{"id":474265,"date":"2025-11-01T05:14:41","date_gmt":"2025-10-31T22:14:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=474265"},"modified":"2025-11-01T05:47:00","modified_gmt":"2025-10-31T22:47:00","slug":"shalawat-tarhim-kajian-kritis-bidah-sunnah-dan-tradisi-dalam-perspektif-ulama-klasik-dan-kontemporer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/11\/01\/shalawat-tarhim-kajian-kritis-bidah-sunnah-dan-tradisi-dalam-perspektif-ulama-klasik-dan-kontemporer\/","title":{"rendered":"Shalawat Tarhim: Kajian Kritis Bid\u2018ah, Sunnah, dan Tradisi dalam Perspektif Ulama Klasik dan Kontemporer"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"379\" data-end=\"821\"><span class=\"dropcap\">F<\/span>ENOMENA lantunan <a title=\"shalawat tarhim\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/shalawat-tarhim\/\"><em data-start=\"397\" data-end=\"414\">shalawat tarhim<\/em><\/a> menjelang waktu salat telah menjadi tradisi keagamaan yang luas di Indonesia dan beberapa negeri Muslim lain.<\/p>\n<p data-start=\"379\" data-end=\"821\">Di berbagai masjid, terutama di wilayah berhaluan Ahlussunnah wal Jama\u2018ah (Aswaja), tarhim menggema sebagai penanda masuknya waktu Subuh atau menjelang salat Jumat.<\/p>\n<p data-start=\"379\" data-end=\"821\">Lantunan itu biasanya berupa bacaan pujian kepada Rasulullah SAW dengan nada khas, diiringi gema pengeras suara dari menara masjid.<\/p>\n<p data-start=\"823\" data-end=\"1217\">Namun, praktik ini tidak lepas dari perdebatan. Sebagian kelompok menilai <em data-start=\"897\" data-end=\"914\">shalawat tarhim<\/em> sebagai ekspresi cinta kepada Nabi, bagian dari syiar Islam, bahkan termasuk <em data-start=\"992\" data-end=\"1008\">bid\u2018ah hasanah<\/em>.<\/p>\n<p data-start=\"823\" data-end=\"1217\">Di sisi lain, sebagian kalangan, khususnya dari mazhab yang lebih skriptural seperti Salafi, menganggap tarhim sebagai inovasi dalam ibadah yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW maupun para sahabat.<\/p>\n<p data-start=\"1219\" data-end=\"1420\">Artikel ini mengulas secara akademik apakah <em data-start=\"1263\" data-end=\"1280\">shalawat tarhim<\/em> memiliki landasan syar\u2018i yang kuat atau termasuk dalam kategori <em data-start=\"1345\" data-end=\"1360\">bid\u2018ah ibadah<\/em>, dengan meninjau pandangan para ulama dari berbagai mazhab.<\/p>\n<h3 data-start=\"1427\" data-end=\"1470\"><strong data-start=\"1431\" data-end=\"1470\">Asal-Usul dan Makna Shalawat Tarhim<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"1472\" data-end=\"1843\">Kata <em data-start=\"1477\" data-end=\"1485\">tarhim<\/em> berasal dari bahasa Arab <strong data-start=\"1511\" data-end=\"1521\">ra\u1e25mah<\/strong> (\u0631\u062d\u0645\u0629), yang berarti kasih sayang. Secara terminologis, <em data-start=\"1578\" data-end=\"1586\">tarhim<\/em> dalam konteks shalawat adalah seruan atau doa agar umat memperoleh rahmat Allah, disertai pujian kepada Nabi Muhammad SAW.<\/p>\n<p data-start=\"1472\" data-end=\"1843\">Dalam praktiknya di Nusantara, <em data-start=\"1741\" data-end=\"1758\">shalawat tarhim<\/em> dibacakan sebelum azan, biasanya sekitar sepuluh atau lima belas menit sebelumnya.<\/p>\n<p data-start=\"1845\" data-end=\"2229\">Tradisi ini diyakini berkembang pada masa penyebaran Islam di wilayah Melayu dan Jawa. Ulama lokal memperkenalkan bacaan shalawat dan zikir dengan tujuan menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta mempersiapkan jamaah menuju ibadah salat.<\/p>\n<p data-start=\"1845\" data-end=\"2229\">Namun, dari segi riwayat, tidak ditemukan dalil yang menunjukkan Rasulullah SAW atau para sahabat melantunkan bacaan serupa sebelum azan.