{"id":476281,"date":"2025-11-13T09:13:00","date_gmt":"2025-11-13T02:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/11\/13\/cerita-bilqis-selama-di-perkampungan-adat-jambi-saat-diculik-makan-mi-hingga-lihat-banyak-anjing\/"},"modified":"2025-11-13T09:16:48","modified_gmt":"2025-11-13T02:16:48","slug":"cerita-bilqis-selama-di-perkampungan-adat-jambi-saat-diculik-makan-mi-hingga-lihat-banyak-anjing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/11\/13\/cerita-bilqis-selama-di-perkampungan-adat-jambi-saat-diculik-makan-mi-hingga-lihat-banyak-anjing\/","title":{"rendered":"Cerita Bilqis Selama di Perkampungan Adat Jambi saat Diculik: Makan Mi hingga Lihat Banyak Anjing"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b>\u00a0 &#8211; Bilqis Ramdhani (4) menjadi korban penculikan di Taman Pakui Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (2\/11\/2025).<\/p>\n<p>Bilqis telah ditemukan di SPE Gading Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi, Sabtu (8\/11\/2025) lalu.<\/p>\n<p>Setelah itu, Bilqis dikembalikan kepada orang tuanya di Makassar, Minggu (9\/11\/2025).<\/p>\n<p>Satreskrim Polrestabes Makassar menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus penculikan dan perdagangan anak ini.<\/p>\n<p>Bilqis menyampaikan sejumlah pengakuan kepada ayahnya, Dwi Nurmas (34), setelah dijemput polisi di Perkampungan Adat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.<\/p>\n<p>Selama berada di perkampungan adat salah satu suku di Provinsi Jambi, Bilqis mengaku diperlakukan layaknya seorang anak.<\/p>\n<p>Balita tersebut mengaku sempat makan mi selama berada di perkampungan adat di Jambi.<\/p>\n<p>&#8220;Saya tanya, tidur di mana nak? Dia bilang sama bapak-bapak. Dia pikirnya bapak begitu,&#8221; ungkap Dimas sapaan Dwi Nurmas di rumahnya, Jl Pelita Raya 2, Kecamatan Rappocini, Makassar, Selasa (11\/11\/2025), dilansir Tribun-Timur.com.<\/p>\n<p>&#8220;Makan apa di sana? Dia bilang makan mi. Kayak biasa,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Selain itu, Bilqis juga mengaku melihat anjing di perkampungan adat tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Ada anjing katanya dia lihat, banyak,&#8221; jelas Dimas.<\/p>\n<p>Sementara itu, menurut Dwi Nurmas, kini Bilqis lebih agresif.<\/p>\n<p>&#8220;Iya ada perubahan (perilaku). Sekarang itu lebih agresif,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Bilqis, kata Dimas, memang sosok anak yang aktif.<\/p>\n<p>Namun, sebelum diculik bocah itu tetap lembut.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau misalnya dia tutup pintu itu sebelumnya tidak terlalu keras, sekarang bunyi, kayak lebih keras begitu,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Kemudian, ketika menginginkan sesuatu, Bilqis ingin permintaannya segera dituruti.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau misalnya minta uang mau belanja, tidak mau menunggu, harus langsung dikasih,&#8221; tambah dia.<\/p>\n<p><b>Tersangka Penculikan Bilqis<\/b><\/p>\n<p>Dikutip dari TribunJambi.com, berikut daftar empat tersangka dalam kasus penculikan dan perdagangan balita Bilqis:<\/p>\n<ol>\n<li>Sri Yuliana alias SY (30), penculik Bilqis (4) di Taman Pakui Sayang, Makassar.<\/p>\n<\/li>\n<li>Nadi Hutri alias NH (NH), warga Sukoharjo, Jawa Tengah, yang membawa Bilqis dengan pesawat ke Jambi.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Wanita asal Sukoharjo itu datang secara khusus ke Makassar untuk menjemput Bilqis dari SY, lalu membawanya naik pesawat ke Jakarta, lalu lanjut ke Jambi.<\/p>\n<ol>\n<li>Meriana (MA ), warga Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Meriana merupakan Ibu rumah tangga yang berusia 42 tahun.<\/p>\n<p>Dia terlibat dalam proses penjualan lanjutan di Jambi.<\/p>\n<ol>\n<li>Adit Prayitno Saputra (AS), warga Kecamatan Bangko, Merangin, Jambi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Adit Prayitno Saputra diketahui merupakan tenaga honorer.<\/p>\n<p>Pria berusia 36 tahun itu terlibat bersama MA dalam proses penjualan lanjutan di Jambi.<\/p>\n<p>Dari pengakuannya, dua tersangka itu sudah menjual 9 bayi dan 1 anak lewat media sosial.<\/p>\n<p>Keempatnya dijerat Pasal 83 Juncto Pasal 76F Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 2 Ayat 1 (dan) 2 Juncto Pasal 17 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun penjara.