{"id":456714,"date":"2025-08-21T13:16:58","date_gmt":"2025-08-21T06:16:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=456714"},"modified":"2025-08-21T14:32:58","modified_gmt":"2025-08-21T07:32:58","slug":"menyandingkan-posisi-pemimpin-eropa-terhadap-ukraina-dengan-para-pemimpin-arab-terhadap-palestina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/08\/21\/menyandingkan-posisi-pemimpin-eropa-terhadap-ukraina-dengan-para-pemimpin-arab-terhadap-palestina\/","title":{"rendered":"Menyandingkan Posisi Pemimpin Eropa Terhadap Ukraina Dengan Para Pemimpin Arab Terhadap Palestina"},"content":{"rendered":"<p><span class=\"dropcap\">D<\/span>ONALD TRUMP mengunggah foto Instagram yang memperlihatkan pertemuannya dengan tujuh sekutu utama Eropa di ruang Oval. Tampak di dalamnya Giorgia Meloni, Ursula von der Leyen, Friedrich Merz, Emmanuel Macron, Alexander Stubb, Velodymyr Zelensky dan Mark Rutte. Duduk di kursi yang telah ditarik mengelilingi meja kopi, Perdana Menteri Italia. Berbagai penasihat berkumpul di kursi di belakang meja itu, termasuk Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.<\/p>\n<p>Pada Senin 18 Agustus 2025 sejumlah <a title=\"pemimpin Eropa\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/pemimpin-eropa\/\">pemimpin Eropa<\/a> melakukan lawatan ke Washington menemui Presiden AS <a title=\"Donald Trump\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/donald-trump\/\">Donald Trump<\/a>. Para Pemimpin Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Finlandia, Sekretaris NATO dan Uni Eropa mendampingi Presiden <a title=\"Ukraina\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/ukraina\/\">Ukraina<\/a> Volodymr Zelensky untuk meminta Trump agar mengatur pertemuan trilateral antara Trump, Zalensky dan Putin guna membahas kelanjutan perang Ukraina-Rusi.<\/p>\n<p>Dalam wawancaranya dengan BBC, Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer mengatakan akan ada negosiasi lebih lanjut mengenai jaminan keamanan Ukraina dengan AS. Jaminan tersebut akan \u201cmeyakinkan masyarakat di Eropa, Ukraina dan khususnya di Inggris Raya\u201d. Meluruskan pernyataan tersebut Trump mengatakan jaminan keamanan untuk Ukraina akan \u201cdisediakan\u201d oleh negara-negara Eropa dengan \u201ckoordinasi\u201d dari AS. Trump menyatakan dengan tegas bahwa pasukan AS tidak akan berada di lapangan Ukraina, tetapi AS dapat membantu dalam koordinasi dan memberikan jaminan keamanan lain kepada sekutu Eropa mereka.<\/p>\n<p>Namun jawaban dari pertemuan KTT Eropa di Gedung Putih ini menjadi jelas ketika Rusia tetap menyerang kota Kremenchuk di Ukraina di tengah pembicaraan telepon antara Trump dan Putin. Angkatan Udara Ukraina mengatakan bahwa Rusia meluncurkan 270 drone dan 10 rudal dalam satu serangan terbesarnya bulan ini.<\/p>\n<p>Sementara menurut <em>Moscow Times<\/em>, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengatakan bahwa Putin terbuka untuk pertemuan itu namun pertemuan puncak tingkat tinggi membutuhkan waktu. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pihak Moskow menunda sesuatu yang kongkret untuk pertemuan bilateral yang diusulkan.<\/p>\n<p>KTT Eropa di Gedung Putih ini mengungkap realitas kepemimpinan Eropa yang tidak kompeten. Mereka gagal merumuskan proyek penyatuan Eropa dan membebaskannya dari pengawasan Amerika sekaligus gagal melindungi Eropa dari agresi dan ambisi Putin. Inggris dan negara-negara Uni Eropa mendukung Zalensky bukan karena alasan altruistik (ketulusan), bahwa ukraina dianggap sebagai bagian yang merepresentasikan masyarakat mereka, bukan juga karena alasan kemanusiaan melainkan lebih kepada tujuan pragmatis yaitu kepentingan keamanan Uni Eropa itu sendiri. Keamanan dari gangguan Rusia dan keamanan dari intervensi serta tekanan AS.