{"id":501499,"date":"2026-05-04T16:20:56","date_gmt":"2026-05-04T09:20:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/?p=501499"},"modified":"2026-05-04T16:20:56","modified_gmt":"2026-05-04T09:20:56","slug":"bloh-apui-leukeun-jadi-ajang-konfrensi-ilmiah-di-ui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/2026\/05\/04\/bloh-apui-leukeun-jadi-ajang-konfrensi-ilmiah-di-ui\/","title":{"rendered":"Bloh Apui Leukeun Jadi Ajang Konfrensi Ilmiah di UI"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Muhammad Fadli Muslimin, M.A. dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh berpartisipasi dalam International Research Symposium: <em>Sensing Space, Ritual &amp; Economy<\/em> yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia pada 27\u201328 April 2026 di Depok.<\/p>\n<p>Melalui forum ini, ia menghadirkan kajian tentang <em>Bloh Apui<\/em> sebagai bagian dari diskursus akademik yang membahas relasi antara ruang, ritual, serta dinamika sosial dan ekonomi dalam kebudayaan.<\/p>\n<p>Simposium tersebut mempertemukan akademisi dari berbagai institusi nasional dan internasional, di antaranya University of Southern California, Cornell University, serta peneliti dari KITLV Belanda, dengan beragam topik kajian yang mencerminkan luasnya spektrum penelitian budaya.<\/p>\n<p>Dalam forum tersebut, Muhammad Fadli Muslimin mempresentasikan kajian tentang <em>Bloh Apui<\/em> melalui paparan berjudul <em>\u201cRituals in the Performing Arts: The Structure and Function of Bloh Apui, West Aceh.\u201d<\/em> Melalui paparan tersebut, ia berupaya menghadirkan praktik budaya lokal Aceh Barat ke dalam ruang diskursus internasional.<\/p>\n<p>Dalam penjelasannya, ia mengkaji <em>Bloh Apui<\/em> sebagai praktik budaya yang tidak hanya berwujud pertunjukan, tetapi juga mengandung dimensi ritual, spiritual, dan sosial yang terintegrasi dalam kehidupan masyarakat. Ia menempatkan tradisi tersebut sebagai bagian dari sistem nilai yang hidup dan diwariskan secara berkelanjutan di Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Samatiga.<\/p>\n<p>Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan kritis terkait eksistensi seni Bloh Apui. Seorang mahasiswa pascasarjana Filologi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menanyakan korelasi antara ritual dalam seni tersebut dengan catatan dalam manuskrip kuno Aceh.<\/p>\n<p>Sementara itu, peneliti dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Belanda menyoroti dampak penetapan Bloh Apui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) bagi masyarakat Aceh Barat. Meski menilai penetapan tersebut berdampak positif bagi kemajuan seni tradisi, ia menekankan pentingnya kebermanfaatan nyata bagi masyarakat lokal.<\/p>\n<p>Menanggapi hal tersebut, Muhammad Fadli Muslimin menjelaskan bahwa besarnya atensi dan dukungan masyarakat Aceh Barat menjadi modal utama agar kesenian ini mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan daerah. Ia memandang dukungan tersebut sebagai faktor utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus membuka peluang pengembangannya dalam konteks sosial, budaya, dan ekonomi.<\/p>\n<p>Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat juga sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Muhammad Fadli Muslimin tersebut, dimana riset tentang bloh apui yang sebelumnya telah menjadi kajian ilmiah sebagai salah satu syarat kelengkapan usulan pendaftaran WBTbI dan dapat ditetapkan sebagai WBTb dari Aceh Barat. Mempresentasikan tentang bloh apui dalam simposium internasional menjadi sebuah kesempatan yang sangat baik untuk mengenalkan bloh apui ke dalam forum yang lebih luas.<\/p>\n<p>\u201cKami atas nama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat sangat mengapresiasi atas langkah yang dilakukan oleh bapak Muhammad Fadli Muslimin yang membawa hasil kajian Bloh Apui ke dalam forum internasional\u201d ucap Teuku Putra Azmisyah, SE. selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat.<\/p>\n<p>Sementara itu, Tgk. Marzuki HS, maestro <em>Bloh Apui<\/em> yang berdomisili di Gampong Leukeun, Aceh Barat, mengetahui informasi mengenai presentasi tersebut dari masyarakat sekitar serta pihak-pihak yang terlibat. Ia menyampaikan apresiasi atas upaya yang dilakukan oleh Muhammad Fadli Muslimin dalam memperkenalkan <em>Bloh Apui<\/em> melalui forum akademik internasional.<\/p>\n<p>Ia juga menyampaikan penghargaan kepada berbagai pihak yang selama ini memberikan perhatian terhadap pelestarian <em>Bloh Apui<\/em>, termasuk dukungan dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat. Menurutnya, kegiatan dokumentasi, pendataan, dan penelitian memiliki peran penting dalam memperluas akses informasi serta memperkuat upaya pelestarian.<\/p>\n<p>Melalui partisipasi tersebut, Muhammad Fadli Muslimin menunjukkan bahwa praktik budaya lokal seperti <em>Bloh Apui<\/em> memiliki relevansi untuk dikaji dalam perspektif akademik global. Ia sekaligus menegaskan bahwa tradisi lokal dapat terus berkembang dalam ruang diskursus yang lebih luas tanpa melepaskan akar nilai yang melatarbelakanginya.[]<\/p>\n<p><strong>Editor<\/strong> : Biro Meulaboh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"pdfprnt-buttons pdfprnt-buttons-post pdfprnt-bottom-right\"><a href=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/501499?print=print\" class=\"pdfprnt-button pdfprnt-button-print\" target=\"_blank\" ><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/apps\/pdf-print\/images\/print.png\" alt=\"image_print\" title=\"Print Content\" \/><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Muhammad Fadli Muslimin, M.A. dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh berpartisipasi dalam International Research Symposium: Sensing Space, Ritual &amp; Economy yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia pada 27\u201328 April 2026 di Depok. Melalui forum ini, ia menghadirkan kajian tentang Bloh Apui sebagai bagian dari diskursus akademik yang membahas relasi antara ruang, ritual, serta dinamika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":501500,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":"","_disable_autopaging":false},"categories":[35],"tags":[89,369281,64801,5571],"series":[],"class_list":["post-501499","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-aceh-barat","tag-bloh-apui","tag-simposium","tag-ui"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/501499","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/comments?post=501499"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/posts\/501499\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media\/501500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/media?parent=501499"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/categories?post=501499"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/tags?post=501499"},{"taxonomy":"series","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.harianaceh.co.id\/aplikasi-api\/wp\/v2\/series?post=501499"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}