{"id":466194,"date":"2025-09-27T22:57:40","date_gmt":"2025-09-27T15:57:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=466194"},"modified":"2025-09-27T22:57:40","modified_gmt":"2025-09-27T15:57:40","slug":"gaza-dibungkam-dunia-masih-diam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/09\/27\/gaza-dibungkam-dunia-masih-diam\/","title":{"rendered":"Gaza Dibungkam, Dunia Masih Diam"},"content":{"rendered":"<p><em><strong>Oleh:<\/strong> Hanny N<\/em><\/p>\n<p><span class=\"dropcap\">K<\/span>IAMAT informasi: saat dunia semakin terkoneksi, penjajahan modern juga memakai cara baru \u2014 memutus listrik, internet, dan telepon untuk membungkam suara korban.<\/p>\n<p>Pada 18 September 2025, Gaza mengalami pemutusan total jaringan komunikasi di tengah pengerahan tank dan maraknya pengepungan yang mendorong upaya pengosongan wilayah.<\/p>\n<p>Kondisi itu membuat ribuan warga sipil terjebak tanpa akses bantuan, tanpa kabar, dan tanpa cara untuk melapor kondisi darurat mereka.<\/p>\n<p>Di saat respons masyarakat global bergolak \u2014 boikot budaya dan olahraga, desakan sanksi politik \u2014 tindakan di lapangan belum juga berhenti.<\/p>\n<p>Spanyol memutuskan pelarangan kapal dan pesawat bersenjata menuju Israel; Belgia mengambil langkah larangan impor dari permukiman; dan Komisi Eropa mengusulkan pembekuan beberapa konsesi perdagangan dan sanksi terhadap menteri-menteri tertentu.<\/p>\n<p>Namun meski tekanan politik dan boikot internasional meluas, operasi militer dan pengepungan tetap berlangsung.<\/p>\n<p>Gerakan boikot juga menimbulkan gelombang dukungan publik \u2014 ratusan hingga ribuan pekerja budaya menandatangani seruan boikot terhadap institusi yang terkait dengan kebijakan Israel saat ini \u2014 sebuah bentuk solidaritas sipil yang menekan secara moral, walau dampaknya pada kenyataan di Gaza belum tuntas.<\/p>\n<h4>Mengapa pemutusan komunikasi itu berbahaya?<\/h4>\n<p>Memutus listrik dan internet bukan sekadar taktik; itu adalah strategi untuk melumpuhkan koordinasi bantuan darurat, menutup bukti pelanggaran HAM, dan menekan warga sipil agar meninggalkan wilayah mereka.<\/p>\n<p>Ketika jalur komunikasi terputus, evakuasi menjadi kacau, rumah sakit tidak bisa berkoordinasi, dan dunia kehilangan mata serta telinga untuk menyaksikan kebrutalan yang terjadi.<\/p>\n<p>Ini bukan perang semata \u2014 ini upaya politik-militer untuk mengosongkan wilayah. Fakta-fakta terbaru menunjukkan pola serupa berulang: pemutusan jaringan selalu mendahului eskalasi darat.<\/p>\n<h4>Kecaman global belum cukup \u2014 mengapa?<\/h4>\n<p>Kecaman, tekanan diplomatik, dan boikot ekonomi jelas penting; mereka menunjukkan bahwa kesadaran internasional bangkit.<\/p>\n<p>Tapi bila pihak yang disasar memiliki sokongan strategis dan militer dari negara adidaya, saat boikot dan sanksi hanya menjadi \u201clipstik politik\u201d tanpa konsekuensi militer atau pengadilan internasional yang efektif, maka rezim agresor cenderung bergeming.<\/p>\n<p>Dalam praktik politik global hari ini, kepentingan strategis dan aliansi geopolitik sering menenggelamkan desakan moral.<\/p>\n<h4>Perspektif Islam: kewajiban membela yang tertindas<\/h4>\n<p>Dalam Islam, membela kaum tertindas bukan sekadar pilihan moral \u2014 ia adalah kewajiban. Al-Qur\u2019an mengingatkan:<\/p>\n<p>\u201cDan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa\u2026\u201d (QS. Al-M\u00e2idah: 2).<\/p>\n<p>Selain itu, Rasulullah \ufdfa menegaskan bahwa kaum muslim wajib menolong saudara mereka, tidak sekadar lewat kata tetapi tindakan nyata.<\/p>\n<p>Menyaksikan pembantaian dan hanya berdiam diri dengan dalih \u201ckebijakan luar negeri\u201d adalah sesuatu yang tidak diterima dalam etika Islam.<\/p>\n<p>Sejarah juga memberi contoh: Salahuddin al-Ayyubi (Saladin) mengorganisir kekuatan umat dan mengembalikan kota suci dari penjajahan Salib \u2014 bukan sebagai agresi, melainkan sebagai pembelaan terhadap kaum tertindas dan penegakan keadilan.<\/p>\n<p>Ini menunjukkan bahwa umat Islam punya tradisi berorganisasi dan berjuang untuk membela kaum lemah secara teratur dan terkoordinasi.<\/p>\n<h4>Tentara Islam? Apa maksudnya \u2014 dan bagaimana bentuknya yang halal?<\/h4>\n<p>Ketika kata \u201ctentara\u201d disebutkan, sebagian orang langsung membayangkan agresi. Tapi dari perspektif politik Islam yang teratur: yang paling dibutuhkan bukanlah milisi acak, melainkan kekuatan terorganisir, sah, dan akuntabel\u2014yang bekerja dalam bingkai hukum internasional dan tujuan pembebasan yang jelas.<\/p>\n<p>Dalam gambaran ideal, itu berarti: satu kekuatan militer yang dilegitimasi negara (Khilafah menurut paham pendukungnya), bertanggung jawab, dipimpin oleh otoritas yang menegakkan syariah, dan menjaga keselamatan warga sipil sebagai prioritas.