{"id":473417,"date":"2025-10-27T22:58:00","date_gmt":"2025-10-27T15:58:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/27\/dilema-dan-pilihan-strategis-asean-di-bawah-kebijakan-tarif-resiprokal-amerika-serikat\/"},"modified":"2025-10-28T08:07:35","modified_gmt":"2025-10-28T01:07:35","slug":"dilema-dan-pilihan-strategis-asean-di-bawah-kebijakan-tarif-resiprokal-amerika-serikat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/10\/27\/dilema-dan-pilihan-strategis-asean-di-bawah-kebijakan-tarif-resiprokal-amerika-serikat\/","title":{"rendered":"Dilema dan Pilihan Strategis ASEAN di Bawah Kebijakan \u201cTarif Resiprokal\u201d Amerika Serikat"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH<\/strong>&#8211; Pada pagi hari waktu setempat, 26 Oktober 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk memulai kunjungan resmi perdananya sekaligus menghadiri KTT ASEAN ke-47.<\/p>\n<p>Dalam rangkaian lawatan ke Asia kali ini, Gedung Putih hanya menjadwalkan satu hari untuk KTT ASEAN.<\/p>\n<p>Dibandingkan perhelatan KTT itu sendiri, hal yang tampaknya lebih menarik perhatian Washington adalah partisipasi dalam penandatanganan perjanjian damai Thailand\u2013Kamboja.<\/p>\n<p>Media Politico bahkan melaporkan bahwa Gedung Putih menjadikan agenda tersebut sebagai prasyarat kehadiran AS di KTT ASEAN.<\/p>\n<p>Terlihat jelas bahwa pemerintahan AS saat ini menunjukkan minimnya kesabaran terhadap kerja sama bilateral maupun multilateral yang melibatkan negara-negara ASEAN.<\/p>\n<p>Faktanya, Kantor Urusan Multilateral pada Biro Urusan Asia Timur dan Pasifik\u2014yang menangani relasi AS\u2013ASEAN serta isu kawasan Sungai Mekong\u2014telah dibubarkan dalam restrukturisasi Departemen Luar Negeri AS.<\/p>\n<p>Selain itu, selama masa jabatan pertamanya, Trump hanya menghadiri KTT ASEAN pada 2017; dan kali ini besar kemungkinan menjadi satu-satunya kehadirannya di KTT ASEAN pada masa jabatan keduanya.<\/p>\n<p>Berbeda dengan periode pertama, kebijakan Washington terhadap Asia Tenggara kini jauh lebih keras.<\/p>\n<p>Penangguhan bantuan untuk negara-negara di kawasan serta peluncuran kebijakan <b>\u201c<\/b><a title=\"tarif resiprokal\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/tarif-resiprokal\/\">tarif resiprokal<\/a><b>\u201d<\/b> menunjukkan bahwa pemaksaan ekonomi telah menjadi instrumen utama pemerintah AS untuk mencoba membentuk ulang pengaruhnya di Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Dampak kebijakan luar negeri AS tersebut melampaui ekspektasi banyak negara ASEAN.<\/p>\n<p>Selama ini, sebagian elit strategis di kawasan memandang AS sebagai \u201chegemon yang murah hati\u201d: tidak bernafsu ekspansi wilayah namun memiliki kapabilitas militer dan ekonomi untuk menopang tatanan kawasan, sekaligus memberi bantuan dan akses pasar bagi negara-negara ASEAN.<\/p>\n<p>Survei yang dilakukan ISEAS\u2013Yusof Ishak Institute pada 3 Januari\u201315 Februari tahun ini terhadap elit strategis ASEAN menunjukkan, ketika ditanya \u201cpihak mana yang paling Anda percaya dalam mendorong agenda perdagangan bebas global\u201d, 19% responden masih memilih AS, sementara ASEAN dan Tiongkok masing-masing dipilih oleh 23,8% dan 20,6% responden.<\/p>\n<p>Jelas, banyak pihak tidak menyangka negara-negara ASEAN akan menjadi sasaran langsung kebijakan AS.<\/p>\n<p>Baru setelah kebijakan <b>\u201c<\/b><a title=\"tarif resiprokal\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/tarif-resiprokal\/\">tarif resiprokal<\/a>\u201d diterapkan, negara-negara ASEAN makin menyadari realitasnya: prasyarat yang menopang teori \u201chegemon yang murah hati\u201d telah runtuh.<\/p>\n<p>Ng Eng Hen, mantan Menteri Pertahanan Singapura, menyatakan bahwa persepsi negara-negara Asia terhadap AS telah bergeser dari sebelumnya sebagai \u201ckekuatan dengan legitimasi moral\u201d menjadi \u201ctuan tanah pemungut sewa\u201d.<\/p>\n<p>Kebijakan kawasan yang berjalan saat ini setidaknya menimbulkan tiga tantangan jangka menengah\u2013panjang bagi ASEAN:<\/p>\n<ol>\n<li><b>Tekanan untuk \u201cmemilih kubu\u201d kian meningkat<br \/>\n<\/b>Dari sisi ekonomi, lewat kebijakan tarif resiprokal, Washington berupaya mendorong \u201cdecoupling\u201d ekonomi ASEAN dari Tiongkok\u2014antara lain dengan menindak re-ekspor untuk menutup jalur masuknya produk Tiongkok ke pasar AS melalui negara-negara ASEAN, serta dengan menaikkan kriteria asal barang (rules of origin) agar membatasi permintaan ASEAN atas produk antara yang dibuat di Tiongkok.