{"id":487482,"date":"2026-01-15T07:53:00","date_gmt":"2026-01-15T00:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/01\/15\/gus-yaqut-dari-sinar-gemilang-hingga-berlabel-tersangka\/"},"modified":"2026-01-19T13:13:15","modified_gmt":"2026-01-19T06:13:15","slug":"gus-yaqut-dari-sinar-gemilang-hingga-berlabel-tersangka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/01\/15\/gus-yaqut-dari-sinar-gemilang-hingga-berlabel-tersangka\/","title":{"rendered":"Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka"},"content":{"rendered":"<p><em><b>Oleh: <\/b>Rosadi Jamani<\/em><\/p>\n<p><span class=\"dropcap\">B<\/span>AGAIMANA pun <a title=\"Yaqut Cholil Qoumas\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/yaqut-cholil-qoumas\/\">Yaqut Cholil Qoumas<\/a> alias Gus <a title=\"Yaqut\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/yaqut\/\">Yaqut<\/a> itu pernah menjadi menteri, tepatnya Menteri Agama. Sebuah karier dengan sinar gemilang. Jutaan orang menginginkan jabatan prestisius itu.<\/p>\n<p>Saya ingin mengulas perjalanan hidup Gus Yaqut sampai akhirnya menjadi tersangka.<\/p>\n<p>Publik memanggilnya Gus Yaqut, anak kiai, kader NU, aktivis pemuda, politisi, lalu Menteri Agama.<\/p>\n<p>Kariernya seperti tangga lurus ke atas, rapi, nyaris tanpa salah pijak. Sampai sejarah memutuskan menaruh cermin besar di ujung jalan.<\/p>\n<p>Gus Yaqut lahir di Rembang, Jawa Tengah, 4 Januari 1975, dari rahim keluarga pesantren.<\/p>\n<p>Ayahnya, KH Cholil Bisri, ulama NU berpengaruh sekaligus politisi PPP. Lingkungan ini membentuknya.<\/p>\n<p>Agama dan <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/politik\/\">Politik<\/a> bukan dua dunia terpisah, melainkan dua alur yang sejak awal saling menyilang. Ia menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro, tumbuh sebagai organisator, bukan akademisi sunyi.<\/p>\n<p>Namanya melesat lewat Gerakan Pemuda Ansor. Dari aktivis lapangan, ia naik menjadi Ketua Umum GP Ansor (2015-2019).<\/p>\n<p>Retorikanya kuat, sikapnya tegas, dan panggung publik menjadi habitat alaminya. Politik formal menyusul, Wakil Bupati Rembang, anggota DPR dari <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/pkb\/\">PKB<\/a> pada 2019, lalu meloncat ke kabinet sebagai Menteri Agama pada akhir 2020.<\/p>\n<p>Di kursi Menag, Gus Yaqut bukan hanya pengelola kebijakan. Ia juga pemberi petuah. Pada Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2021, ia berdiri di hadapan kamera dengan nada tenang, hampir seperti khutbah.<\/p>\n<p>\u201cKorupsi adalah musuh bersama, karena itu perlu gerakan bersama dan terpadu dalam membangun budaya anti korupsi,\u201d kata Gus Yaqut.<\/p>\n<p>\u201cPendidikan keluarga adalah pondasi awal menanamkan karakter anti korupsi, kejujuran, kesederhanaan, dan budaya malu melakukan kesalahan.\u201d<\/p>\n<p>Pidato itu ditutup rapi, dengan identitas jabatan yang penuh wibawa:<\/p>\n<p>\u201cSaya Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Agama Republik Indonesia, mengucapkan selamat Hari Anti Korupsi Sedunia.\u201d<\/p>\n<p>Kala itu, kata-kata itu terdengar seperti doa yang aman. Tidak menyinggung siapa pun. Tidak menuding siapa pun.<\/p>\n<p>Ia mengalir lembut, nyaris suci. Namun waktu punya kebiasaan kejam, ia memutar ulang pidato lama dengan konteks baru.<\/p>\n<p>Tahun 2024, persoalan kuota haji tambahan datang seperti ujian yang tak tercantum di naskah pidato.<\/p>\n<p>Pansus Haji DPR menemukan pembagian kuota yang dinilai menyimpang, lebih berpihak ke haji khusus ketimbang jemaah reguler.<\/p>\n<p>Kementerian Agama berada di pusat sorotan, dan nama Gus Yaqut berdiri di depan pintu pertanggungjawaban.<\/p>\n<p>Ketika DPR memanggil, publik menunggu. Namun pada saat politik menuntut kehadiran, Gus Yaqut justru berada di luar negeri.<\/p>\n<p>Dalih administratif ada, tetapi kesan publik terlanjur tercetak, menjauh dari forum pertanyaan. Dari sini, kisah mulai bergeser dari panggung moral ke ruang penyelidikan.<\/p>\n<p>Masuklah <a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/kpk\/\">KPK<\/a>. Dokumen dibuka, alur kebijakan ditelusuri, dugaan aliran dana diperiksa. Hingga suatu hari, negara berbicara dengan bahasa paling dingin, status tersangka.<\/p>\n<p>Di sinilah pidato anti-korupsi itu kembali muncul di linimasa. Diputar, dibagikan, diberi teks tambahan. Bukan lagi sebagai nasihat, melainkan cermin.<\/p>\n<p>Kalimat tentang \u201cbudaya malu\u201d kini berdiri berhadap-hadapan dengan dugaan pelanggaran. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan: kata-kata selalu menunggu diuji oleh kekuasaan.<\/p>\n<p>Gus Yaqut sebelumnya menyatakan tidak menikmati uang dari kuota haji itu, tidak memakan sepeser pun.<\/p>\n<p>Klaim tersebut kini berada di wilayah hukum, bukan di wilayah retorika. Di sana, pidato tak lagi cukup. Yang berbicara hanyalah bukti.<\/p>\n<p>Perjalanan ini akhirnya sampai di titik sunyi. Dari anak kiai, aktivis NU, Menteri Agama yang pernah menyerukan kejujuran, hingga tersangka dalam perkara haji, ibadah yang seharusnya paling bersih dari tawar-menawar dunia.<\/p>\n<p>Sejarah sedang menunggu putusan. Pidato itu, yang dulu terasa aman, kini menggantung di udara, sebagai pertanyaan yang belum selesai dijawab.<\/p>\n<p>(Ketua Satupena Kalbar)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana pun Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut itu pernah menjadi menteri, tepatnya Menteri Agama<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":487484,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[37],"tags":[325476,37201,6769,308923,15416],"series":[],"class_list":["post-487482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-eks-menteri-agama","tag-haji-indonesia","tag-korupsi","tag-korupsi-kuota-haji","tag-yaqut-cholil-qoumas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/487482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=487482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/487482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/487484"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=487482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=487482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=487482"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=487482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}