220;Saya sangat prihatin dengan tindakan aparat Dalmas melempar gas air mata ke masjid yang ada ibu-ibu dan anak-anak di dalam area masjid,&#8221; katanya.\u00a0<\/p>\n<p>Oegroseno berharap kejadian serupa tidak terulang kembali.\u00a0<\/p>\n<p>Ia juga meminta aparat kepolisian mengutamakan pendekatan persuasif, terutama saat aksi unjuk rasa berdekatan dengan area yang memiliki nilai religius dan historis.\u00a0<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left;\">Diduga gas air mata kedaluwarsa<\/h2>\n<p>Ramai beredar soal tembakan gas air mata saat demo ricuh di Pati, Kabupaten Jateng sudah kedaluwarsa.<\/p>\n<p>Akibatnya puluhan warga jadi korban, ada yang sesak napas, badannya lemas bahkan hingga diinfus.<\/p>\n<p>Gas air mata merupakan senyawa kimia yang digunakan sebagai alat pengendali massa untuk membubarkan kerumunan atau melumpuhkan individu secara sementara melalui iritasi pada mata, saluran pernapasan dan kulit.<\/p>\n<p>Biasanya gas air mata disebarkan dalam bentuk aerosol, semprotan atau granat yang meledak dan menyebarkan partikel ke udara.<\/p>\n<p>Efek dari gas air mata di antaranya mata perih, berair, sulit dibuka, batuk, sesak napas, iritasi, kulit rasa terbakar atau gatal, panik dan disorientasi.<\/p>\n<p>Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang menyoroti hal ini karena sangat berbahaya bagi warga sipil.<\/p>\n<p>Sementara itu Polda Jateng sudah bersuara, mereka bakal melakukan pengecekan soal penggunaan tembakan gas air mata yang diduga kedaluwarga.<\/p>\n<p>Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang menyebut polisi menembakan gas air mata kedaluwarsa ke arah para demonstran saat demo di Kabupaten Pati yang menuntut Bupati Pati Sudewo lengser, Rabu (13\/8\/2025).<\/p>\n<p>Tembakan gas air mata kedaluwarsa tersebut dilakukan secara serampangan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami temukan gas air mata kedaluwarsa di tahun 2016, tentu ini sangat berbahaya bagi masyarakat sipil,&#8221; terang pengacara publik dari LBH Semarang M Safali, di Kota Semarang, Kamis (14\/8\/2025)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Eks Wakapolri periode 2013-2014, Komjen Pol (Purn) Oegroseno, mengaku prihatin dengan insiden gas air mata yang masuk ke Masjid Agung Pati, Jawa Tengah, saat demonstrasi di Kantor Bupati pada Rabu (13\/8\/2025) silam.\u00a0 Ia mengatakan masjid tersebut memiliki arti tersendiri bagi dirinya dan warga Pati. Masjid Agung Pati, kata Oegroseno, pernah mengalami proses [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":455550,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-455549","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/455549","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=455549"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/455549\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/455550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=455549"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=455549"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=455549"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=455549"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}