{"id":498502,"date":"2026-04-14T20:30:00","date_gmt":"2026-04-14T13:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/04\/14\/proyek-it-misterius-rp12-triliun-bgn\/"},"modified":"2026-04-15T04:58:19","modified_gmt":"2026-04-14T21:58:19","slug":"proyek-it-misterius-rp12-triliun-bgn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/04\/14\/proyek-it-misterius-rp12-triliun-bgn\/","title":{"rendered":"Proyek IT Misterius Rp1,2 Triliun BGN"},"content":{"rendered":"<p><b>Oleh:Agustinus Edy Kristianto<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0 \u00a0<\/b><\/p>\n<p>KITA lanjut kupas dugaan skandal keuangan negara di Badan Gizi Nasional (BGN).<\/p>\n<p>Yang ramai dibahas sebelumnya tentang pengadaan barang dan jasa di BGN 2025 &#8212; yaitu motor listrik Emmo (pagu Rp2,4 triliun), alat makan SPPG Yogyakarta (pagu Rp4,19 triliun), jasa EO (Rp113 miliar), dan kaos kaki (Rp6,9 miliar) &#8212; memang fakta. Bukan hoaks. Bukan omon-omon!<\/p>\n<p>Jika semua pengadaan itu menggunakan metode e-purchasing, sekarang kita bahas yang metodenya Penunjukan Langsung.<\/p>\n<p>Hasil &#8220;blusukan&#8221; digital saya di portal pengadaan menemukan dua paket pekerjaan jumbo di BGN yang mencurigakan. Kronologinya begini. Sekalian kita endus cara mainnya:<\/p>\n<p>September 2025: &#8220;Penguncian&#8221; di SIRUP<\/p>\n<p>BGN mendaftarkan dua paket jasa IT skala nasional di sistem SIRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan) LKPP (Kode RUP 60685370 &#038; 60685000):<\/p>\n<p>Paket A: Managed Service IT &#038; IoT di 5.000 lokasi (Rp665,4 Miliar).<\/p>\n<p>Paket B: Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (Rp600 Miliar).<\/p>\n<p>Total Rp1,2 triliun. Untuk pelaksanaan tiga bulan (Oktober-Desember 2025).<\/p>\n<p>Lihat: sejak awal, metode yang dipilih adalah Penunjukan Langsung. Proyek triliunan tapi tidak ditender? Siapa &#8220;pemain tunggal&#8221; yang begitu sakti sampai tidak butuh kompetisi? Sedarurat apa sehingga menjelang akhir tahun anggaran bikin pengadaan raksasa begini?<\/p>\n<p>Secara aturan (Perpres 12\/2021), Penunjukan Langsung Jasa Lainnya di atas Rp200 juta hanya boleh untuk kondisi tertentu (misal: penyedia tunggal, rahasia negara, atau mendesak akibat bencana). Proyek penunjukan langsung Rp1,2 triliun adalah anomali yang bagi saya sangat ekstrem.<\/p>\n<p>Desember 2025: Status &#8220;Selesai&#8221; tapi Vendor Misterius<\/p>\n<p>Saya cek Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) Inaproc untuk memantau pelaksanaannya. Ternyata kedua paket (kode 10519612000 dan 10519550000) ini dinyatakan &#8220;Sudah Selesai&#8221; per 31 Desember 2025. Jenis pengadaannya kategori Jasa Lainnya.<\/p>\n<p>Status &#8220;Selesai&#8221; di SPSE berarti BAST (Berita Acara Serah Terima) sudah diteken. Artinya, pekerjaan diklaim beres 100% tepat sebelum tutup tahun anggaran. Paket tidak dibatalkan! Tapi lihat:<\/p>\n<p>Saat tab &#8220;Pemenang Berkontrak&#8221; diklik: Kosong. Tidak ada nama PT, tidak ada alamat, tidak ada NPWP. Nilai Realisasi di sistem: Rp0,00.<\/p>\n<p>Logikanya: Pekerjaan sudah selesai, tapi siapa yang mengerjakan? Dan kalau realisasinya Rp0, apakah vendornya kerja bakti? Atau uangnya sudah cair &#8220;di bawah meja&#8221; tapi laporannya disembunyikan dari publik? Jika BAST ada tapi pembayaran di dashboard masih Rp0, ini adalah indikasi kuat &#8220;pengamanan&#8221; anggaran akhir tahun.