<\/p>\n<p data-start=\"2231\" data-end=\"2385\">Dengan demikian, <em data-start=\"2248\" data-end=\"2265\">shalawat tarhim<\/em> lebih bersifat tradisi sosial keagamaan (<em data-start=\"2307\" data-end=\"2318\">\u2018urf dini<\/em>), bukan ibadah yang memiliki <em data-start=\"2348\" data-end=\"2363\">tawqif syar\u2018i<\/em> (batasan dari wahyu).<\/p>\n<h3 data-start=\"2392\" data-end=\"2427\"><strong data-start=\"2396\" data-end=\"2427\">Perspektif Hadis dan Sunnah<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"2429\" data-end=\"2611\">Ibadah dalam Islam bersifat <em data-start=\"2457\" data-end=\"2470\">tauqifiyyah<\/em>, yakni hanya sah dilakukan jika ada dasar dari Al-Qur\u2019an, Sunnah, ijmak, atau qiyas yang sahih. Prinsip ini ditegaskan dalam sabda Nabi SAW:<\/p>\n<blockquote data-start=\"2613\" data-end=\"2743\">\n<p data-start=\"2615\" data-end=\"2743\">\u201cBarang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.\u201d<br data-start=\"2712\" data-end=\"2715\" \/><em data-start=\"2717\" data-end=\"2743\">(HR. Bukhari dan Muslim)<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"2745\" data-end=\"3048\">Dalam konteks <em data-start=\"2759\" data-end=\"2776\">shalawat tarhim<\/em>, tidak ada hadis yang menjelaskan adanya bacaan shalawat khusus sebelum azan.<\/p>\n<p data-start=\"2745\" data-end=\"3048\">Rasulullah SAW memerintahkan muazin mengumandangkan azan dan iqamah sesuai teks yang telah beliau ajarkan. Tidak ada tambahan berupa doa, shalawat, atau lantunan lain sebelum atau sesudahnya.<\/p>\n<p data-start=\"3050\" data-end=\"3355\">Sebagian pihak berargumen bahwa karena shalawat adalah ibadah yang disyariatkan secara umum, maka membacanya dalam waktu apa pun tidak terlarang.<\/p>\n<p data-start=\"3050\" data-end=\"3355\">Namun, ulama ushul fiqh menegaskan bahwa menentukan waktu, tempat, atau bentuk baru dalam ibadah adalah bentuk bid\u2018ah jika tidak ada dasar dari Nabi SAW.<\/p>\n<p data-start=\"3357\" data-end=\"3692\">Ibn Rajab al-Hanbali dalam <em data-start=\"3384\" data-end=\"3410\">J\u0101mi\u2018 al-\u2018Ul\u016bm wal-\u1e24ikam<\/em> menjelaskan bahwa amal yang baik sekalipun dapat menjadi bid\u2018ah jika dilakukan dengan cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW atau generasi awal.<\/p>\n<p data-start=\"3357\" data-end=\"3692\">Dengan demikian, pembacaan shalawat secara berjamaah dan bersuara keras menjelang azan tidak memiliki contoh dari generasi salaf.<\/p>\n<h3 data-start=\"3699\" data-end=\"3745\"><strong data-start=\"3703\" data-end=\"3745\">Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer<\/strong><\/h3>\n<h4 data-start=\"3747\" data-end=\"3791\"><strong data-start=\"3752\" data-end=\"3791\">1. Imam Nawawi dan Tradisi Shalawat<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"3793\" data-end=\"4179\">Imam Nawawi dalam <em data-start=\"3811\" data-end=\"3822\">Al-Adzkar<\/em> memang menganjurkan pembacaan shalawat dalam banyak kesempatan, termasuk antara azan dan iqamah, karena waktu itu mustajab untuk doa.<\/p>\n<p data-start=\"3793\" data-end=\"4179\">Namun, beliau tidak menyebut adanya bacaan tertentu yang dilantunkan sebelum azan. Jadi, meskipun beliau menganjurkan memperbanyak shalawat, tidak berarti membolehkan penetapan ritual tertentu yang tidak memiliki contoh.<\/p>\n<h4 data-start=\"4181\" data-end=\"4237\"><strong data-start=\"4186\" data-end=\"4237\">2. Ibn Taymiyyah: Penegasan Prinsip Tauqifiyyah<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"4239\" data-end=\"4309\">Ibn Taymiyyah (w. 728 H) dalam <em data-start=\"4270\" data-end=\"4288\">Majm\u016b\u2018 al-Fat\u0101w\u0101<\/em> (22\/510) menegaskan:<\/p>\n<p data-start=\"4313\" data-end=\"4542\">\u201cTidak diperbolehkan menambah-nambah bentuk zikir atau doa dengan cara tertentu yang tidak diajarkan Nabi SAW. Barang siapa menetapkan suatu bentuk ibadah yang tidak berasal dari beliau, maka ia telah membuat bid\u2018ah dalam agama.