{"id":458324,"date":"2025-08-27T23:20:00","date_gmt":"2025-08-27T16:20:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/08\/27\/dari-bengkel-ke-mimbar-sarjana-kisah-inspiratif-wisudawan-wirausaha-usk\/"},"modified":"2025-08-27T23:20:00","modified_gmt":"2025-08-27T16:20:00","slug":"dari-bengkel-ke-mimbar-sarjana-kisah-inspiratif-wisudawan-wirausaha-usk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/08\/27\/dari-bengkel-ke-mimbar-sarjana-kisah-inspiratif-wisudawan-wirausaha-usk\/","title":{"rendered":"Dari Bengkel ke Mimbar Sarjana: Kisah Inspiratif Wisudawan Wirausaha USK"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH<\/strong> \u2013 \u201cAnak buruh tani bisa jadi apa?\u201d Pertanyaan itu bukan hanya datang dari bisik-bisik lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi tantangan yang harus dijawab Riski Maulana. Bagi pemuda dari Gampong Lamtamot, Lembah Seulawah ini, gelar sarjana dari Universitas Syiah Kuala (USK) bukan sekadar target, melainkan sebuah misi.<\/p>\n<p>Ia sadar, ijazah saja tidak cukup. Dengan tiga adik yang harus ia pastikan pendidikannya dan seorang ayah yang kian menua, Riski memilih jalan yang tak banyak ditempuh mahasiswa lain: merintis usaha.<\/p>\n<p>Saat teman-temannya fokus pada tugas kuliah, Riski mengambil jalan berlipat ganda. Di sela-sela kesibukan di Program Studi Teknik Pertanian, ia merancang masa depan di sebuah bengkel. Idenya sederhana, namun belum pernah ada di Aceh: Ayam Guling Aceh. Ia sadar, untuk mengubah nasib keluarga buruh taninya, ia harus berani bertaruh.<\/p>\n<p>Perjalanan ini penuh dengan lika-liku yang menguji mental. Saat ia mencari tukang las untuk merakit mesin pemanggang, tak satupun bengkel berani mengambil risiko.<\/p>\n<p>\u201cTukang di luar sana menolak membuatnya karena belum ada contoh,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Tanpa pilihan, ia dan teman-temannya harus merakit mesin itu sendiri, bermodalkan video-video dari internet. Panas, lelah, dan rasa putus asa sering kali datang, namun tekadnya lebih kuat.<\/p>\n<p>Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Ayam Guling Aceh viral. Pembeli berbondong-bondong datang, bahkan menyebabkan kemacetan. Modal awalnya sekitar Rp20 juta, yang di dalamnya termasuk bantuan Rp10 juta dari program 1000 Wirausaha Muda USK (WMU).<\/p>\n<p>Namun, kesuksesan tak bertahan lama. Lokasinya harus pindah, dan omsetnya menurun drastis. Riski harus menghadapi realita pahit: ia harus berjuang membiayai usahanya di tengah ketidakstabilan harga bahan baku.<\/p>\n<p>\u201cProses ini mungkin indah diceritakan, tetapi percayalah, sangat sulit ketika dilakukan,\u201d ujarnya, Selasa, 27 Agustus 2025.<\/p>\n<p>Di balik semua air mata dan pengorbanan itu, ada berkah yang melimpah. Dari usaha ayam gulingnya, ia bisa menyekolahkan tiga adiknya di pesantren. Dari sinilah, sedikit demi sedikit, ia mengumpulkan mahar untuk pernikahannya sendiri.<\/p>\n<p>Ia membagi diri antara menjadi mahasiswa di kelas dan menjadi pekerja di luar kelas, belajar di sela-sela kesibukan, bukan di meja yang tenang.<\/p>\n<h3><b>Pesan untuk Generasi \u2018Kompetisi Senyap\u2019<\/b><\/h3>\n<p>Di hadapan para wisudawan, Riski menyampaikan pesan yang menusuk ke dalam hati. Ia menyinggung fenomena \u201cera kompetisi senyap,\u201d di mana media sosial penuh dengan pencapaian yang terkesan instan, memicu kecemasan dan rasa insecure. Ia menekankan bahwa keberhasilan sejati bukanlah soal angka.<\/p>\n<p>\u201cKami tidak lulusan tercepat, juga bukan cumlaude. Tapi keberhasilan bukan hanya soal angka, melainkan tentang perjalanan dan makna perjuangan di baliknya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan agar para wisudawan tidak hanya menjadi konsumen pasif. \u201cAmbil sedikit bagian dari konten itu yang bisa kita terapkan di hidup kita, enggak apa-apa sedikit tapi berdampak,\u201d pesannya. Ia juga menegaskan, \u201cIlmu yang tidak merubah keadaan itu hanya omong kosong saja.