<\/p>\n<p>Dari sisi <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/politik\/\">Politik<\/a> dan keamanan, AS memasukkan banyak isu tersebut ke dalam agenda ekonomi-perdagangan, berupaya menggunakan tarif sebagai alat tekan agar negara-negara ASEAN menyelaraskan posisi dengan AS dalam kompetisi terhadap Tiongkok.<\/li>\n<li><b>Kebijakan AS memecah ASEAN dan melemahkan pengaruh normatifnya<br \/>\n<\/b>Menghadapi tekanan maksimal Washington, ASEAN gagal menyusun posisi tawar kolektif; sebagian anggota memilih langkah unilateral untuk memperoleh kelonggaran.<\/p>\n<p>Singapura\u2014ekonomi paling maju di ASEAN\u2014mendapat tarif dasar 10%, sementara Myanmar dan Laos yang kurang berkembang menghadapi tarif ekspor ke AS hingga 40%; kesenjangan kebijakan ini berpotensi memperlebar jurang pembangunan intra-ASEAN.Penguatan aliansi Filipina\u2013AS juga memperdalam fragmentasi strategis antar anggota.<\/p>\n<p>Dalam isu yang menyentuh kepentingan kekuatan besar, konsensus ASEAN akan makin sulit tercapai.<\/p>\n<p>Selain itu, selama ini ASEAN mendukung sistem perdagangan multilateral dengan WTO sebagai inti.<\/p>\n<p>Kebijakan tarif resiprokal AS jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental WTO, seperti perlakuan negara paling diuntungkan (Most-Favoured-Nation\/MFN), sehingga mengikis otoritas normatif ASEAN dalam tatanan perdagangan internasional dan menyalahi visi integrasi ekonomi kawasan yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan.<\/li>\n<li><b>Lingkungan dagang ASEAN\u2013AS tetap sarat ketidakpastian<br \/>\n<\/b>Laporan UNDP menunjukkan kenaikan harga akibat tarif baru berpotensi menurunkan total ekspor Asia Tenggara ke AS sebesar 9,7%, dengan Vietnam berisiko merugi lebih dari US$25 miliar.<\/p>\n<p>Negara-negara yang meneken perjanjian dagang dengan AS kini wajib menindak re-ekspor\u2014namun bagaimana definisi operasional dan standar penilaiannya tetap tidak jelas.Di luar itu, negara-negara ASEAN akan berada di bawah pengawasan AS dalam jangka panjang; begitu suatu produk diklasifikasikan sebagai hasil re-ekspor, ekspor ke AS dapat dikenai tarif punitif hingga 40%.<\/li>\n<\/ol>\n<h3 style=\"text-align: left;\">Kesimpulan<\/h3>\n<p>Kebijakan AS yang keras terhadap ASEAN menciptakan risiko besar di bidang ekonomi dan keamanan, namun sekaligus mendorong refleksi dan penyesuaian strategis yang lebih dalam.<\/p>\n<p>Masa depan ASEAN pada akhirnya ditentukan oleh kemampuannya untuk:<\/p>\n<p>(i) memperkuat persatuan internal<\/p>\n<p>(ii) menjalankan strategi penyeimbangan yang luwes dan pragmatis, serta<\/p>\n<p>(iii) memperdalam kemitraan lintas kawasan, khususnya dengan negara-negara Global South\u2014agar krisis saat ini dapat diubah menjadi peluang historis untuk memperdalam integrasi kawasan dan mencapai kemandirian strategis yang sesungguhnya.<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473417?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penangguhan bantuan untuk negara-negara di kawasan serta peluncuran kebijakan \u201ctarif resiprokal\u201d menunjukkan bahwa pemaksaan ekonomi telah menjadi instrumen utama pemerintah AS untuk mencoba membentuk ulang pengaruhnya di Asia Tenggara<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":473418,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"tarif resiprokal","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[32,437],"tags":[274908,1420,329158],"series":[],"class_list":["post-473417","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","category-global","tag-berita","tag-peristiwa","tag-tarif-resiprokal"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473417","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=473417"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/473417\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/473418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=473417"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=473417"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=473417"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=473417"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}