{"id":499421,"date":"2026-04-18T15:49:54","date_gmt":"2026-04-18T08:49:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=499421"},"modified":"2026-04-21T06:49:54","modified_gmt":"2026-04-20T23:49:54","slug":"tol-getaci-gagal-lelang-dua-kali-pemerintah-perlu-ubah-strategi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/04\/18\/tol-getaci-gagal-lelang-dua-kali-pemerintah-perlu-ubah-strategi\/","title":{"rendered":"Tol Getaci Gagal Lelang Dua Kali, Pemerintah Perlu Ubah Strategi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>JAKARTA<\/strong> &#8211; Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (<a title=\"PUKIS\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/pukis\/\">PUKIS<\/a>) menyoroti mandeknya pembangunan <a title=\"Proyek Strategis Nasional\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/proyek-strategis-nasional\/\">Proyek Strategis Nasional<\/a> (<a title=\"PSN\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/psn\/\">PSN<\/a>) Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap atau <a title=\"Tol Getaci\" href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/tag\/tol-getaci\/\">Tol Getaci<\/a>. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cProyek ini sudah dua kali gagal lelang. Proyeknya tidak laku, kurang menarik di mata investor, karena itu pemerintah harus mengubah strategi pembangunan,\u201d ujar Direktur Eksekutif PUKIS M. M. Gibran Sesunan, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (18\/4) kemarin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai catatan, Tol Getaci sebetulnya telah mendapatkan investor pada proses lelang yang pertama, namun konsorsium pemenang lelang tersebut gagal memenuhi kewajiban pembiayaan proyek (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">financial close<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) sehingga pemerintah terpaksa melakukan lelang ulang, namun tidak berhasil menggaet investor pada saat lelang yang kedua. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, PUKIS mempertanyakan langkah dan mitigasi yang disiapkan pemerintah demi keberlanjutan proyek ini. \u201cPemerintah mestinya memiliki rencana alternatif untuk Tol Getaci. Percuma terus-menerus dilelang ulang jika tidak ada perubahan strategi pembangunan dan pengusahaan jalan tol ini,\u201d kata Gibran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gibran menerangkan, gagal lelang ini berdampak serius terhadap keberlangsungan proyek strategis yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah ini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, investor diperlukan untuk membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang bertugas membangun, mengembangkan, dan mengoperasikan ruas ini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">K<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">eberadaan BUJT sangat krusial karena mereka bertanggung jawab menyusun perencanaan teknis yang menjadi dasar pelaksanaan konstruksi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, BUJT juga bertugas menyiapkan dana talangan dalam pengadaan tanah dalam hal anggaran pemerintah belum siap atau belum bisa dicairkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gibran menuturkan sejumlah alasan proyek jalan tol terpanjang di Indonesia ini kurang diminati investor. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, biaya investasinya sangat tinggi sementara proyeksi lalu lintas jalan tol ini terlampau rendah. Akibatnya, pendapatan dari tarif tol menjadi tidak signifikan bagi badan usaha. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PUKIS memperkirakan, proyeksi lalu lintas dari Gedebage hingga Tasikmalaya sebetulnya masih tinggi, namun volume kendaraan dari Tasikmalaya ke Cilacap kemungkinan akan sangat rendah. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHal ini tentu mempengaruhi tingkat kelayakan proyek sehingga calon investor akan berhitung ulang soal pengembalian investasinya,\u201d terang Gibran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, iklim investasi di bidang infrastruktur memang sedang lesu. Kondisi perekonomian yang tidak menentu membuat calon investor memilih bermain aman. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, proyek infrastruktur termasuk berisiko tinggi, memerlukan modal yang besar, dan pengembalian investasinya pun jangka panjang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi, pasar sepertinya melihat infrastruktur tidak lagi menjadi fokus utama pemerintahan saat ini, tercermin dari anggaran infrastruktur yang kian menyusut dalam APBN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai rekomendasi, PUKIS menyampaikan beberapa opsi agar proyek Tol Getaci ini dapat berjalan. Alternatif pertama, pemerintah berpartisipasi secara langsung dalam pembangunan melalui skema dukungan konstruksi (dukon). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan skema ini, pemerintah dan badan usaha berbagi beban anggaran dan pelaksanaan konstruksi sehingga hitung-hitungan biaya investasi menjadi lebih masuk akal bagi investor. