{"id":468107,"date":"2025-10-05T09:13:00","date_gmt":"2025-10-05T02:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/05\/mantan-penyanyi-istana-ungkap-kisah-kelam-pasca-g30s-dituduh-kekasih-aidit-pegang-kartu-sakti\/"},"modified":"2025-10-05T11:54:59","modified_gmt":"2025-10-05T04:54:59","slug":"mantan-penyanyi-istana-ungkap-kisah-kelam-pasca-g30s-dituduh-kekasih-aidit-pegang-kartu-sakti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/05\/mantan-penyanyi-istana-ungkap-kisah-kelam-pasca-g30s-dituduh-kekasih-aidit-pegang-kartu-sakti\/","title":{"rendered":"Mantan Penyanyi Istana Ungkap Kisah Kelam Pasca G30S: Dituduh Kekasih Aidit, Pegang Kartu Sakti"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH &#8211; <\/b>Selepas peristiwa 30 September 1965, Cianjur, Jawa Barat sudah bukan lagi kampung halaman yang nyaman bagi Nani Nurani.<\/p>\n<p>Rumah orangtua Nani di Cianjur berulang kali didatangi tentara yang mencari keberadaannya.<\/p>\n<p>Beragam tuduhan dilontarkan aparat berseragam itu kepada kedua orangtua Nani.<\/p>\n<p>Meski tanpa adanya bukti, sederet tudingan miring itu kemudian menyebar dari mulut ke mulut di antara warga sekitar tempat tinggal Nani.<\/p>\n<p>&#8220;Di Cianjur heboh di keluarga. Eyang dituduh tari telanjang sampai ikut nyungkil mata di Lubang Buaya. Rumah juga digeledah, katanya ada senjata.<\/p>\n<p>Bahkan, sejumlah tulisan eyang juga diperiksa, dituduh macam-macam,&#8221; cerita Nani saat berbincang dengan TribunJakarta.com di kediamannya di Koja, Jakarta Utara, Kamis (2\/10\/2025).<\/p>\n<p>Nani yang merasa panas dengan tudingan tersebut awalnya berusahe melawan. Namun, sejumlah anggota keluarganya melarang.<\/p>\n<p>&#8220;Nah Waktu heboh-heboh itu eyang tadinya Ingin pulang ke Cianjur, ingin buktikan saya tidak bersalah<\/p>\n<p>Tapi semua bilang tidak sekarang waktunya dan ingetin kalau eyang waktu itu masih muda jadi gausah ke Cianjur, di Jakarta aja,&#8221; kata Nani yang kala itu tinggal bersama sang kakak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.<\/p>\n<p>Nani menyebut memang tak semua tentara percaya akan tuduhan tersebut. Komandan Cakrabirawa di Istana Cipanas sampai mendatanginya ke Jakarta untuk memastikan semua tuduhan itu tak berdasar.<\/p>\n<p>&#8220;Sampai beliau bilang &#8220;Wah, saya harus bersihkan namanya Sus Nani karena enggak mungkin (melakukan tuduhan tersebut)&#8221; kata Nani masih mengingat ucapan Komandan Cakrabirawa yang disebutnya bernama Letna Bambang.<\/p>\n<p>Nammun, pembelaan yang diberikan kepadanya seolah tak berarti seiring turunnya Sukarno dari tampuk kekuasaan.<\/p>\n<p>Hal itu kemudian diikuti dengan dibubarkannya Cakrabirawa karena dianggap terlibat dalam kudeta tahun 1965.<\/p>\n<p>&#8220;Waktu itu pembersihan istilahnya. Malah jadi diuber-uber dan dianggap orangnya Sukarno,&#8221; kata Nani.<\/p>\n<p>&#8220;Rumah eyang didatangi terus katanya ada senjata. Ada pencukil mata. Aduh nggak tahu deh dulu itu ya seenaknya hoaks itu ya,&#8221; ujarnya melanjutkan.<\/p>\n<p>Salah satu fitnah lain yang diterimanya yakni ia dituding sebagai kekasih dari tokoh PKI, DN Aidit.<\/p>\n<p>&#8220;Bahkan pas eyang beli rumah, dibilangnya itu rumah dari Aidit,&#8221; ujarnya tertawa.<\/p>\n<p>Nani menceritakan dirinya hanya pernah satu kali bertemu dengan Aidit. Yakni pada peringatan satu dasawarsa Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1965.<\/p>\n<p>Saat itu, inisiatif Nani memang dipuji oleh Aidit dan juga mantan Perdana Menteri, Ali Sastroamidjojo di acara tersebut.<\/p>\n<p>Saat itu, Nani inisiatif dengan memotong daging panggang yang menggantung dan membagikannya kepada tamu.