{"id":485001,"date":"2026-01-03T08:48:00","date_gmt":"2026-01-03T01:48:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/01\/03\/indonesia-kehilangan-peradaban\/"},"modified":"2026-01-03T18:28:25","modified_gmt":"2026-01-03T11:28:25","slug":"indonesia-kehilangan-peradaban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/01\/03\/indonesia-kehilangan-peradaban\/","title":{"rendered":"Indonesia Kehilangan Peradaban"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b> -Aktivis senior Adhie M Massardi menilai Indonesia saat ini berada dalam kondisi kehilangan peradaban. Menurutnya kunci utama sebuah peradaban bukan sekadar hukum tertulis melainkan etika dan moral yang seharusnya berada di atas segalanya.<\/p>\n<p>&#8220;Peradaban ditentukan oleh etika dan moral yang posisinya lebih tinggi dari hukum tertulis. Bahkan di Indonesia saat ini hukum tertulis saja tidak dijalankan,&#8221; kata Adhie saat berbincang dengan redaksi sesaat lalu, Jumat, 2 Desember 2026.<\/p>\n<p>Adhie menyoroti kenyataan bahwa di Indonesia hukum tertulis pun kerap tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Akibatnya, nilai-nilai kejujuran semakin tergerus dan kebohongan justru menjadi sesuatu yang dianggap wajar dalam kehidupan.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak ada kejujuran. Kebohongan menjadi hal yang lumrah, manipulatif, dan korupsi pun akhirnya dianggap biasa,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Adhie menilai praktik korupsi yang merajalela merupakan bukti nyata absennya keadaban dalam sistem bernegara. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan rapuhnya fondasi moral di berbagai level kekuasaan.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Adhie berpandangan bahwa perubahan tidak mungkin hanya mengandalkan kesadaran individu atau kelompok kecil dari bawah, seperti satu atau dua orang, apalagi hanya dari satu kelurahan.<\/p>\n<p>Karena itu, Adhie menegaskan perlunya kehadiran sebuah kekuatan yang beradab dan memiliki otoritas untuk memaksa berjalannya nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.<\/p>\n<p>&#8220;Harus ada kekuatan yang memaksa untuk kebaikan. Yang tidak baik harus dihukum,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/485001?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH -Aktivis senior Adhie M Massardi menilai Indonesia saat ini berada dalam kondisi kehilangan peradaban. Menurutnya kunci utama sebuah peradaban bukan sekadar hukum tertulis melainkan etika dan moral yang seharusnya berada di atas segalanya. &#8220;Peradaban ditentukan oleh etika dan moral yang posisinya lebih tinggi dari hukum tertulis. Bahkan di Indonesia saat ini hukum tertulis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":485002,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,418,367196,1420,242],"series":[],"class_list":["post-485001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-indonesia","tag-peradaban","tag-peristiwa","tag-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/485001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=485001"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/485001\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/485002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=485001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=485001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=485001"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=485001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}