{"id":473065,"date":"2025-10-26T18:29:00","date_gmt":"2025-10-26T11:29:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/26\/harimau-sumatra-saat-habitat-terbelah-nilai-kewargaan-ekologis-diuji\/"},"modified":"2025-10-26T18:29:00","modified_gmt":"2025-10-26T11:29:00","slug":"harimau-sumatra-saat-habitat-terbelah-nilai-kewargaan-ekologis-diuji","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/26\/harimau-sumatra-saat-habitat-terbelah-nilai-kewargaan-ekologis-diuji\/","title":{"rendered":"Harimau Sumatra: Saat Habitat Terbelah, Nilai Kewargaan Ekologis Diuji"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"295\" data-end=\"608\"><strong>BANDA ACEH<\/strong> \u2013 Nasib harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) kian memprihatinkan. Populasinya terus menyusut seiring menyempitnya hutan yang menjadi habitat utama kucing besar ini. Pertambahan penduduk dan pembukaan lahan memperparah konflik antara manusia dan satwa yang dilindungi itu. Dalam situasi seperti ini, baik manusia maupun harimau sama-sama menjadi pihak yang merugi.<\/p>\n<p data-start=\"610\" data-end=\"870\">Mengutip <em data-start=\"619\" data-end=\"650\">National Geographic Indonesia<\/em>, Minggu (26\/10\/2025), apakah benar manusia tak pernah paham cara hidup berdampingan dengan harimau? Untuk menjawab pertanyaan ini, redaksi <em data-start=\"619\" data-end=\"650\">National Geographic Indonesia<\/em> pernah menerbitkan dua edisi berturut-turut tentang nasib harimau di negeri ini.<\/p>\n<p data-start=\"872\" data-end=\"1190\">Saya menjumpai nilai kewargaan ekologis dalam kisah <em data-start=\"924\" data-end=\"952\">\u201cMerawat Arwah Rimba Raya\u201d<\/em> yang terbit pada Juli 2018. Warga penghuni lembah Gunung Kerinci memiliki budaya yang menyatukan manusia dengan harimau. Mereka menganggap harimau lebih tua daripada manusia. Demi menghormati, mereka menyebut \u201corang itu\u201d untuk harimau.<\/p>\n<p data-start=\"1192\" data-end=\"1638\">Ada sebutan <em data-start=\"1204\" data-end=\"1221\">sahabat harimau<\/em>, yakni orang-orang istimewa yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan roh harimau\u2014baik berujud satwa maupun gaib\u2014yang menjaga hutan. Ada pula sebutan <em data-start=\"1375\" data-end=\"1383\">pawang<\/em>, yaitu mereka yang dipercaya dapat menjinakkan harimau. Di tengah konflik yang tidak berkesudahan antara manusia dan harimau, para tokoh ini berpeluang membantu mendamaikan keduanya demi kebaikan semesta. Ternak warga pun biasa berkeliaran tanpa kandang.<\/p>\n<p data-start=\"1640\" data-end=\"1876\">Kisah berikutnya bertajuk <em data-start=\"1666\" data-end=\"1698\">\u201cMemulihkan Relasi yang Retak\u201d<\/em>, yang terbit pada edisi berikutnya. Saya menjumpai makna harimau dalam sudut pandang berbeda menurut para transmigran asal Jawa di tepian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.<\/p>\n<p data-start=\"1878\" data-end=\"2250\">Bagi mereka, harimau menjelma semacam \u201chama\u201d yang kerap mencuri ternak. Saya pikir relasi semacam ini telah hadir lintas generasi di Jawa. Karena itu, pantaslah bila harimau jawa lebih dahulu punah pada akhir abad ke-20. Kolonialisme boleh jadi menjadi salah satu penyebabnya. Demi mengelola konflik yang tak berkesudahan, warga setempat mendesain kandang anti-pemangsaan.<\/p>\n<p data-start=\"2252\" data-end=\"2641\">Berapa jumlah populasi harimau sumatra saat ini? Sepanjang 2018 sampai 2023, <em data-start=\"2329\" data-end=\"2356\">Sumatra Wide Tiger Survey<\/em> telah menjelajahi 23 lanskap hunian harimau sumatra. Berdasarkan hasil analisis kesintasan populasi, perkiraan jumlah harimau sumatra yang mengaum di alam pada 2013\u20132019 mencapai sekitar 586 ekor dewasa. Sebuah jumlah yang terhitung kecil untuk ukuran Pulau Sumatra yang tidak mungil.<\/p>\n<p data-start=\"2643\" data-end=\"2996\">Pada edisi Oktober 2025, redaksi menyajikan kisah sampul tentang harimau bengal di India berjudul <em data-start=\"2741\" data-end=\"2795\">\u201cKasus Janggal Harimau yang Mengubah Pola Loreknya.\u201d<\/em> Kisah bermula dari Suaka Harimau Similipal di Odisha, India. Di sinilah seekor harimau jantan langka bernama T12 ditemukan. Ia tergolong langka karena loreknya cenderung hitam akibat mutasi genetik.<\/p>\n<p data-start=\"2998\" data-end=\"3401\">Sepupu harimau sumatra ini boleh dibilang lebih beruntung karena populasinya mulai pulih di cagar alam. Ironisnya, keberhasilan ini menimbulkan tantangan baru, seperti populasi yang terisolasi dan rawan penyakit genetik. Perkawinan sedarah menjadi masalah. Peneliti menemukan gen pseudo-melanisme resesif telah menyebar dalam populasi itu. Jika isolasi genetik dibiarkan, harimau bengal berisiko binasa.<\/p>\n<p data-start=\"3403\" data-end=\"3666\">Habitat harimau kian terfragmentasi dan tersekat akibat perambahan aktivitas manusia. Perkawinan sedarah dalam habitat yang sempit pun sulit dihindari. Sejatinya, kasus janggal harimau India ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam upaya konservasi di Indonesia.<\/p>\n<p data-start=\"3668\" data-end=\"3878\">Di negeri kita, hingga kini konflik antara manusia dan harimau sumatra menunjukkan kecenderungan meningkat dalam periode 2017\u20132024. Habitat \u201corang itu\u201d semakin sempit dan tercerai-berai dalam komunitas kecil.<\/p>\n<p data-start=\"3880\" data-end=\"4132\">Apa pentingnya harimau bagi manusia? Kita kembali ke Tanah Air, lalu bercermin pada warga Kerinci yang memandang harimau sebagai warga bermartabat. Ikhtiar memuliakannya bermakna menjaga semesta\u2014keseimbangan ekosistem yang menaungi kehidupan kita. []<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473065?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH \u2013 Nasib harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) kian memprihatinkan. Populasinya terus menyusut seiring menyempitnya hutan yang menjadi habitat utama kucing besar ini. Pertambahan penduduk dan pembukaan lahan memperparah konflik antara manusia dan satwa yang dilindungi itu. Dalam situasi seperti ini, baik manusia maupun harimau sama-sama menjadi pihak yang merugi. Mengutip National Geographic Indonesia, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":473066,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[1],"tags":[249967,329084,72960,68,1160,258820,96109,29381,329085],"series":[],"class_list":["post-473065","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-ekologi","tag-harimau-bengal","tag-harimau-sumatra","tag-headline","tag-india","tag-kerinci","tag-konservasi","tag-lingkungan","tag-sumatra-wide-tiger-survey"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=473065"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473065\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/473066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=473065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=473065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=473065"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=473065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}