{"id":477358,"date":"2025-11-18T16:20:00","date_gmt":"2025-11-18T09:20:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/11\/18\/duduk-perkara-pungli-ratusan-juta-terkuak-berkat-kasus-guru-banting-nasi-kotak-kepsek-dipecat\/"},"modified":"2025-11-18T16:22:35","modified_gmt":"2025-11-18T09:22:35","slug":"duduk-perkara-pungli-ratusan-juta-terkuak-berkat-kasus-guru-banting-nasi-kotak-kepsek-dipecat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/11\/18\/duduk-perkara-pungli-ratusan-juta-terkuak-berkat-kasus-guru-banting-nasi-kotak-kepsek-dipecat\/","title":{"rendered":"Duduk Perkara Pungli Ratusan Juta Terkuak Berkat Kasus Guru Banting Nasi Kotak, Kepsek Dipecat"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b> &#8211; Terungkap duduk perkara dugaan pungutan liar (pungli) ratusan juta di SD Negeri 021 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, terungkap<\/p>\n<p>Bermula ketika seorang guru honorer inisial YH viral gara-gara aksi melempar nasi kotak di depan para guru dan murid, tepat di halaman depan kelas, Senin (10\/11\/2025).<\/p>\n<p>Kejadian itu terjadi sesaat setelah kegiatan sosialisasi anti-perundungan yang diselenggarakan oleh Kejaksaan Negeri Kampar bersama Dinas Pendidikan setempat.<\/p>\n<p>Dalam video beredar, sejumlah siswa terlihat terdiam menyaksikan suasana tegang yang tiba-tiba pecah.<\/p>\n<p>\u201cNasi ini bukan nasi MBG. Tapi hadiah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar, setelah sosialisasi bullying,\u201d kata YH, dikutip SURYA.CO.ID dari Kompas.com.<\/p>\n<p>YH menjelaskan, tindakan membanting kotak makanan itu dipicu perbedaan pendapat mengenai cara pendistribusian nasi kotak.<\/p>\n<p>Ia mengusulkan pembagian dilakukan di dalam kelas agar lebih tertib, sementara beberapa guru lain mendesak agar makanan itu langsung dibagikan saat itu juga.<\/p>\n<p>\u201cAlasan kami membanting karena para guru meminta agar diberikan cepat. Setelah saya banting itu, guru tidak terima dengan sikap saya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pihak sekolah belum memberikan klarifikasi resmi ketika video tersebut menghebohkan dunia maya.<\/p>\n<p><b>Munculnya Dugaan Pungli<\/b><\/p>\n<p>Dua hari kemudian, tepatnya Rabu (12\/11\/2025), ratusan orang tua dan siswa mendatangi sekolah untuk menggelar demonstrasi yang awalnya menuntut penindakan atas perilaku guru yang dianggap tidak pantas.<\/p>\n<p>Namun protes tersebut justru berkembang menjadi pengungkapan dugaan pungutan liar (pungli) yang selama ini mereka rasakan.<\/p>\n<p>Dalam aksi terbuka itu, para wali murid mengungkapkan berbagai jenis pungutan, antara lain:<\/p>\n<p>Iuran tanah timbun: Rp 50.000 per orang tua<\/p>\n<p>Iuran penghijauan: Rp 35.000 per siswa<\/p>\n<p>Potongan Program Indonesia Pintar (PIP): Rp 50.000<\/p>\n<p>Pembelian buku Tes Kemampuan Akademik (TKA)<\/p>\n<p>Uang masuk sekolah tanpa kwitansi, nominal berbeda tiap anak<\/p>\n<p>Biaya seragam siswa baru antara Rp 1 juta \u2013 Rp 3 juta<\/p>\n<p>Seorang wali murid mengungkap bahwa total pungutan yang mereka keluarkan bisa mencapai jumlah yang sangat besar.<\/p>\n<p>\u201cJumlah siswa banyak di sini, ada 1.000. Jadi kalau dikumpulkan semua bisa ratusan juta,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cBelum lagi uang masuk murid baru dari satu juta sampai tiga juta. Alasannya untuk bayar seragam,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Wali murid lain, Elnawati, menyebut pungutan tersebut tidak pernah melalui mekanisme rapat komite.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada pertanggungjawaban. Rapat hanya formalitas saja,\u201d kata dia.<\/p>\n<p><b>Berujung Kepsek Dicopot<\/b><\/p>\n<p>Menanggapi protes besar-besaran tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar segera turun tangan.<\/p>\n<p>Kepala Disdik Kampar, Siti, menyampaikan keputusan tegas: Kepala Sekolah Aspinawati Harahap dicopot dari jabatannya. Ia dinilai menjalankan kepemimpinan yang arogan dan tidak transparan.<\/p>\n<p>\u201cKepala sekolah yang mengadu ke kami diintimidasi. Mau tidak mau, dengan berat hati saya sampaikan bahwa kepala sekolah dicopot dari jabatannya,\u201d ujar Siti pada Rabu (12\/11\/2025).<\/p>\n<p>Selain kepala sekolah, dua guru honorer juga diberhentikan:<\/p>\n<p>Yon Hendri \u2014 guru yang viral karena membanting nasi kotak<\/p>\n<p>Reza Arya Putra \u2014 guru honorer lain yang turut terseret dalam persoalan internal<\/p>\n<p>\u201cKami mendapat banyak keluhan dari wali murid terhadap kedua tenaga pendidik tersebut,\u201d tambah Siti.<\/p>\n<p>Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), SDN 021 Tarai Bangun memiliki 995 siswa: 505 laki-laki dan 490 perempuan.<\/p>\n<p>Pada tahun 2025, terdapat 226 penerima PIP dengan total dana Rp 75.825.000, turun dari tahun 2024 yang mencapai 267 penerima dengan anggaran Rp 117.900.000.<\/p>\n<p>Sebagai penulis, saya melihat kasus di SDN 021 Tarai Bangun bukan sekadar persoalan seorang guru yang tersulut emosi.<\/p>\n<p>Insiden pembantingan nasi kotak hanya menjadi pemicu yang membuka masalah yang jauh lebih besar.<\/p>\n<p>Reaksi cepat masyarakat menunjukkan bahwa isu pungli di sekolah bukan lagi hal sepele, terutama ketika menyentuh hak-hak dasar siswa.\u00a0<\/p>\n<p>Transparansi pengelolaan sekolah seharusnya menjadi prinsip wajib, bukan sekadar formalitas<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH &#8211; Terungkap duduk perkara dugaan pungutan liar (pungli) ratusan juta di SD Negeri 021 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, terungkap Bermula ketika seorang guru honorer inisial YH viral gara-gara aksi melempar nasi kotak di depan para guru dan murid, tepat di halaman depan kelas, Senin (10\/11\/2025). Kejadian itu terjadi sesaat setelah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":477359,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[1420,274908],"series":[],"class_list":["post-477358","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-peristiwa","tag-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/477358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=477358"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/477358\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/477359"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=477358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=477358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=477358"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=477358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}