{"id":492225,"date":"2026-02-21T14:29:00","date_gmt":"2026-02-21T07:29:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/02\/21\/viral-bocah-12-tahun-di-sukabumi-meninggal-penuh-luka-bakar-mengaku-dianiaya-ibu-tiri\/"},"modified":"2026-02-21T22:57:38","modified_gmt":"2026-02-21T15:57:38","slug":"viral-bocah-12-tahun-di-sukabumi-meninggal-penuh-luka-bakar-mengaku-dianiaya-ibu-tiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/02\/21\/viral-bocah-12-tahun-di-sukabumi-meninggal-penuh-luka-bakar-mengaku-dianiaya-ibu-tiri\/","title":{"rendered":"Viral Bocah 12 Tahun di Sukabumi Meninggal Penuh Luka Bakar, Mengaku Dianiaya Ibu Tiri"},"content":{"rendered":"<p><b>BANDA ACEH<\/b> &#8211; Media sosial dihebohkan dengan beredarnya video seorang <a title=\"bocah\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/bocah\/\">bocah<\/a> laki-laki berinisial NS (12), asal Jampang Kulon, Kabupaten <a title=\"Sukabumi\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/sukabumi\/\">Sukabumi<\/a>, Jawa Barat, yang terbaring di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.<\/p>\n<p>Dalam video yang viral tersebut, NS mengaku mengalami penganiayaan oleh ibu tirinya.<\/p>\n<p>Namun hingga kini, penyebab pasti kematiannya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium pascaautopsi.<\/p>\n<p>Kasus ini terungkap lewat sebuah vidediunggah akun Instagram @aniiammar dan telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali.<\/p>\n<p>Dalam rekaman tersebut, terlihat luka menyerupai luka bakar di sejumlah bagian tubuh korban, termasuk wajah.<\/p>\n<p>Seorang pria berbaju hijau yang berada di lokasi menanyakan siapa yang melakukan hal tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang melakukan ini?\u201d tanyanya.<\/p>\n<p>, Alami Luka di Telinga hingga Punggung<\/p>\n<p>\u201cSama Mamah,\u201d jawab NS lirih sambil menunjuk ke arah wajahnya.<\/p>\n<p>Ayah kandung korban, Anwar Satibi, yang berada di samping tempat tidur, terlihat emosional dan sempat terjadi kericuhan sebelum akhirnya dilerai.<\/p>\n<p>Melihat kericuhan, pria berbaju hijau menenangkan keduanya.<\/p>\n<p>\u201cKalian diam, jangan ribut di sini. Kalian enggak tahu, ada kepolisian di sini, dan banyak orang yang dirawat,\u201d tegas pria itu.<\/p>\n<p>\u201cTega kamu ya sama anak saya,\u201d balas Anwar Satibi sambil menangis.<\/p>\n<p>Setelah suasana mereda, pria berbaju hijau kembali menanyakan kronologi luka bakar pada NS.<\/p>\n<p>\u201cIni kaki sama tangan kamu diapain, nak, sama mamah?\u201d tanya pria tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSaya enggak tahu, karena pas kejadian saya sudah enggak sadar,\u201d jawab NS perlahan, diduga akibat bagian tubuhnya dipaksa untuk mengonsumsi air panas oleh ibu tirinya.<\/p>\n<p>Berikut sejumlah fakta terkait meninggalnya NS dengan luka di sekujur tubuhnya, dirangkum dari pemberitaan Kompas.com, Sabtu (21\/2\/2026):<\/p>\n<h3>1<b>. Pernah Mengalami Kekerasan pada 2025<\/b><\/h3>\n<p>Ayah korban, Anwar Satibi (38), mengungkapkan bahwa anaknya pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada 2025 yang diduga dilakukan oleh ibu tirinya.<\/p>\n<p>\u201cIni (KDRT) sudah pernah terjadi cuma dimediasi. Dia (istri Anwar) sujud ke saya jangan lapor, mamah mau tobat. Akhirnya terjadi perdamaian. Sebetulnya laporan saya di polres belum dicabut,\u201d ujar Anwar.<\/p>\n<p>Sebelumnya, NS sempat dibawa ke Rumah Sakit Jampang Kulon pada Kamis (20\/2\/2026) pagi dan dinyatakan meninggal dunia pada Kamis sore.<\/p>\n<p>Setelah itu, jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi pada Jumat (20\/2\/2026) dini hari untuk dilakukan autopsi.<\/p>\n<p>Hingga kini, penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium pascaautopsi.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Anwar, Ayah korban mengatakan saat ini dirinya tengah mencari kejelasan penyebab kematian sang anak.<\/p>\n<p>Luka menyerupai luka bakar yang terdapat di sekujur tubuh korban menimbulkan dugaan adanya kekerasan kembali.