{"id":457134,"date":"2025-08-24T18:11:10","date_gmt":"2025-08-24T11:11:10","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=457134"},"modified":"2025-08-24T18:12:26","modified_gmt":"2025-08-24T11:12:26","slug":"nasib-pilu-gaza-sampai-kapan-bertahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/08\/24\/nasib-pilu-gaza-sampai-kapan-bertahan\/","title":{"rendered":"Nasib Pilu Gaza, Sampai Kapan Bertahan?"},"content":{"rendered":"<p><span class=\"dropcap\">H<\/span>AMAS menolak rencana relokasi penduduk <a title=\"Gaza\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/gaza\/\">Gaza<\/a>. Mereka dengan tegas menyebutnya sebagai \u201cgelombang genosida dan pengungsian baru\u201d bagi ratusan ribu penduduk di kawasan itu.<\/p>\n<p>Begitu juga dengan rencana pengerahan tenda dan peralatan perlindungan oleh Israel ke Gaza selatan merupakan \u201ctipuan yang nyata\u201d menjelang rencananya untuk merelokasi penduduk dari zona pertempuran ke selatan, meski menggunakan alasan untuk \u201cmemastikan keselamatan penduduk\u201d.<\/p>\n<p>Jelas rencana tersebut memicu kekhawatiran internasional atas nasib jalur yang telah dihancurkan dan telah menjadi rumah bagi sekitar 2,2 juta orang.<\/p>\n<p>Israel semakin tak terkendali, Sekjen PBB Antonio Guterres mengutuk pembunuhan enam jurnalis Palestina dalam serangan udara Israel di Gaza City pada Minggu, 10 Agustus lalu. Stephane Dujarric, jubir Guterres mengatakan Sekjen PBB menyerukan penyelidikan yang independen dan imparsial terhadap pembunuhan-pembunuhan tersebut.<\/p>\n<p>Kali ini Israel mengakui sengaja menargetkan pembunuhan satu jurnalis Anas Al Sharif dan menuduhnya sebagai \u201cteroris\u201d yang terafiliasi dengan Hamas. Pembunuhan terhadap jurnalis bukan yang pertama dilakukan Israel, total sudah 242 pekerja media selama 22 bulan agresi mereka di Jalur Gaza.<\/p>\n<p>Dujarric menyebutkan bahwa Sekjen PBB, menggarisbawahi bahwa jurnalis dan pekerja media harus dihormati dan dilindungi serta diizinkan untuk menjalankan pekerjaannya tanpa intimidasi atau bahaya.<\/p>\n<p>Penderitaan rakyat Gaza semakin memilukan, ada 1 juta perempuan dan anak perempuan mengalami kelaparan massal, kekerasan dan pelecehan, hal itu disampaikan UNRWA, salah satu badan PBB untuk pengungsi.<\/p>\n<p>Akibatnya sangat membahayakan, kondisi kelaparan yang kian meluas, memaksa perempuan dan anak perempuan mengambil strategi bertahan hidup seperti keluar mencari makanan dan air, padahal sangat berisiko tinggi, lanjut UNRWA. Untuk itu UNRWA mendesak agar blokade Israel di Gaza dicabut, agar bantuan kemanusiaan bisa segera disalurkan.<\/p>\n<p>108 organisasi nonpemerintah (non-governmental organization\/NGO) mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa sejak 2 Maret, mayoritas NGO internasional besar tidak dapat mengirimkan satu truk bantuan akibat pembatasan Israel. Ada lebih dari 69 permohonan selama Juli yang ditolak Israel dengan alasan NGO tidak memiliki wewenang.<\/p>\n<p>Antara 27 Mei hingga 13 Agustus, total 1.760 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencari bantuan di Gaza. Menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan dari jumlah tersebut, 994 orang tewas di sekitar lokasi-lokasi militerisasi non-PBB, dan 766 lainnya tewas di sepanjang rute konvoi bantuan. Sungguh tak bisa lagi dianggap enteng, sebab nyawa tak berdosa jadi taruhannya, padahal ini rekayasa, yang mata dunia pun tahu. Masihkah kita diam?<\/p>\n<p>Alih-alih memberi solusi, Presiden Prabowo Subianto malah berencana menampung sedikitnya 2000 warga Palestina dari jalur Gaza di Pulau Galang. Menurut Amnesty International, Deputi Direktur Amnesty International Indonesia, Wirya Adiwena, rencana itu malah seakan mendukung usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang ingin merelokasi warga Gaza dari tanah dan rumah mereka sendiri.<\/p>\n<p>Meski pemerintah menyebutkan kebijakan tersebut atas dasar kemanusiaan, namun harus tetap bersikap kritis. Sebab jika tidak hati-hati justru sejalan dengan skenario besar Israel dan pemerintahan Trump Amerika Serikat yang ingin mengosongkan Jalur Gaza dengan memindahkan 2 juta warganya ke luar negerinya sendiri.<\/p>\n<p>Menurut Wirya, segala bentuk pemindahan warga Palestina dari wilayah pendudukan di luar kesukarelaan mereka bisa dianggap kejahatan perang. Indonesia harus berhati-hati, karena rentan multitafsir seolah ingin mendukung pendudukan ilegal Israel di Gaza.<\/p>\n<h3>Sampai Kapan Berdiam Diri?