<\/p>\n<p>Sebagaimana kita pahami bahwa Ukraina merupakan pintu gerbang Eropa. Negara-negara Eropa menyaksikan Rusia menginvasi negara tetangganya yang mereka klaim sebagai bagian dari \u201cRusia Raya\u201d. Jika Rusia berhasil merebut Krimea, lalu meluas ke Dombas\u00a0 maka Uni Eropa khawatir akan ada pendudukan bertahap ke seluruh Ukraina, termasuk kemungkinan Rusia memasuki Estonia dan berlanjut ke Latvia,\u00a0 Maka kondisi ini menjadi ancaman yang serius bagi\u00a0 Inggris dan Uni Eropa. Oleh sebab itu sudah waktunya menghentikan Rusia yang ekspansionis ini.<\/p>\n<p>Di sisi lain sikap lunak Trump di hadapan para pemimpin Eropa, yang seharusnya menjadi sekutunya, sementara pada saat yang sama menjalin komunikasi yang hangat dengan Putin, nyatanya bukanlah tindakan cerdas melainkan sebuah kecerobohan. Perang\u00a0 Ukraina-Rusia sejatinya bukanlah peperangan antara Putin dengan Zalensky, karena Zalensky hanyalah <em>proxy<\/em> yang dimainkan oleh Amerika untuk menantang Rusia.<\/p>\n<p>Sejatinya Amerika telah kelimpungan dalam beberapa perang <em>proxy<\/em> yang dimainkannya bersamaan. Dimulai dari Perang Israel terhadap Palestina, dimana Amerika mendukung penuh genosida Israel dan masih mempersenjatai negara Yahudi hingga hari ini. Dilanjutkan dengan manuver yang dimainkannya melalui perang Pakistan-India, termasuk perang Ukraina dengan Rusia. Amerika menginginkan menyudahi kesombongannya di hadapan Putin dan Uni Eropa secara elegan dengan perdamaian sepenuhnya tanpa syarat karena telah kelimpungan menanggung biaya perang yang tidak murah.<\/p>\n<p>Adapun para pemimpin negara-negara Arab, mereka hidup berhadapan dengan penjajahan yang menimpa saudara seiman mereka, rakyat Palestina. Mereka menyaksikan langsung kebiadaban Israel sebagai sebuah bencana kemanusiaan yang kebrutalannya melampaui kebrutalan perang manapun yang pernah terjadi sebelumnya di dunia. Mereka menyaksikan dentuman jutaan ton bom diledakkan di Gaza, mereka mendengar pekik ketakutan rakyatnya, menyaksikan tubuh-tubuh yang suci hancur lebur, terkoyak dan berserakan dalam puing-puing.<\/p>\n<p>Namun mereka diam membisu dan terang-terangan menampakkan keberpihakannya kepada Israel. Meskipun pilihan ini jelas-jelas bukan demi kepentingan keamanan mereka sendiri, bukan untuk melindungi dirinya dari ancaman yang mereka hadapi. Mereka membisu demi kepentingan Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya di Timur Tengah.<\/p>\n<p>Padahal mereka mendengar dengan jelas para pemimpin penjajah secara terbuka berbicara tentang proyek besar mereka \u201cIsrael Raya\u201d yang jelas-jelas mengancam wilayah negara mereka. Situs <em>Mondoweiss<\/em> Amerika menerbitkan artikel karya jurnalis dan penulis Palestina, Qassam Maadi, yang menelusuri istilah \u201c<a title=\"Israel Raya\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/israel-raya\/\">Israel Raya<\/a>\u201d di kalangan Yahudi ekstrimis sebagai gerakan zionis selama berabad-abad. Istilah ini merujuk pada gagasan negara Yahudi yang meluas ke sebagian besar wilayah Timur Tengah, sebagai perwujudan dari tanah yang dijanjikan Tuhan yaitu tanah \u201cdari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat.\u201d Dengan kata lain \u201cIsrael Raya\u201d mencakup seluruh Arab itu sendiri.<\/p>\n<p>Demi kekuasaan imajiner di kawasannya para pemimpin itu hanya bisa mengulang-ngulang kecaman, namun mereka tetap setia melayani Amerika. Mereka tidak malu mengkhianati umat ini. Mereka lupa, bahwa sejarah tidak kenal ampun, pengkhianatan mereka akan mengisi ingatan setiap orang, dan bahwa kebenaran tetap ada, tidak peduli seberapa banyak upaya yang dilakukan untuk menghapusnya. Sesungguhnya Allah tidak akan memperbaiki orang-orang yang membuat kerusakan.