{"id":471572,"date":"2025-10-20T13:31:00","date_gmt":"2025-10-20T06:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/20\/jepang-diikutkan-dalam-tender-whoosh-ekonom-curiga-untuk-mengatrol-harga-harus-diusut\/"},"modified":"2025-10-20T14:35:47","modified_gmt":"2025-10-20T07:35:47","slug":"jepang-diikutkan-dalam-tender-whoosh-ekonom-curiga-untuk-mengatrol-harga-harus-diusut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/20\/jepang-diikutkan-dalam-tender-whoosh-ekonom-curiga-untuk-mengatrol-harga-harus-diusut\/","title":{"rendered":"Jepang Diikutkan dalam Tender Whoosh, Ekonom Curiga untuk Mengatrol Harga: Harus Diusut!"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH &#8211;<\/b> Profesor Anthony Budiawan, ekonom sekaligus Direktur Pelaksana Political Economy and Policy Studies (PEPS), mencurigai tujuan diikutsertakannya Jepang dalam tender kereta cepat Jakarta-Bandung atau yang lebih dikenal sebagai Whoosh.Anthony berkata seharusnya proyek kereta itu menghubungkan Jakarta-Surabaya. Namun, proyek itu kemudian dialihkan menjadi Jakarta-Bandung.<\/p>\n<p>Proyek kereta itu akhirnya digarap dengan bantuan Tiongkok, terutama lewat skema pembiayaan pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan kerja sama antara konsorsium BUMN Indonesia dan konsorsium perusahaan Cina.<\/p>\n<p>Menurut, Anthony diikutsertakannya Jepang dalam tender memunculkan kecurigaan hal itu ditujukan untuk melambungkan harga.<\/p>\n<p>\u201cJepang memang diikutkan di dalam tender Jakarta-Bandung, tetapi kemudian saya mencurigai bahwa Jepang diikutkan karena untuk mengatrol harga karena harga itu murah sekali,\u201d kata Anthony dalam siniar Forum Keadilan yang tayang di YouTube, Senin, (20\/10\/2025).<\/p>\n<p>\u201cDari Cina seharusnya murah, mungkin bisa 60 persennya. Nah, makanya Jepang diikutsertakan. Kesatu adalah memang harus ada tender dan kedua adalah memang untuk mengatrol harga.\u201d<\/p>\n<p>Dia berkata Jepang kemudian \u201cdigugurkan\u201d dengan alasan Jepang meminta jaminan dari pemerintah.<\/p>\n<p>Adapun skema proyek kereta cepat dengan menggandeng Tiongkok bersifat B to B atau business to business. Oleh karena itu, Anthony meminta jangan sampai proyek itu menjadi G to G atau government to government sehingga menjadi beban pemerintah.<\/p>\n<p>Di samping itu, Anthony meminta proyek ini diusut tuntas, terutama mengenai dugaan adanya mark up atau pelambungan harga.<\/p>\n<p>\u201cKarena proyek sejenis di Cina biayanya hanya 17 sampai 30 juta [dolar AS] per kilometer. Di kita 52 juta per kilometer. Kalau dibandingkan dengan yang paling rendah, tentu hampir tiga kali lipat,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Lalu, dia menyebut medan kereta Jakarta-Bandung tidak terlalu susah. Karena itu, harga 25 juta dolar AS per km sebenarnya sudah mencukupi untuk proyek itu.<\/p>\n<p>\u201cHarus diselidiki kenapa proyek ini bisa sampai dua kali lipat lebih tinggi dari yang di Cina,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dia mengklaim pembengkakan biaya dalam proyek kereta cepat tidaklah normal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Profesor Anthony Budiawan, ekonom sekaligus Direktur Pelaksana Political Economy and Policy Studies (PEPS), mencurigai tujuan diikutsertakannya Jepang dalam tender kereta cepat Jakarta-Bandung atau yang lebih dikenal sebagai Whoosh.Anthony berkata seharusnya proyek kereta itu menghubungkan Jakarta-Surabaya. Namun, proyek itu kemudian dialihkan menjadi Jakarta-Bandung. Proyek kereta itu akhirnya digarap dengan bantuan Tiongkok, terutama lewat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":471573,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-471572","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/471572","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=471572"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/471572\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/471573"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=471572"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=471572"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=471572"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=471572"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}