\u201d<\/p>\n<p data-start=\"4544\" data-end=\"4843\">Dalam kerangka ini, <em data-start=\"4564\" data-end=\"4581\">shalawat tarhim<\/em> dipandang sebagai penambahan pada ibadah yang bersifat tauqifi.<\/p>\n<p data-start=\"4544\" data-end=\"4843\">Ibn Taymiyyah juga menyebutkan bahwa mengangkat suara dengan bacaan tertentu di luar tuntunan Rasulullah SAW, walaupun isinya baik, tetap termasuk <em data-start=\"4793\" data-end=\"4811\">ghuluw fi al-din<\/em> (berlebih-lebihan dalam agama).<\/p>\n<h4 data-start=\"4845\" data-end=\"4892\"><strong data-start=\"4850\" data-end=\"4892\">3. Imam Asy-Syathibi dan Konsep Bid\u2018ah<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"4894\" data-end=\"4976\">Imam Asy-Syathibi (w. 790 H) dalam <em data-start=\"4929\" data-end=\"4941\">Al-I\u2018tisam<\/em> menjelaskan bahwa <em data-start=\"4960\" data-end=\"4968\">bid\u2018ah<\/em> adalah:<\/p>\n<p data-start=\"4980\" data-end=\"5091\">\u201cCara dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syariat, dimaksudkan untuk berlebih dalam ibadah kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p data-start=\"5093\" data-end=\"5258\">Dari definisi ini, shalawat tarhim memenuhi unsur <em data-start=\"5143\" data-end=\"5162\">bid\u2018ah idhafiyyah<\/em> \u2014 yaitu ibadah yang dasarnya ada (shalawat), tetapi cara dan waktunya ditentukan tanpa dalil.<\/p>\n<h4 data-start=\"5260\" data-end=\"5305\"><strong data-start=\"5265\" data-end=\"5305\">4. Syaikh Al-Albani dan Ulama Salafi<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"5307\" data-end=\"5631\">Syaikh Nasiruddin al-Albani dalam <em data-start=\"5341\" data-end=\"5359\">Tahdz\u012br as-S\u0101jid<\/em> menegaskan larangan menetapkan bacaan tertentu menjelang azan karena tidak ada contoh dari Rasulullah SAW. Menurutnya, jika suatu ibadah tidak memiliki dalil khusus dan tidak dilakukan oleh generasi awal Islam, maka ia tidak boleh dijadikan kebiasaan tetap (<em data-start=\"5618\" data-end=\"5629\">ta\u2018abbudi<\/em>).<\/p>\n<h4 data-start=\"5633\" data-end=\"5683\"><strong data-start=\"5638\" data-end=\"5683\">5. Ulama Aswaja dan Konsep Bid\u2018ah Hasanah<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"5685\" data-end=\"5878\">Sebaliknya, ulama Aswaja seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Imam Ibn Hajar al-Asqalani menggunakan pendekatan yang lebih longgar. Mereka membedakan <em data-start=\"5837\" data-end=\"5853\">bid\u2018ah hasanah<\/em> dan <em data-start=\"5858\" data-end=\"5875\">bid\u2018ah dhalalah<\/em>.<\/p>\n<p data-start=\"5880\" data-end=\"5956\">As-Suyuthi menulis dalam <em data-start=\"5905\" data-end=\"5953\">Al-Amr bi al-Ittib\u0101\u2018 wa an-Nahy \u2018an al-Ibtid\u0101\u2018<\/em>:<\/p>\n<p data-start=\"5959\" data-end=\"6096\">\u201cSetiap perkara baru tidak serta-merta tercela; yang sesuai dengan sunnah termasuk hasanah, sedangkan yang bertentangan adalah dhalalah.\u201d<\/p>\n<p data-start=\"6098\" data-end=\"6463\">Dalam konteks ini, sebagian ulama menganggap <em data-start=\"6143\" data-end=\"6160\">shalawat tarhim<\/em> sebagai <em data-start=\"6169\" data-end=\"6185\">bid\u2018ah hasanah<\/em> karena berisi zikir dan pujian kepada Nabi SAW, bukan bentuk penyimpangan akidah.<\/p>\n<p data-start=\"6098\" data-end=\"6463\">Pandangan ini dianut oleh banyak ulama Nusantara seperti KH. Hasyim Asy\u2018ari dan KH. Ahmad Dahlan, yang menilai nilai moral dan dakwah lebih penting selama tidak mengganti rukun ibadah yang pokok.