\u201d<\/p>\n<p>Dalam pandangannya, di tengah tantangan bangsa akan lapangan pekerjaan dan mimpi banyak orang untuk menjadi ASN, wirausaha menjadi salah satu solusi.<\/p>\n<p>\u201cKita terbiasa dengan narasi bahwa sukses itu hanya jika bekerja di kantor atau menjadi pegawai negeri.<\/p>\n<p>\u201cNamun realitanya, lapangan pekerjaan tidak bertambah sebanyak jumlah lulusan. Di sinilah kewirausahaan hadir. Bukan hanya untuk mencari penghidupan, tapi untuk menciptakan penghidupan bagi diri sendiri dan orang lain. Ini adalah kontribusi nyata kita untuk bangsa,\u201d bebernya.<\/p>\n<h3><b>USK dan Estafet Mimpi<\/b><\/h3>\n<p>Wisuda ini menandai akhir dari sebuah babak, namun juga awal dari sebuah perjalanan baru. Sejalan dengan semangat para wisudawan, USK tahun ini menyambut 8.152 mahasiswa baru. Kehadiran mereka menjadi simbol regenerasi mahasiswa USK, yang akan melanjutkan estafet perjuangan akademik dan pengabdian.<\/p>\n<p>\u201cBagi mahasiswa baru, universitas telah menyiapkan berbagai program pembinaan akademik dan non-akademik, termasuk pembinaan karakter, penguatan soft skills, hingga program kewirausahaan,\u201d ujar Rektor USK, Prof Marwan.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, bahwa pembinaan ini merupakan komitmen USK untuk mendampingi mahasiswa hingga mereka menjadi alumni yang siap bersaing di tingkat global. Dengan begitu, akan ada kesinambungan antara para wisudawan hari ini dengan mahasiswa baru yang baru saja menapaki langkah pertama mereka.<\/p>\n<p>Di penghujung pidatonya yang sarat makna, Riski menceritakan sebuah kenangan yang menjadi fondasi perjuangannya. Saat ia ingin menyerah dan tidak melanjutkan kuliah, ibunya, seorang buruh tani, berdiri tegak dan berkata, \u201cJak kuliah, neuk. Ibu memang tak punya harta, tapi ibu punya harapan. Kalau perlu, ibu jual satu-satunya sertifikat tanah yang kita punya. Yang penting kamu kuliah.\u201d<\/p>\n<p>Maka, Riski Maulana berdiri di sana, bukan hanya sebagai seorang sarjana dari USK, melainkan sebagai perwujudan dari sebuah janji, bukti nyata bahwa cinta dan pengorbanan orang tua bisa menembus segala batas. Ia adalah simbol bahwa perjuangan, yang dipupuk dengan keringat dan keberanian, akan selalu bermuara pada panggung kehormatan.[]<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/458324?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH \u2013 \u201cAnak buruh tani bisa jadi apa?\u201d Pertanyaan itu bukan hanya datang dari bisik-bisik lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi tantangan yang harus dijawab Riski Maulana. Bagi pemuda dari Gampong Lamtamot, Lembah Seulawah ini, gelar sarjana dari Universitas Syiah Kuala (USK) bukan sekadar target, melainkan sebuah misi. Ia sadar, ijazah saja tidak cukup. Dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":458325,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[60],"tags":[29414],"series":[],"class_list":["post-458324","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-edukasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/458324","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=458324"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/458324\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/458325"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=458324"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=458324"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=458324"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=458324"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}