<\/p>\n<p>Salah satu penipuan terbesar selama genosida ini adalah pernyataan bahwa Mesir dan Qatar sebagai \u201cmediator\u201d atau \u201cnegosiator\u201d. Padahal sesungguhnya mereka adalah fasilitator untuk kepentingan zionis dalam banyak hal. Mereka memaksa rakyat Palestina bernegosiasi dengan kebiadaban yang mereka hadapi. Semoga Allah menghancurkan tahta mereka dan menggantinya dengan pemimpin yang shalih, memerintah dengan hukum Allah, dan mengirimkan pasukan untuk membebaskan Palestina.<\/p>\n<p>Saat ini Amerika berada di Semenanjung Arab, menduduki pangkalan-pangkalannya sambil menjarah sumber dayanya dan secara terbuka memaksakan upeti dari para pemimpin Arab yang setia melayaninya. Fakta ini bukan sekadar \u201cgejala demam biasa\u201d melainkan serangan kronis yang menjangkiti tubuh umat Muhammad.<\/p>\n<p>Nabi saw menggambarkan situasi ini secara akurat dalam hadits Tsauban r.a <em>maula <\/em>Rasulullah saw;<\/p>\n<p>\u201cDari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah : \u201cNyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya\u201d, Lalu seseorang bertanya : \u201cApakah kami pada saat itu sedikit ?\u201d Beliau menjawab : \u201cTidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)\u201d, Lalu bertanya lagi : \u201cWahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu ?,\u201d Kata beliau :\u201d Cinta dunia takut mati.\u201d<\/p>\n<p>Hadits ini merangkum realitas kita: jumlah besar, tetapi tak berdampak apapun. Hilangnya gengsi dan lemahnya hati kita telah mengubah umat ini menjadi sampah, terombang ambing oleh arus musuh sesuka hati. Dan bencana yang paling mengerikan adalah hilangnya surga akibat kelemahan iman yang demikian parah.<\/p>\n<p>Salah satu manifestasi kelemahan ini adalah hilangnya perisai yang melindungi kaum Muslimin. Nabi saw\u00a0 bersabda,<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya imam\/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah `<em>Azza wa Jalla<\/em> dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya\u201d (HR Muslim).<\/p>\n<p>Sejak runtuhnya Khilafah pada tahun 1924, umat ini telah kehilangan seorang Imam, tercerai berai oleh musuh-musuh, tanpa benteng, tanpa perisai sehingga musuh menjadi semakin berani, melakukan pelanggaran hak atas tanah, menjarah kekayaan dan melecehkan martabat dan kehormatan rakyatnya. Berapa lama lagi kita akan diam dan mengabaikan fakta ini?<\/p>\n<div id=\"gtx-trans\" style=\"position: absolute; left: -9px; top: 48px;\">\n<div class=\"gtx-trans-icon\"><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/456714?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada Senin 18 Agustus 2025 sejumlah pemimpin Eropa\u00a0 melakukan lawatan ke Washington menemui Presiden AS Donald Trump. Para Pemimpin Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Finlandia, Sekretaris NATO dan Uni Eropa mendampingi Presiden Ukraina Volodymr Zelensky<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":456739,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"pemimpin eropa","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[37],"tags":[6174,325664,325795,26386,400,325796,399],"series":[],"class_list":["post-456714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-donald-trump","tag-israel-raya","tag-pemimpin-eropa","tag-perang-di-ukraina","tag-rusia","tag-rusia-raya","tag-ukraina"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/456714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=456714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/456714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/456739"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=456714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=456714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=456714"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=456714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}