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skema ini sudah diterapkan pada berbagai proyek jalan tol, di antaranya ruas Semarang-Demak dan Serang-Panimbang yang saat ini juga sedang dibangun.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_499423\" aria-describedby=\"caption-attachment-499423\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-499423 size-full\" title=\"Tol Getaci. FOTO\/Dok. Kementerian PU. \u24b8 Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU.jpg\" alt=\"Tol Getaci. FOTO\/Dok. Kementerian PU. \u24b8 Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto\" width=\"1200\" height=\"514\" srcset=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU.jpg 1200w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU-830x356.jpg 830w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU-768x329.jpg 768w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU-750x321.jpg 750w, https:\/\/www.harianaceh.co.id\/media\/2026\/04\/Tol-Getaci-1-Courtesy-Kementerian-PU-1140x488.jpg 1140w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-499423\" class=\"wp-caption-text\">Tol Getaci. FOTO\/Dok. Kementerian PU. \u24b8 Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun demikian, Gibran pesimistis soal komitmen anggaran dari pemerintah untuk memberikan dukungan konstruksi karena anggaran infrastruktur di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sangat minim dan prioritasnya bukan untuk jalan tol. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi, Kementerian Pekerjaan Umum belum lama ini menyatakan bahwa pemerintah tidak akan lagi memberikan dukungan konstruksi pada proyek-proyek KPBU.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alternatif kedua, Presiden dapat memerintahkan badan pengelola investasi milik negara, baik Danantara ataupun INA, untuk \u201cturun gunung\u201d dan masuk ke proyek ini, misalnya dengan menginisiasi dan memimpin konsorsium untuk mengikuti proses lelang berikutnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gibran berpendapat, pemerintah telah menawarkan Tol Getaci kepada publik dan dunia usaha, artinya proyek ini dianggap menguntungkan secara komersial. Karena itu Danantara atau INA mestinya turut berpartisipasi menyukseskan proyek ini ketika tidak ada investor lain yang masuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alternatif ketiga adalah merevisi lingkup pengusahaan jalan tol. Caranya dengan membelah ruas Tol Getaci yang terlalu panjang menjadi dua, yakni Tol Gedebage-Tasikmalaya dan Tol Tasikmalaya-Cilacap. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua ruas ini kemudian dilelang dalam dua paket yang berbeda sehingga biaya investasi setiap paketnya menjadi tidak terlalu besar dan tidak memberatkan investor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gibran berpandangan, revisi lingkup pengusahaan jalan tol akan bermanfaat bagi keberlanjutan proyek karena Tol Gedebage-Tasikmalaya lebih mudah dijual kepada investor mengingat kondisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">existing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> maupun potensi lalu lintas yang tinggi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika permintaan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">demand<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) pada ruas Gedebage-Tasikmalaya sudah terbentuk, pemerintah nantinya akan lebih mudah menawarkan ruas Tasikmalaya-Cilacap kepada investor karena konektivitas dan bangkitan lalu lintas sudah semakin baik dan aktivitas perekonomian di sekitar juga sudah lebih menggeliat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIntinya harus ada terobosan dari pemerintah untuk Tol Getaci. Jangan hanya bolak-balik lelang-gagal-lelang-gagal tanpa ada kemajuan yang berarti. Tidak apa-apa jika pembangunan difokuskan sampai Tasikmalaya terlebih dahulu ketimbang stagnan seperti sekarang ini,\u201d pungkas Gibran. ***<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menyoroti mandeknya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap atau Tol Getaci.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":499422,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[34],"tags":[62949,369640,8646,11841],"series":[],"class_list":["post-499421","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-psn","tag-tol-getaci","tag-jalan-tol","tag-proyek-strategis-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/499421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=499421"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/499421\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/499422"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=499421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=499421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=499421"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=499421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}