{"id":473092,"date":"2025-10-26T20:53:00","date_gmt":"2025-10-26T13:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/26\/perbandingan-nilai-investasi-whoosh-dan-saudi-land-bridge-kok-bisa-lebih-mahal-dari-negeri-minyak\/"},"modified":"2025-10-26T23:22:36","modified_gmt":"2025-10-26T16:22:36","slug":"perbandingan-nilai-investasi-whoosh-dan-saudi-land-bridge-kok-bisa-lebih-mahal-dari-negeri-minyak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/26\/perbandingan-nilai-investasi-whoosh-dan-saudi-land-bridge-kok-bisa-lebih-mahal-dari-negeri-minyak\/","title":{"rendered":"Perbandingan Nilai Investasi Whoosh dan Saudi Land Bridge, Kok Bisa Lebih Mahal dari Negeri Minyak?"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH &#8211; <\/b>Meski panjang lintasannya jauh lebih pendek, nilai investasi proyek kereta cepat Jakarta\u2013Bandung (Whoosh) ternyata jauh lebih besar dibanding proyek serupa di Arab Saudi.Perbandingan dua proyek ini memicu perbincangan publik: bagaimana mungkin proyek sepanjang 142 kilometer bisa lebih mahal daripada proyek lintasan 1.500 kilometer di Timur Tengah?<\/p>\n<p>Isu ini pun kembali menghangat di media sosial, menyoroti transparansi dan efisiensi pengelolaan proyek infrastruktur nasional.<\/p>\n<p>Namun di balik angka fantastis tersebut, terdapat konteks ekonomi, geografis, dan manajerial yang membuat ceritanya tidak sesederhana perbandingan angka di atas kertas.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left\">Perbandingan Proyek: Whoosh vs Saudi Land Bridge<\/h2>\n<p>Proyek Whoosh memiliki nilai investasi mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp120,6 triliun (kurs Rp16.602 per dolar AS).<\/p>\n<p>Sementara itu, proyek Saudi Land Bridge yang membentang 1.500 km dari Jeddah hingga Dammam di Teluk Arab hanya menelan biaya USD 7 miliar atau sekitar Rp116 triliun.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, proyek di Arab Saudi yang 10 kali lebih panjang justru lebih murah.<\/p>\n<p>Namun jika dilihat lebih dalam, Saudi Land Bridge merupakan bagian dari Saudi Vision 2030, yang memang dirancang dengan efisiensi tinggi dan struktur investasi matang sejak awal.<\/p>\n<p>Proyek tersebut akan memangkas waktu tempuh antara Riyadh dan Jeddah dari 12 jam menjadi hanya 4 jam, menjadikannya infrastruktur logistik strategis bagi ekonomi minyak dan pariwisata Saudi.<\/p>\n<p>Sementara di Indonesia, Whoosh menghadapi tantangan berbeda: pembebasan lahan di kawasan padat, kontur geografis pegunungan, serta kebutuhan integrasi dengan infrastruktur perkotaan seperti stasiun Tegalluar dan Halim.<\/p>\n<p>Semua itu berdampak pada tingginya biaya konstruksi dan operasional.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left\">Pembengkakan Biaya dan Utang ke China Development Bank<\/h2>\n<p>Salah satu faktor utama melonjaknya nilai investasi adalah cost overrun atau pembengkakan biaya sekitar USD 1,2 miliar (Rp19,8 triliun) dari rencana awal.<\/p>\n<p>Kini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menanggung utang sebesar Rp6,9 triliun ke China Development Bank (CDB) untuk menutup kekurangan tersebut.<\/p>\n<p>Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pembayaran utang Whoosh tidak akan menggunakan dana APBN.<\/p>\n<p>\u201cKalau di bawah Danantara mereka sudah punya manajemen dan dividen sendiri, harusnya tidak pakai APBN lagi,\u201d ujar Purbaya dalam acara Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, Minggu (12\/10).<\/p>\n<p>Lembaga pengelola investasi nasional Danantara kini mengambil peran penting dalam restrukturisasi utang proyek Whoosh.<\/p>\n<p>Rencananya, proyek ini masuk ke dalam 22 program strategis 2025, termasuk opsi penambahan ekuitas dan transformasi sebagian aset menjadi Badan Layanan Umum (BLU) agar lebih efisien dan transparan dalam pengelolaan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left\">Publik Pertanyakan Efisiensi dan Transparansi<\/h2>\n<p>Perbandingan dengan proyek Arab Saudi menjadi bahan diskusi hangat di dunia maya.<\/p>\n<p>Banyak warganet mempertanyakan mengapa proyek sepanjang 142 km bisa menelan biaya hingga Rp120 triliun.