<\/p>\n<p><b>Modus Penculikan Bilqis<\/b><\/p>\n<p>Terungkap modus SY menculik Bilqis tanpa diketahui sang ayah, Dwi Nurmas, saat bermain tenis di Taman Pakui Sayang, Jl AP Pettarani, Makassar, Minggu (2\/11\/2025).<\/p>\n<p>SY terekam CCTV membawa Bilqis bersama dua anak kandungnya.<\/p>\n<p>Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Devi Sujana mengungkapkan SY sengaja membawa anaknya untuk memancing Bilqis bermain.<\/p>\n<p>\u201cKemungkinan digunakan untuk memancing dengan mengajak bermain,\u201d ungkapnya, Senin (10\/11\/2025), dikutip dari Tribun-Timur.com.<\/p>\n<p>Setelah itu, ketika ayah korban bertanding tenis, SY pun membawa kabur Bilqis.<\/p>\n<p>Adapun motif SY adalah keterbatasan ekonomi.<\/p>\n<p>Sebab, SY menjadi tulang punggung keluarga setelah berpisah dengan suami.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil pemeriksaan, SY baru pertama kali melakukan transaksi.<\/p>\n<p>Keempat tersangka tergabung dalam sindikat jual beli anak melalui grup Facebook dan WhatsApp berkedok adopsi.<\/p>\n<p>\u201cUntuk korban Bilqis, memang dijual untuk dijadikan anak adopsi,\u201d ujar Devi.<\/p>\n<p><b>Kronologi Penculikan<\/b><\/p>\n<p>Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, mengatakan kasus ini bermula saat korban Bilqis bermain di Taman Pakui Sayang, Jl AP Pettarani, Makassar, Minggu (2\/11\/2025).<\/p>\n<p>Saat itu Bilqis ikut ayahnya yang sedang bermain tenis lapangan.<\/p>\n<p>Sang ayah, Dwi Nurmas, yang tengah bermain tenis, tak sadar Bilqis sudah dibawa pergi oleh pelaku berinisial SY.<\/p>\n<p>&#8220;Dari hasil penyelidikan, Polrestabes Makassar mengamankan SY sebagai pelaku utama,&#8221; katanya, Senin.<\/p>\n<p>Setelah itu, SY membawa korban ke indekosnya di Jl Abu Bakar Lambogo, Makassar.<\/p>\n<p>Kemudian, pelaku menawarkan korban melalui media sosial Facebook dengan akun &#8220;Hiromani Rahim Bismillah&#8221;.<\/p>\n<p>&#8220;Kemudian, ada yang berminat dengan korban. Pembelinya atas nama NH,&#8221; jelas Djuhandhani.<\/p>\n<p>NH yang berminat lalu terbang dari Jakarta ke Makassar melakukan transaksi dengan SY dan menjemput Bilqis.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan transaksi sebesar Rp3 juta rupiah di kos pelaku (SY)&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>NH lalu membawa Bilqis ke Jambi, transit di Jakarta, dan menjual kepada AS dan MA.<\/p>\n<p>&#8220;Pengakuan NH sebagai keluarga di Jambi. (Dijual) sebesar Rp15 juta dengan dalih membantu keluarga yang 9 tahun belum punya anak,&#8221; kata Djuhandhani.<\/p>\n<p>Setelah NH menyerahkan Bilqis ke AS dan MA, ia pun melarikan diri ke Sukoharjo, Jawa Tengah.<\/p>\n<p>&#8220;Dan NH mengaku telah tiga kali menjadi perantara adopsi ilegal,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, AS dan MA mengaku membeli korban dari NH sebesar Rp30 juta.<\/p>\n<p>Kemudian, AS dan MA menjual korban kepada kelompok salah satu suku di Jambi seharga Rp80 juta.<\/p>\n<p>&#8220;Keduanya mengaku telah memperjualkan 9 bayi dan 1 anak melalui TikTok dan WA (WhatsApp)&#8221; imbuh Djuhandhani<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/476281?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH\u00a0 &#8211; Bilqis Ramdhani (4) menjadi korban penculikan di Taman Pakui Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (2\/11\/2025). Bilqis telah ditemukan di SPE Gading Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi, Sabtu (8\/11\/2025) lalu. Setelah itu, Bilqis dikembalikan kepada orang tuanya di Makassar, Minggu (9\/11\/2025). Satreskrim Polrestabes Makassar menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":476282,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420],"series":[],"class_list":["post-476281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/476281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=476281"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/476281\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/476282"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=476281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=476281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=476281"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=476281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}