<\/p>\n<p>\u201cMakanya saya mendorong untuk melakukan autopsi. Intinya saya tidak bisa menuduh dan memfitnah. Tapi karena saya ingin tahu, ingin memastikan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<h3><b>2. Anggota Tubuh Banyak Luka Bakar<\/b><\/h3>\n<p>Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri mengungkap hasil otopsi terhadap NS, bocah laki-laki berusia 12 tahun.<\/p>\n<p>Kepala RS Bhayangkara Setukpa, Kombes Pol dr. Carles Siagian, mengungkapkan bahwa tim forensik menemukan adanya sejumlah luka bakar pada tubuh korban.<\/p>\n<p>Luka tersebut tersebar di beberapa bagian anggota gerak hingga area wajah.<\/p>\n<p>\u201cDari hasil ditemukan, anak-anak usia 12 tahun dengan luka bakar di anggota gerak di kaki kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung dan luka bakar, juga ada di area bibir dan hidung yang diduga karena luka bakar,\u201d kata Carles Siagian kepada awak media di RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi, Jumat (20\/2\/2026) siang.<\/p>\n<h3><b>3. Penyebab Luka Masih Teka-teki\u00a0<\/b><\/h3>\n<p>Meski menemukan luka bakar, pihak rumah sakit belum bisa memastikan penyebab pasti munculnya luka tersebut, apakah akibat tindakan kekerasan atau faktor ketidaksengajaan.<\/p>\n<p>\u201cKami tidak bisa menyebutkan apakah itu kekerasan atau bukan. Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar,\u201d tambah Carles Siagian.<\/p>\n<p>Hingga saat ini, tim forensik masih melakukan pendalaman dan belum berani menyimpulkan apakah luka-luka tersebut merupakan hasil dari sebuah penganiayaan.<\/p>\n<p>\u201cNamun dokter forensik belum bisa memutuskan apakah ini sebuah penganiayaan atau bukan,\u201d lanjut Carles.<\/p>\n<h3><b>4. Sampel Organ Dibawa ke Jakarta<\/b><\/h3>\n<p>Carles menerangkan bahwa secara medis, luka bakar yang diderita NS seharusnya tidak menjadi penyebab tunggal kematiannya.<\/p>\n<p>Untuk mendapatkan kepastian, tim dokter melakukan pemeriksaan dalam dan mengambil sampel sejumlah organ untuk dibawa ke laboratorium di Jakarta.<\/p>\n<p>Langkah ini diambil untuk mengecek kemungkinan adanya zat asing atau penyakit bawaan yang memicu kematian korban secara mendadak.<\/p>\n<p>\u201cPenyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian. Sudah dilakukan pemeriksaan dalam, organ-organ diotopsi, kita melakukan pemeriksaan laboratorium dan mengirimkan ke Jakarta. Kami sedang menunggu hasil untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ,\u201d tegas Carles.<\/p>\n<p>Proses otopsi sendiri berlangsung selama 2,5 sampai 3 jam. Tim medis memerlukan waktu sekitar 5 hingga 7 hari untuk menunggu hasil uji laboratorium keluar.<\/p>\n<h3><b>5. Jantung dan Paru-paru Alami Pembengkakan<\/b><\/h3>\n<p>Adapun organ yang menjadi fokus pemeriksaan laboratorium adalah jantung dan paru-paru karena ditemukan adanya pembengkakan.<\/p>\n<p>\u201cJantung, paru-paru, karena ada sedikit membengkak. Belum tau apakah itu karena korban punya penyakit sebelumnya atau tidak,\u201d ujar Carles<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Media sosial dihebohkan dengan beredarnya video seorang bocah laki-laki berinisial NS (12), asal Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang terbaring di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":492226,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[274908,368437,243,1420,368436],"series":[],"class_list":["post-492225","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-berita","tag-bocah-tewas-disiksa","tag-hukum","tag-peristiwa","tag-viral-bocah-tewas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/492225","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=492225"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/492225\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/492226"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=492225"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=492225"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=492225"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=492225"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}