<\/p>\n<p>\u201cKalau jarak cuma 142 km tapi biayanya tembus Rp120 triliun, berarti ada yang salah dari perencanaan atau manajemennya,\u201d tulis seorang pengguna X (Twitter).<\/p>\n<p>Namun sejumlah ekonom menilai perbandingan biaya dua negara harus dilihat dengan konteks berbeda.<\/p>\n<p>Harga material, biaya tenaga kerja, hingga nilai tukar mata uang dapat membuat proyek di Indonesia terlihat lebih mahal di atas kertas.<\/p>\n<p>Selain itu, Whoosh bukan sekadar rel dan kereta, tapi juga mencakup pengembangan kawasan transit, fasilitas pendukung, dan investasi teknologi kecepatan tinggi pertama di Asia Tenggara.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left\">Dampak Ekonomi di Bandung: Efek Nyata Meski Butuh Waktu<\/h2>\n<p>Meski biayanya disorot, proyek Whoosh membawa dampak signifikan bagi Bandung Raya dan kawasan sekitarnya.<\/p>\n<p>Waktu tempuh Jakarta\u2013Bandung kini hanya 36 menit, menjadikan kota ini lebih mudah diakses wisatawan dan pelaku bisnis.<\/p>\n<p>Sektor pariwisata, perhotelan, dan UMKM lokal mulai merasakan peningkatan aktivitas ekonomi, terutama di sekitar Stasiun Tegalluar dan kawasan Gedebage.<\/p>\n<p>Namun, efisiensi operasional dan tingkat okupansi penumpang masih jadi tantangan utama.<\/p>\n<p>Tanpa perbaikan strategi pemasaran dan integrasi moda transportasi lanjutan, proyek ini akan sulit mencapai break even point (BEP) dan memberi keuntungan jangka panjang bagi negara.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left\">Proyek Strategis Nasional, Tantangan Jangka Panjang<\/h2>\n<p>Perbandingan antara Whoosh dan Saudi Land Bridge pada akhirnya membuka diskusi lebih besar tentang arah pembangunan nasional.<\/p>\n<p>Infrastruktur besar memang penting sebagai simbol modernisasi, namun tanpa transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas, nilai strategisnya bisa menurun di mata publik.<\/p>\n<p>Ke depan, publik berharap proyek sekelas Whoosh tak hanya menjadi ikon teknologi transportasi Indonesia, tapi juga model pembangunan yang berkelanjutan dan terbuka.<\/p>\n<p>Jika dikelola dengan baik, Whoosh berpotensi menjadi katalis ekonomi baru antara Jakarta, Karawang, Purwakarta, dan Bandung, membuka peluang kerja serta investasi baru di sektor turunan.<\/p>\n<p>Nilai investasi Whoosh yang lebih besar dibanding Saudi Land Bridge memang memunculkan banyak pertanyaan.<\/p>\n<p>Namun jika dilihat dari faktor geografis, teknologi, dan biaya sosial-ekonomi, perbedaan itu tidak sepenuhnya aneh.<\/p>\n<p>Yang kini lebih penting adalah memastikan proyek ini benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar catatan megah di atas kertas.<\/p>\n<p>Sebagai proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara, Whoosh tetap menjadi tonggak sejarah transportasi modern Indonesia.<\/p>\n<p>Tantangannya kini: menjaga agar kecepatan pembangunan seimbang dengan transparansi dan keberlanjutan manfaatnya.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Meski panjang lintasannya jauh lebih pendek, nilai investasi proyek kereta cepat Jakarta\u2013Bandung (Whoosh) ternyata jauh lebih besar dibanding proyek serupa di Arab Saudi.Perbandingan dua proyek ini memicu perbincangan publik: bagaimana mungkin proyek sepanjang 142 kilometer bisa lebih mahal daripada proyek lintasan 1.500 kilometer di Timur Tengah? Isu ini pun kembali menghangat di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":473093,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[32,427],"tags":[1420,274908],"series":[],"class_list":["post-473092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","category-bisnis","tag-peristiwa","tag-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=473092"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473092\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/473093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=473092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=473092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=473092"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=473092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}