<\/h3>\n<p>Jelas sekali Israel melakukan pembungkaman media dengan membunuh para jurnalis agar tidak menyiarkan kejahatan genosida mereka di Gaza. Jurnalis sebagaimana tenaga kesehatan yang semestinya mendapatkan keistimewaan terlebih di medan perang, bagi Israel sama saja. Mereka dianggap merugikan, padahal inilah kejahatan perang yang sesungguhnya.<\/p>\n<p>Pembunuhan jurnalis tak hanya menghilangkan nyawa seorang manusia tapi juga membunuh nyawa perjuangan rakyat Gaza hingga kejahatan yang mereka lakukan sunyi senyap. Dunia pun sebenarnya melihat ketidakmampuan Israel mengalahkan perjuangan rakyat Gaza, meski Israel semakin brutal dan tak peduli hukum apapun.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, sampai kapan kita akan terus diam? Kemana para penguasa muslim yang gagah perkasa? Mereka memiliki pasukan militer luar biasa namun membiarkan rakyat Palestina binasa. Ternyata nasionalisme dan cinta dunia telah menyandera mereka dan mematikan hati nurani, bahkan akidah mereka sendiri.<\/p>\n<h3>Dunia Harus Paham Dakwah Islam Kafah<\/h3>\n<p>Banyak pelajaran yang kita bisa ambil dari kuatnya pertahanan dan perjuangan kaum Muslim di Palestina, dan betapa tulus iklas-nya HAMAS menjadi pelindung mereka. Pembunuhan jurnalis tak akan memadamkan perjuangan rakyat Gaza. Malah semakin menguatkan tekad, sebab yang mereka pahami adalah kemuliaan yang Allah berikan atas tanah yang diberkahi dan juga kemuliaan menjaga tanah tersebut.<\/p>\n<p>Mereka menyadari kewajibannya, bukan berarti kita yang jauh beribu-ribu kilometer dari Palestina tidak memiliki kewajiban yang sama, justru, melihat keadaan yang semakin genting dan di luar nalar kemanusiaan, umat Islam wajib menolong dan mengobarkan perjuangan rakyat Gaza hingga tanah mereka bisa dibebaskan seutuhnya.<\/p>\n<p>Dan semua tahu, tinggal satu solusi pamungkas bebasnya Palestina, yaitu Jihad dan Khilafah. Bukan berarti boikot atau donasi materi tidak berguna, namun tidak akan tuntas menyelesaikan persoalan Palestina hingga ke akarnya. Sekarang saja dunia tak bisa bebaskan aksi boikot Israel, berapa puluh truk pengangkut bahan pokok yang terpaksa kembali karena barang yang mereka angkut membusuk? Belum lagi donasi uang dengan cara transfer yang tidak pernah utuh sampai ke saudara kita di Palestina karena lagi-lagi Israel menguasai perbankan.<\/p>\n<p>Semua juga paham, bahwa menyeru wajibnya tegaknya jihad dan Khilafah bukan semudah membalikkan tangan, melainkan wajib dimulai dari membangun kesadaran umat agar mereka beralih perhatian dari solusi Kapitalisme yang menipu, tapi beralih kepada sistem Khilafah yang telah dicontohkan Rasulullah di sepanjang hidup beliau.<\/p>\n<p>Umat harus bergerak bersama secara terarah kepada aktivitas dakwah Islam kaffah bersama jamaah dakwah ideologis. Jamaah dakwah yang secara pemikiran dan aktifitas hanya fokus pada peningkatan taraf berpikir umat, yang fokus pada upaya perjuangan agar Islam tak sekadar digunakan dalam ritual ibadah tapi juga nafas perjuangan untuk kembali tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah.<\/p>\n<p>Allah swt. berfirman yang artinya:<\/p>\n<p>\u201c<em>Hai Orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberikan kehidupan pada kalian<\/em>\u201d ( TQS An-Anfal:28).<\/p>\n<p><em>Wallahualam bissawab.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hamas menolak rencana relokasi penduduk Gaza. Mereka dengan tegas menyebutnya sebagai \u201cgelombang genosida dan pengungsian baru\u201d bagi ratusan ribu penduduk di kawasan itu<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":457138,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"gaza","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[36,278],"tags":[33668,325881,293,3461],"series":[],"class_list":["post-457134","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional","category-palestina","tag-khilafah","tag-zionis-laknatullah","tag-palestina","tag-gaza"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/457134","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=457134"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/457134\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/457138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=457134"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=457134"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=457134"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=457134"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}