{"id":460211,"date":"2025-09-01T23:01:00","date_gmt":"2025-09-01T16:01:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/09\/01\/di-hadapan-massa-ketua-dpra-pisah-aja-aceh-dengan-pusat\/"},"modified":"2025-09-03T14:43:06","modified_gmt":"2025-09-03T07:43:06","slug":"di-hadapan-massa-ketua-dpra-zulfadhli-pisah-aja-aceh-dengan-pusat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/09\/01\/di-hadapan-massa-ketua-dpra-zulfadhli-pisah-aja-aceh-dengan-pusat\/","title":{"rendered":"Di Hadapan Massa, Ketua DPRA Zulfadhli: \u201cPisah Aja Aceh dengan Pusat\u201d"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH<\/strong> \u2013 Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (<a title=\"DPRA\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/dpra\/\">DPRA<\/a>), <a title=\"Zulfadhli\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/zulfadhli\/\">Zulfadhli<\/a>, melontarkan usulan kontroversial di hadapan massa aksi demonstrasi dengan menambahkan satu poin tuntutan, yakni \u201cpisah aja Aceh dengan pusat\u201d.<\/p>\n<p>Usulan tersebut ia sampaikan setelah membacakan tujuh tuntutan utama mahasiswa dan masyarakat di halaman Gedung DPR Aceh, Senin, 1 September 2025.<\/p>\n<p>\u201cApa perlu minta poin satu lagi, pisah aja Aceh dengan pusat,\u201d ujar Zulfadhli setelah menyelesaikan pembacaan seluruh tuntutan yang diajukan massa aksi.<\/p>\n<p>Aksi yang dihadiri ribuan massa tersebut mengajukan tujuh poin tuntutan, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li><b>Reformasi total DPR RI dan DPR Aceh:<\/b><br \/>\nTuntutan ini mencakup penghapusan budaya korup, perbaikan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, serta penolakan terhadap wakil rakyat yang dianggap anti-demokrasi dan pro oligarki.<\/li>\n<li><b>Reformasi Polri:<\/b><br \/>\nMassa aksi menuntut penghentian tindakan represif, penegakan hukum yang adil dan profesional, serta pemecatan aparat yang terlibat dalam pelanggaran HAM.<\/li>\n<li><b>Penuntasan pelanggaran HAM:<\/b><br \/>\nTuntutan ini menyoroti Tragedi 1998, kasus-kasus di Aceh, dan pelanggaran HAM terkini, serta menuntut keadilan bagi korban dan jaminan hak asasi manusia.<\/li>\n<li><b>Penolakan pembangunan batalyon di Aceh:<\/b><br \/>\nMassa berargumen bahwa pembangunan batalyon teritorial bukan solusi bagi persoalan Aceh dan dapat menimbulkan trauma masa lalu. Mereka juga meminta penghormatan terhadap semangat perdamaian MoU Helsinki.<\/li>\n<li><b>Evaluasi menyeluruh terhadap tambang di Aceh:<\/b><br \/>\nTuntutan ini menyerukan penghentian eksploitasi sumber daya alam yang merusak, audit izin tambang, serta pelibatan masyarakat adat dan lokal.<\/li>\n<li><b>Pembebasan aktivis:<\/b><br \/>\nMassa meminta pembebasan tanpa syarat bagi aktivis yang ditangkap dan penghentian kriminalisasi terhadap para pejuang keadilan.<\/li>\n<li><b>Transparansi Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh:<\/b><br \/>\nTuntutan terakhir adalah publikasi laporan penggunaan dana Otsus dan penuntasan kasus korupsi dalam pengelolaannya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Menanggapi tuntutan yang dibacanya, Zulfadhli menyatakan persetujuannya terhadap penolakan pembangunan 5 batalyon di Aceh, dengan alasan hal itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).<\/p>\n<p>\u201cTolak pembangunan Batalyon di Aceh, ini bertentangan dengan UUPA,\u201d tegas politisi Partai Aceh itu.<\/p>\n<p>Zulfadhli juga berkomitmen untuk menindaklanjuti tuntutan evaluasi tambang dengan membahasnya dalam rapat paripurna DPR Aceh.<\/p>\n<p>Sebelumnya diberitakan, ribuan massa yang terdiri dari mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR Aceh pada Senin, 1 September 2025.<\/p>\n<p>Aksi ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi nasional yang berlangsung sejak 25 Agustus 2025 di berbagai daerah di Indonesia.<\/p>\n<p>Di Banda Aceh, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari reformasi Dewan Perwakilan Rakyat, reformasi kepolisian, hingga penolakan terhadap rencana penempatan lima batalyon baru di Aceh.<\/p>\n<p>Selain itu, mereka juga mendesak pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Persoalan perusahaan pertambangan yang dinilai bermasalah turut masuk dalam daftar tuntutan demonstran.<\/p>\n<p>Dari hasil pantauan\u00a0di lokasi, massa membawa beragam atribut. Bendera bergambar tokoh anime One Piece berkibar berdampingan dengan bendera Aceh berlambang Bulan Bintang di tengah kerumunan. [ReF]<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/460211?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Zulfadhli, melontarkan usulan kontroversial di hadapan massa aksi demonstrasi dengan menambahkan satu poin tuntutan, yakni \u201cpisah aja Aceh dengan pusat\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":460212,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"Zulfadhli","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[35],"tags":[13434,24966,32751,168049,257740,326463,68],"series":[],"class_list":["post-460211","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-aceh","tag-dpr-aceh","tag-ketua-dpra","tag-news","tag-massa-aksi","tag-poin-tuntutan","tag-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/460211","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=460211"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/460211\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/460212"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=460211"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=460211"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=460211"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=460211"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}