<\/p>\n<p>Catatan penting: pembelaan yang sah dalam syariat harus berlandas pada legalitas, akuntabilitas, dan prinsip-prinsip kemanusiaan.<\/p>\n<p>Bentuknya bisa bervariasi: dari tekanan diplomatik dan diplomasi defensif, pembentukan aliansi pertahanan kolektif, hingga \u2014 sebagai opsi terakhir yang diatur \u2014 operasi militer untuk melindungi warga sipil ketika semua jalur damai telah gagal.<\/p>\n<h4>Jalan ke depan: solidaritas nyata dan membangun kekuatan yang kredibel<\/h4>\n<p>Apa yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar kecaman di media sosial, melainkan strategi berlapis:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Solidaritas politik &amp; diplomatik<\/strong>: negara-negara muslim harus bergerak bersama dalam forum internasional dengan langkah nyata \u2014 bantuan kemanusiaan yang dilindungi, litigasi di pengadilan internasional, serta pembatasan kerjasama militer yang memberi napas bagi agresor.<\/li>\n<li><strong>Penguatan kapasitas pertahanan kolektif<\/strong>: ini berarti membangun aliansi pertahanan yang kredibel antara negara-negara muslim, dengan aturan main yang jelas untuk melindungi warga sipil.<\/li>\n<li><strong>Mobilisasi ekonomi &amp; budaya<\/strong>: boikot yang terkoordinasi, divestasi nyata, dan tekanan ekonomi bisa memperlemah mesin perang agresor bila dijalankan konsisten. Namun hal ini harus disertai kesabaran dan strategi jangka panjang.<\/li>\n<li><strong>Perlindungan informasi<\/strong>: upaya internasional untuk menjaga saluran informasi dan memperbaiki perangkat komunikasi alternatif bagi warga terbelenggu harus diprioritaskan.<\/li>\n<\/ol>\n<h4>Penutup<\/h4>\n<p>Gaza yang dibungkam bukan sekadar tragedi lokal \u2014 ia ujian kemanusiaan di hadapan dunia. Islam menuntut kita tidak cukup berduka; ia menuntut tindakan terorganisir, beradab, dan berprinsip.<\/p>\n<p>Dunia sudah menunjukkan tanda-tanda bangkit \u2014 boikot, sanksi, divestasi \u2014 tetapi tanpa kekuatan kolektif yang kredibel dan terkoordinasi untuk melindungi, penderitaan akan berlanjut.<\/p>\n<p>Sejarah mengajarkan: pembebasan bukan hanya soal kecaman, tapi soal kesiapan bertindak yang benar.<\/p>\n<p>Jika umat ingin berhenti menjadi penonton penderitaan, maka membangun kekuatan pembelaan yang adil, akuntabel, dan efektif \u2014 yang menempatkan keselamatan sipil di depan \u2014 adalah sebuah keharusan moral.<\/p>\n<p>Tentara Islam yang dinanti seharusnya bukan simbol amarah, melainkan manifestasi tanggung jawab: melindungi yang lemah, menegakkan keadilan, dan mencegah tragedi yang tak berujung.<\/p>\n<p>Ingatlah firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 75: \u201cMengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Ayat ini menegaskan kewajiban umat untuk menolong mereka yang tertindas.<\/p>\n<p>Maka, diamnya dunia hari ini mestinya menjadi alarm keras bagi kaum muslimin. Umat Islam punya sejarah panjang membela yang lemah dengan penuh keberanian.<\/p>\n<p>Dari perjuangan Rasulullah \ufdfa, kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, hingga perlawanan Salahuddin al-Ayyubi, semuanya menunjukkan bahwa ketika kekuatan umat bersatu, penjajahan akan runtuh.<\/p>\n<p>Kini, giliran generasi hari ini untuk melanjutkan warisan itu: menegakkan solidaritas sejati, membangun kekuatan yang kredibel, dan menghadirkan kepemimpinan yang mampu menjadi perisai bagi umat. Tanpa itu, Gaza akan terus dibungkam, dan dunia akan terus dihantui oleh tragedi kemanusiaan tanpa akhir.<\/p>\n<div id=\"gtx-trans\" style=\"position: absolute; left: 1300px; top: 80px;\">\n<div class=\"gtx-trans-icon\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada 18 September 2025, Gaza mengalami pemutusan total jaringan komunikasi di tengah pengerahan tank dan maraknya pengepungan yang mendorong upaya pengosongan wilayah<\/p>\n","protected":false},"author":983,"featured_media":462328,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[65],"tags":[293,3461,228563,232877],"series":[],"class_list":["post-466194","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-islam","tag-palestina","tag-gaza","tag-perang-di-palestina","tag-perang-di-gaza"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/466194","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/983"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=466194"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/466194\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/462328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=466194"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=466194"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=466194"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=466194"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}