{"id":483958,"date":"2025-12-26T15:49:00","date_gmt":"2025-12-26T08:49:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/12\/26\/habib-rizieq-shihab-sindir-pemerintah-malu-terima-bantuan-asing-tapi-ngutang-triliunan-nggak-malu\/"},"modified":"2025-12-27T00:36:59","modified_gmt":"2025-12-26T17:36:59","slug":"habib-rizieq-shihab-sindir-pemerintah-malu-terima-bantuan-asing-tapi-ngutang-triliunan-nggak-malu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2025\/12\/26\/habib-rizieq-shihab-sindir-pemerintah-malu-terima-bantuan-asing-tapi-ngutang-triliunan-nggak-malu\/","title":{"rendered":"Habib Rizieq Shihab Sindir Pemerintah Malu Terima Bantuan Asing, Tapi Ngutang Triliunan Nggak Malu!"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b> &#8211; Habib <a title=\"Rizieq Shihab\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/rizieq-shihab\/\">Rizieq Shihab<\/a> melontarkan kritik keras kepada pemerintah yang dinilai tidak konsisten dalam menangani bencana di wilayah Pulau Sumatera.<\/p>\n<p>Dalam ceramahnya, Habib Rizieq menyinggung soal keengganan pemerintah menerima bantuan asing, sementara di sisi lain tidak merasa malu ketika harus berutang ke negara lain dalam jumlah yang besar.<\/p>\n<p>\u201cJadi sekali lagi saudara, bencana nasional nggak usah malu. Ngucapin bencana nasional malu, jangan. Kalau ngutang boleh malu. Betul? (Betul!) Ngutang triliun-triliunan nggak malu, nerima bantuan malu,\u201d kata Habib Rizieq disambut respons jamaah, sebagaimana dikutip Jumat (26\/12).<\/p>\n<p>Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan standar ganda yang membingungkan publik. Ia menegaskan, penetapan status bencana nasional bukanlah aib bagi bangsa Indonesia, melainkan langkah penting agar penanganan bencana bisa dilakukan secara cepat dan maksimal.<\/p>\n<p>\u201cInsya Allah, kira-kira jelas nggak? (Jelas!) Jelas nggak? (Jelas!)\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Habib Rizieq kemudian menyinggung peristiwa tsunami yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1992. Menurutnya, saat itu pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto dengan cepat menyatakan status bencana nasional.<\/p>\n<p>\u201cTahun 1992, terjadi tsunami di Nusa Tenggara Timur, saudara. Begitu terjadi tsunami, Presiden Soeharto mendapatkan berita langsung diumumkan bencana nasional. Selesai!\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ia menekankan, setelah status bencana nasional ditetapkan, proses pemulihan berjalan tanpa banyak polemik.<\/p>\n<p>\u201cHanya dalam sekian minggu, selesai. Yang rusak dibangun kembali, jalan dibangun kembali, jembatan dibangun kembali, saudara. Selesai! Nggak ada ribet-ribet,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Habib Rizieq memberikan contoh lain, yakni terkait tsunami Aceh pada 2004. Ia mengingatkan bagaimana pemerintah saat itu langsung mengambil langkah cepat dengan menetapkan status bencana nasional.<\/p>\n<p>\u201cDi tahun 2004, saudara, terjadi tsunami di Aceh. Saudara, hari ini terjadi tsunami, saudara, malam itu juga diumumkan oleh Presiden SBY sebagai bencana nasional,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Menurut Habib Rizieq, keputusan tersebut berdampak besar terhadap derasnya bantuan internasional.<\/p>\n<p>\u201cBesoknya saudara, berton-ton bantuan datang dari semua negara. Selesai! Saya dengan kawan-kawan, 1300 laskar kita bawa dari Jakarta, saudara. Berangkat ke Aceh, ikut kerja, bantuan luber dari mana-mana, saudara,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia pun mempertanyakan kondisi saat ini ketika pemerintah menolak bantuan dengan alasan masih mampu. Padahal, banyak masyarakat di wilayah terdampak masih kekurangan logistik, air bersih hingga belum tersedianya aliran listrik<\/p>\n<p>Tapi sekarang, saudara, giliran ada mau bantuan bilangnya, &#8216;Nggak, kita masih mampu. Kita masih mampu.&#8217; Masih mampu dari mana mampu? Kalau mampu jembatan sudah beres. Kalau mampu tuh mayat udah selesai semua diangkat dalam waktu singkat. Betul? (Betul!)\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Habib Rizieq Shihab melontarkan kritik keras kepada pemerintah yang dinilai tidak konsisten dalam menangani bencana di wilayah Pulau Sumatera<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":483959,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,1420,62801],"series":[],"class_list":["post-483958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-peristiwa","tag-rizieq-shihab"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/483958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=483958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/483958\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/483959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=483958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=483958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=483958"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=483958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}