{"id":473252,"date":"2025-10-27T16:17:00","date_gmt":"2025-10-27T09:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/27\/jokowi-tergiur-tawaran-xi-jinping-demi-proyek-kereta-cepat\/"},"modified":"2025-10-27T16:20:39","modified_gmt":"2025-10-27T09:20:39","slug":"jokowi-tergiur-tawaran-xi-jinping-demi-proyek-kereta-cepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/27\/jokowi-tergiur-tawaran-xi-jinping-demi-proyek-kereta-cepat\/","title":{"rendered":"Jokowi Tergiur Tawaran Xi Jinping Demi Proyek Kereta Cepat"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b> -Pakar transportasi dan kebijakan publik Agus Pambagio mengungkapkan pengalamannya saat dipanggil oleh Presiden <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/joko-widodo\/\">Joko Widodo<\/a> untuk membahas proyek kereta cepat yang kini menjadi polemik akibat beban utang besar yang ditinggalkan kepada pemerintahan berikutnya.<\/p>\n<p>Dalam pertemuan itu, Agus mengaku terkejut ketika mendengar langsung dari Presiden <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/jokowi\/\">Jokowi<\/a> bahwa ide pembangunan kereta cepat merupakan gagasan pribadinya, bukan usulan kementerian atau lembaga terkait.<\/p>\n<p>\u201cSaya waktu itu dipanggil, saya katakan, \u2018Pak, ini ide siapa?\u2019 Beliau jawab, \u2018Ide saya,\u2019\u201d ujar Agus mengulang percakapannya dengan Jokowi, seperti dikutip redaksi di kanal Youtube Abraham Samad, Senin, 27 Oktober 2025.<\/p>\n<p>Agus awalnya menduga proyek tersebut diinisiasi oleh Kementerian BUMN atau Kementerian Perhubungan. Namun ternyata, keputusan diambil langsung oleh Presiden Jokowi.<\/p>\n<p>\u201cBeliau bilang sudah menyerahkan pada Menteri Perhubungan, tapi karena saat itu tidak setuju, ya sudah saya perintahkan Menteri BUMN untuk meneruskan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Agus sempat menyinggung perjanjian awal Indonesia dengan Jepang yang sudah lebih dulu menyiapkan studi proyek kereta cepat Jakarta\u2013Surabaya dengan tahapan awal hingga Bandung. Namun, kerja sama itu mendadak beralih ke Tiongkok.<\/p>\n<p>\u201cSaya bilang, kan ada perjanjian kita dengan Jepang. Nggak sopan,\u201d tutur Agus.<\/p>\n<p>Namun Jokowi, kata Agus, menilai Jepang terlalu rumit dalam proses pembiayaan dan negosiasi. Agus menambahkan, Jokowi sempat bercerita tentang pengalamannya naik kereta cepat di Tiongkok.<\/p>\n<p>\u201cWaktu saya di Beijing, saya diajak naik itu ke Shanghai, cepat sekali dan bagus, enak sekali. Presiden Tiongkok Xi Jinping bertanya, \u2018Bapak mau?\u2019 Saya bilang \u2018Mau.\u2019 \u2018Mau dibantu?\u2019 Ya sudah,\u201d ujar Agus menirukan percakapan tersebut.<\/p>\n<p>Agus pun menjelaskan perbedaan mendasar antara model kerja sama Jepang dan Tiongkok dalam proyek-proyek infrastruktur.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita bicara loan Jepang itu memang detail banget dan ribet, tapi setelah selesai ya beres kayak MRT. Kalau Cina kebalikannya, gampang di depan, sekarang susahnya di belakang,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia juga menambahkan bahwa Jepang sebenarnya sudah melakukan studi awal yang sangat komprehensif.\u00a0<\/p>\n<p>\u201cJepang sudah bikin studi lebih dulu, satu buku tebal, dan itu dikasihkan, tapi akhirnya dibongkar sama Cina karena dianggap lebih murah. Bunganya waktu itu cuma 0,1 persen, dan break even point-nya 40 tahun,\u201d ungkap Agus.<\/p>\n<p>Kini, setelah proyek tersebut terbukti menimbulkan beban finansial besar, Agus mengaku hanya bisa mengingatkan kembali apa yang pernah ia sampaikan hampir satu dekade lalu bahwa Indonesia belum membutuhkan kereta cepat, dan keputusan itu diambil tanpa perhitungan matang terhadap biaya serta dampaknya terhadap ekonomi nasional.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH -Pakar transportasi dan kebijakan publik Agus Pambagio mengungkapkan pengalamannya saat dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk membahas proyek kereta cepat yang kini menjadi polemik akibat beban utang besar yang ditinggalkan kepada pemerintahan berikutnya. Dalam pertemuan itu, Agus mengaku terkejut ketika mendengar langsung dari Presiden Jokowi bahwa ide pembangunan kereta cepat merupakan gagasan pribadinya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":473253,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-473252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=473252"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473252\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/473253"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=473252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=473252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=473252"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=473252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}