<\/p>\n<h3 data-start=\"6470\" data-end=\"6509\"><strong data-start=\"6474\" data-end=\"6509\">Analisis Fiqh dan Kaidah Bid\u2018ah<\/strong><\/h3>\n<h4 data-start=\"6511\" data-end=\"6549\"><strong data-start=\"6516\" data-end=\"6549\">Bid\u2018ah dalam Perspektif Ushul<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"6551\" data-end=\"6590\">Para ulama membedakan dua jenis bid\u2018ah:<\/p>\n<ol data-start=\"6592\" data-end=\"6781\">\n<li data-start=\"6592\" data-end=\"6708\">\n<p data-start=\"6595\" data-end=\"6708\"><strong data-start=\"6595\" data-end=\"6618\">Bid\u2018ah I\u2018tiq\u0101diyyah<\/strong> \u2013 berkaitan dengan akidah dan prinsip pokok agama (seperti paham Qadariyah, Jabariyah).<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"6709\" data-end=\"6781\">\n<p data-start=\"6712\" data-end=\"6781\"><strong data-start=\"6712\" data-end=\"6733\">Bid\u2018ah \u2018Amaliyyah<\/strong> \u2013 berkaitan dengan bentuk ibadah atau amalan.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"6783\" data-end=\"6968\"><em data-start=\"6783\" data-end=\"6800\">Shalawat tarhim<\/em> termasuk kategori kedua. Ibadah yang memiliki dasar umum, tetapi bentuknya diatur sendiri tanpa dalil khusus, digolongkan sebagian ulama sebagai <em data-start=\"6946\" data-end=\"6965\">bid\u2018ah idhafiyyah<\/em>.<\/p>\n<h4 data-start=\"6970\" data-end=\"6996\"><strong data-start=\"6975\" data-end=\"6996\">Kaidah Ushul Fiqh<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"6998\" data-end=\"7042\">Kaidah penting dalam ushul fiqh menyebutkan:<\/p>\n<p data-start=\"7046\" data-end=\"7201\">\u201cAl-A\u1e63lu fil \u2018ib\u0101d\u0101t at-ta\u1e25r\u012bm ill\u0101 m\u0101 dalla ad-dal\u012bl \u2018al\u0101 mashr\u016b\u2018iyyatihi.\u201d<br data-start=\"7122\" data-end=\"7125\" \/>(Asal hukum ibadah adalah terlarang kecuali ada dalil yang menetapkannya.)<\/p>\n<p data-start=\"7203\" data-end=\"7545\">Dengan demikian, menentukan waktu tertentu untuk membaca shalawat sebelum azan adalah bentuk penetapan ibadah yang tidak memiliki dalil khusus.<\/p>\n<p data-start=\"7203\" data-end=\"7545\">Namun, jika dilakukan tidak sebagai ritual tetap, melainkan kebiasaan sosial (sekadar pengingat waktu salat), sebagian fuqaha membolehkannya dengan syarat tidak diyakini sebagai bagian dari syariat.<\/p>\n<h3 data-start=\"7552\" data-end=\"7590\"><strong data-start=\"7556\" data-end=\"7590\">Perspektif Sosial dan Kultural<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"7592\" data-end=\"7888\">Fenomena <em data-start=\"7601\" data-end=\"7618\">shalawat tarhim<\/em> tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial masyarakat Muslim Indonesia.<\/p>\n<p data-start=\"7592\" data-end=\"7888\">Tradisi ini lahir dari semangat dakwah dan estetika Islam lokal. Ia berfungsi sebagai simbol keislaman dan penanda waktu yang lembut di tengah masyarakat agraris yang dulu belum mengenal jam modern.<\/p>\n<p data-start=\"7890\" data-end=\"8144\">Secara sosiologis, <em data-start=\"7909\" data-end=\"7926\">shalawat tarhim<\/em> memiliki nilai edukatif: mengingatkan umat agar menyiapkan diri menuju salat dengan hati yang khusyuk.<\/p>\n<p data-start=\"7890\" data-end=\"8144\">Karena itu, sebagian ulama menilai manfaat sosialnya signifikan, meskipun dari segi fikih ada perbedaan pandangan.<\/p>\n<p data-start=\"8146\" data-end=\"8367\">Namun, di tengah era globalisasi dan penyebaran paham puritan, muncul gesekan antara kelompok yang menolak dan mempertahankan tarhim.<\/p>\n<p data-start=\"8146\" data-end=\"8367\">Dalam banyak kasus, perbedaan ini menimbulkan konflik kecil di masjid atau komunitas.<\/p>\n<p data-start=\"8369\" data-end=\"8633\">Imam Malik pernah menegaskan, <em data-start=\"8399\" data-end=\"8525\">\u201cBarang siapa membuat sesuatu yang dianggap ibadah tetapi tidak dilakukan para sahabat, maka ia telah menuduh mereka lalai.