<\/p>\n<p>Aksi spontan ini membuat Aidit sangat terkesan hingga memberinya kartu nama dengan pesan,<\/p>\n<p>\u201cKalau ada perlu apa-apa, boleh cari Bapak. Pak Alisastro juga bilang kalau ada perlu cari aja dia di Jakarta,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Namun terlepas dari tuduhan tersebut, ada sebuah kebetulan saat Nani mendekam di penjara Bukit Duri. Ia berada satu kamar dengan mertua Aidit.<\/p>\n<p>&#8220;Jadinya kita di kamar sering ketawa ngebahas soal gosip itu dan kita akhirnya jadi dekat selama di penjara,&#8221; kata Nani yang menganggap mertua DN Aidit sebagai guru ngajinya para tahanan wanita di penjara Bukit Duri.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Pegang Kartu Sakti<\/h3>\n<p>Dalam masa perburuan setelah September 1965, dua bulan kemudian atau pada November 1965, Nani mulai bekerja di PT Takari, sebuah perusahaan yang berada di bawah pengawasan Kodam IV dan V dan juga Kejaksaan Agung.<\/p>\n<p>Di mana direktur dari perusahaan tersebut yakni Atmoko dan Soetarjo Soerjosoemarno. Dua orang yang berlatar militer.<\/p>\n<p>Semua berjalan normal sampai pada awal 1966, Nani terpaksa bercerita kepada bosnya soal stigma PKI yang diterimanya selama ini.<\/p>\n<p>Hal itu lantaran sang kakak yang tengah berada di Cianjur didantangi oleh anggota Korps CPM yang menanyakan keberadaan Nani.<\/p>\n<p>&#8220;Di situ keluarga diancam kalau eyang nggak pulang ke Cianjur, ayah jadi sandra,&#8221; kata Nani.<\/p>\n<p>Karena tak mau keluarganya dalam kondisi bahaya, Nani akhirnya berterus terang kepada Atmoko dan Soetarjo Soerjosoemarno.<\/p>\n<p>&#8220;Pak Atmoko bilang Kenapa nggak bilang dari dulu sama bapak,&#8221; kata Nani.<\/p>\n<p>Singkat ceritam Nani pun dibuatkan kartu oleh Kodam yang intinya menyatakan dirinya bersih dari tuduhan keterlibatan peristiwa G30S.<\/p>\n<p>&#8220;Nah surat itu nggak dibalas (oleh tentara di Cianjur). Kodam punya pemikiran bahwa ini main-main. Jadi malah eyang enggak boleh ke Cianjur,&#8221; tutur Nani.<\/p>\n<p>Selepas memiliki surat saksi itu, Nani memang bisa lebih tenang. Rumahnya di Cianjur tak lagi disatroni para aparat yang menanyakan keberadaannya.<\/p>\n<p>Hingga akhirnya pada tahun 1967, Nani kembali aktif di dunia seni.<\/p>\n<p>Bersama Angkatan Kesenian Sunda Mahasiswa, ia mengajar menyanyi sejumlah ibu-ibu pejabat kala itu.<\/p>\n<p>Namun siapa sangka, di momen Lebaran tahun 1968, tepatnya pada 23 Desember, Nani ditangkap kala tengah berada di rumah orangtuanya di Cianjur.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selepas peristiwa 30 September 1965, Cianjur, Jawa Barat sudah bukan lagi kampung halaman yang nyaman bagi Nani Nurani<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":468108,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[327735,394,1420,116857,222556,274908,327734],"series":[],"class_list":["post-468107","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-penyanyi-istana","tag-pki","tag-peristiwa","tag-cianjur","tag-g30s-pki","tag-berita","tag-nani-nurani"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/468107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=468107"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/468107\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/468108"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=468107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=468107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=468107"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=468107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}