<\/p>\n<p>April 2026: Jejak yang Tertinggal di Dashboard Monitoring<\/p>\n<p>Saya cek ke dashboard monitoring Inaproc. Ternyata angka Rp1,27 Triliun (akumulasi dua paket tadi) masih nangkring di kolom &#8220;Belum Terealisasi&#8221;.<\/p>\n<p>Ini kontradiksi total! Di SPSE dibilang &#8220;Selesai&#8221;, tapi di dashboard pengawasan dibilang &#8220;Belum Terealisasi&#8221;.<\/p>\n<p>FYI: Data realisasi RUP di BGN 2025 nilai totalnya Rp6,3 triliun. Berdasarkan jenis pengadaannya, yang terbesar adalah untuk Jasa Lainnya yakni Rp4,53 triliun.<\/p>\n<p>Saya kira perkaranya terang benderang: Mengapa proyek IT triliunan untuk 5.000 lokasi dan Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional dilakukan dengan Penunjukan Langsung? Apa justifikasi daruratnya?<\/p>\n<p>Siapa vendor di balik tab kosong itu? Untuk proyek bernilai triliunan rupiah, mengapa identitas vendornya justru disembunyikan, padahal statusnya sudah selesai &#8212; berbeda dengan paket Rp20 jutaan yang nama vendornya dipampang jelas?<\/p>\n<p>Jika status sudah &#8220;Selesai&#8221; per 31 Desember tapi realisasi tercatat &#8220;Rp0&#8221;, apakah ini trik administratif agar anggaran tidak hangus (SiLPA)?<\/p>\n<p>Kalau nanti ada yang ngeles &#8220;itu cuma masalah sinkronisasi sistem&#8221;, apakah sinkronisasi data semudah itu butuh waktu sampai empat bulan? Dan apa hubungannya sinkronisasi sistem keuangan dengan dihapusnya nama vendor di portal publik?<\/p>\n<p>Transparansi bukan pilihan, itu kewajiban. Uang rakyat Rp1,26 triliun bukan angka receh untuk dikelola secara gaib.<\/p>\n<p>Supaya APBN tidak semakin berdarah, harusnya distop dulu seluruh belanja pengadaan di BGN (Tahun 2026, pagu belanja pengadaan BGN Rp260,8 triliun) sampai semua dugaan skandal tahun 2025 itu diusut dan &#8212; jika perlu &#8212; lembaganya dibubarkan.<\/p>\n<p>Terakhir, saya kutipkan salah satu kalimat presiden Anda yang diucapkan berapi-api pada tahun lalu:<\/p>\n<p>&#8220;Hai kalian-kalian yang di dalam lembaga-lembaga pemerintah, kalian digaji oleh rakyat, saya katakan hentikan korupsimu, hentikan! Kalian mencuri uang rakyat. Hentikan! Dan saya minta dihentikan secepat-cepatnya!&#8221;\u00a0<\/p>\n<p>Mantan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh:Agustinus Edy Kristianto \u00a0 \u00a0 KITA lanjut kupas dugaan skandal keuangan negara di Badan Gizi Nasional (BGN). Yang ramai dibahas sebelumnya tentang pengadaan barang dan jasa di BGN 2025 &#8212; yaitu motor listrik Emmo (pagu Rp2,4 triliun), alat makan SPPG Yogyakarta (pagu Rp4,19 triliun), jasa EO (Rp113 miliar), dan kaos kaki (Rp6,9 miliar) &#8212; memang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":498503,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[37],"tags":[312152,369537,369538],"series":[],"class_list":["post-498502","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-mbg","tag-proyek-it","tag-bgm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/498502","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=498502"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/498502\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/498503"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=498502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=498502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=498502"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=498502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}