\u201d<\/em> Pernyataan ini menjadi dasar etis agar umat berhati-hati membedakan antara tradisi sosial dan ibadah murni.<\/p>\n<h3 data-start=\"8640\" data-end=\"8698\"><strong data-start=\"8644\" data-end=\"8698\">Analisis Kritis: Antara Cinta dan Ketepatan Ibadah<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"8700\" data-end=\"8900\">Shalawat adalah bentuk cinta kepada Rasulullah SAW, dan cinta kepada beliau adalah bagian dari iman. Namun, cinta itu harus mengikuti prinsip <em data-start=\"8842\" data-end=\"8851\">ittiba\u2018<\/em> (mengikuti), bukan <em data-start=\"8871\" data-end=\"8880\">ibtida\u2018<\/em> (mengada-adakan).<\/p>\n<p data-start=\"8902\" data-end=\"9156\">Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan bacaan zikir dan shalawat dalam banyak waktu.<\/p>\n<p data-start=\"8902\" data-end=\"9156\">Tidak ditemukan riwayat bahwa beliau menetapkan bacaan tertentu sebelum azan. Maka, menetapkannya sebagai ritual tetap dapat berpotensi menambah-nambah dalam ibadah.<\/p>\n<p data-start=\"9158\" data-end=\"9372\">Meski demikian, tidak bijak jika perbedaan ini dijadikan dasar untuk menuduh pihak lain sesat. Sebab, masalah ini berada pada wilayah <em data-start=\"9292\" data-end=\"9306\">ijtihadiyyah<\/em> \u2013 ranah perbedaan penafsiran hukum yang tidak menyentuh akidah.<\/p>\n<p data-start=\"9374\" data-end=\"9623\">Ulama seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi menegaskan dalam <em data-start=\"9430\" data-end=\"9453\">Al-Ijtihad al-Mu\u2018\u0101\u1e63ir<\/em> bahwa perbedaan pendapat dalam hal cabang tidak boleh melahirkan perpecahan.<\/p>\n<p data-start=\"9374\" data-end=\"9623\">Selama niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, umat Islam hendaknya saling menghormati.<\/p>\n<h3 data-start=\"9630\" data-end=\"9661\"><strong data-start=\"9634\" data-end=\"9661\">Dimensi Hukum dan Etika<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"9663\" data-end=\"10006\">Jika <em data-start=\"9668\" data-end=\"9685\">shalawat tarhim<\/em> dijadikan ritual tetap dan dikaitkan dengan keutamaan khusus (misalnya diyakini berpahala tertentu atau sunnah Rasul), maka menurut kaidah fiqh, hal itu termasuk <em data-start=\"9848\" data-end=\"9863\">bid\u2018ah ibadah<\/em> yang perlu dihindari. Tetapi jika dilakukan sekadar pengingat, tanpa diyakini sebagai bagian dari syariat, maka ia termasuk <em data-start=\"9988\" data-end=\"9994\">\u2018urf<\/em> yang mubah.<\/p>\n<p data-start=\"10008\" data-end=\"10285\">Ibn Taymiyyah sendiri membedakan antara amalan yang bersifat <em data-start=\"10069\" data-end=\"10080\">ta\u2018abbudi<\/em> dan <em data-start=\"10085\" data-end=\"10096\">ta\u2018awwuni<\/em>.<\/p>\n<p data-start=\"10008\" data-end=\"10285\">Selama <em data-start=\"10105\" data-end=\"10113\">tarhim<\/em> tidak mengubah tata cara ibadah, ia tidak dapat dikategorikan sebagai kesesatan yang menafikan iman, tetapi cukup disebut <em data-start=\"10236\" data-end=\"10261\">amalan ghairu masyr\u016b\u2018ah<\/em> (tidak ada tuntunan).<\/p>\n<p data-start=\"10287\" data-end=\"10568\">Pendekatan fiqh kontemporer lebih menekankan <em data-start=\"10332\" data-end=\"10350\">maq\u0101\u1e63id syar\u012b\u2018ah<\/em> \u2014 tujuan umum syariat, yaitu menjaga iman, akal, dan persatuan umat.<\/p>\n<p data-start=\"10287\" data-end=\"10568\">Karena itu, melarang atau menolak <em data-start=\"10454\" data-end=\"10471\">shalawat tarhim<\/em> secara keras tanpa edukasi dapat menimbulkan fitnah sosial yang lebih besar daripada manfaatnya.<\/p>\n<h3 data-start=\"10575\" data-end=\"10602\"><strong data-start=\"10579\" data-end=\"10602\">Kesimpulan Normatif<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"10604\" data-end=\"10674\">Berdasarkan analisis nash dan pandangan para ulama, dapat disimpulkan:<\/p>\n<ol data-start=\"10676\" data-end=\"11448\">\n<li data-start=\"10676\" data-end=\"10798\">\n<p data-start=\"10679\" data-end=\"10798\">Tidak terdapat dalil dari Al-Qur\u2019an maupun hadis sahih yang menunjukkan adanya bacaan shalawat khusus menjelang azan.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"10799\" data-end=\"10958\">\n<p data-start=\"10802\" data-end=\"10958\">Dari perspektif <em data-start=\"10818\" data-end=\"10829\">usul fiqh<\/em>, <em data-start=\"10831\" data-end=\"10848\">shalawat tarhim<\/em> termasuk amalan yang tidak memiliki dasar tauqifi, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai sunnah ibadah.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"10959\" data-end=\"11111\">\n<p data-start=\"10962\" data-end=\"11111\">Sebagian ulama menganggapnya <em data-start=\"10991\" data-end=\"11010\">bid\u2018ah idhafiyyah<\/em>, sementara ulama lain menilainya <em data-start=\"11044\" data-end=\"11060\">bid\u2018ah hasanah<\/em> karena isinya tidak bertentangan dengan syariat.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"11112\" data-end=\"11287\">\n<p data-start=\"11115\" data-end=\"11287\">Secara sosial, tradisi ini berfungsi sebagai syiar dan pengingat waktu salat, yang secara moral dapat diterima selama tidak diyakini sebagai bagian dari tata cara ibadah.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"11288\" data-end=\"11448\">\n<p data-start=\"11291\" data-end=\"11448\">Umat Islam perlu memahami perbedaan antara ibadah yang bersifat tauqifiyyah (harus ada dalil) dan amalan \u2018urfiyyah (tradisi) agar tidak saling menyesatkan.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"11450\" data-end=\"11504\">Kembali kepada prinsip dasar, Rasulullah SAW bersabda:<\/p>\n<blockquote data-start=\"11506\" data-end=\"11627\">\n<p data-start=\"11508\" data-end=\"11627\">\u201cSebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan.\u201d<br data-start=\"11608\" data-end=\"11611\" \/><em data-start=\"11613\" data-end=\"11627\">(HR. Muslim)<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"11629\" data-end=\"12005\">Karenanya, kehati-hatian dalam ibadah wajib diutamakan. Cinta kepada Rasulullah SAW seharusnya diwujudkan dengan mengikuti sunnah beliau secara murni, bukan dengan menambah bentuk ibadah baru tanpa dasar syar\u2018i.<\/p>\n<p data-start=\"11629\" data-end=\"12005\">Namun, menjaga ukhuwah dan menghindari permusuhan antarumat tetap menjadi prioritas utama, karena perbedaan dalam hal cabang tidak boleh merusak persaudaraan Islam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fenomena lantunan shalawat tarhim menjelang waktu salat telah menjadi tradisi keagamaan yang luas di Indonesia dan beberapa negeri Muslim lain<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":454096,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[65],"tags":[325458,329355,329356,154036,325457],"series":[],"class_list":["post-474265","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-islam","tag-amalan-bidah","tag-shalawat-sebelum-adzan","tag-ajaran-dan-amalan-baru","tag-bidah","tag-shalawat-tarhim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/474265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=474265"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/474265\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/454096"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=474265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=474265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=474265"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=474265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}